
Hans dan Sela berlalu meninggalkan kamar setelah menghabiskan waktu mereka berdua. Mereka duduk di meja makan sembari menunggu Alvin dan Lukman keluar dari kamar mereka masing-masing.
Alvin keluar dari kamarnya dan melangkah menuju meja makan. Tatapannya terlihat sedikit tajam sembari memperhatikan mimik wajah keponakannya yang terlihat berseri-seri.
"Kapan kalian pulang?" tanya Alvin sembari menarik kursi yang akan dia duduki.
"Sudah dari kemarin sore Om, Sela merasa kelelahan jadi tertidur hingga malam." sahut Sela sembari menundukkan kepalanya.
"Oh, Om kira kalian tidak pulang semalaman." ucap Alvin dengan tatapan mencari kebenaran.
"Sudahlah Alvin, mereka itu sudah sama-sama dewasa. Biarkan saja mereka menikmati kebersamaan mereka. Sebentar lagi mereka juga akan menikah. Apalagi yang kamu khawatirkan?" sambung Lukman yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Alvin.
"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, dia itu seorang gadis. Mana bisa disamakan dengan anak laki-laki?" sahut Alvin yang benar-benar menjaga keponakannya itu agar tidak salah langkah.
"Sudahlah, tidak usah diperpanjang lagi. Lebih baik kita makan, setelah itu kita harus segera bersiap-siap. Pesawat kita akan berangkat siang ini!" ucap Lukman menengahi.
Lukman duduk di samping Alvin. Mereka berempat mulai mencicipi sarapan yang sudah terhidang di atas meja makan.
Selesai sarapan, Alvin dan Lukman kembali ke kamar mereka untuk mengemasi barang-barang mereka yang masih tersisa. Sementara itu Hans mengikuti langkah kaki Sela ke dalam kamar gadis itu.
"Keluarlah Hans, ngapain kamu di sini?" ucap Sela yang merasa tidak enak hati setelah mendengar ucapan Alvin di meja makan tadi.
"Biarkan aku tetap di sini, aku ingin membantumu mengemasi barang-barang mu!" sahut Hans sembari mengusap kepala Sela.
"Kamu tidak dengar apa yang dikatakan Om Alvin barusan?" ucap Sela sembari memanyunkan bibirnya.
"Aku dengar kok, aku bahkan sangat senang mendengarnya. Aku tau maksud Om Alvin itu baik, dia ingin menjagamu. Aku bisa melihat kalau dia itu sangat menyayangimu!" sahut Hans sembari mendekap tubuh Sela ke pelukannya.
"Kamu benar, dia sangat menyayangiku melebihi anaknya sendiri. Ayahku saja tidak pernah mempedulikan ku, menanyakan kabarku saja tidak!" ucap Sela dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Nah, maka dari itu jangan mengambil kesimpulan yang tidak-tidak. Terkadang orang tua itu memarahi kita karena mereka terlalu sayang sama kita. Aku saja yang merupakan anak laki-laki, setiap hari loh kena marah sama Papa!" sahut Hans sembari tersenyum mengakui kesadisan papanya.
"Hahahaha..."
Sela akhirnya tertawa setelah mendengar pengakuan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Gadis itu melepaskan tubuhnya dari pelukan Hans. Dia mulai mengambil koper dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu sembari terus tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Aku bantu ya," ucap Hans sembari meraih pakaian Sela yang ada di dalam lemari.
"Jangan Hans!" teriak Sela sembari bergegas menahan tangan Hans yang sudah menyentuh pakaiannya.
"Kenapa?" tanya Hans dengan tatapan bingung.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" sahut Sela sembari menutupi kacamata dan segitiga nya yang ada di hadapan Hans.
Melihat kepanikan di wajah Sela, Hans pun tampak melebarkan senyumannya. Dia bahkan sudah melihat apa yang sedang ditutupi oleh wanitanya itu.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu malu padaku. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak hanya akan melihat pengaman itu, tapi semua yang ada di tubuhmu itu akan menjadi milikku!" ucap Hans yang membuat wajah Sela memerah seketika.
"Hans, apa yang kamu bicarakan?" sahut Sela sembari menutup mulut laki-lakinya itu dengan telapak tangannya.
Hans meraih tangan Sela dan menjauhkannya dari mulutnya yang usil itu.
"Hahahaha..."
Hans tertawa cekikikan, dia tampak sangat senang setelah berhasil menggoda gadis cantiknya itu. Sela pun tampak tertunduk malu dan menyembunyikan senyumannya dari Hans.
"Tapi Sela,..."
"Tidak ada tapi tapi, kerjaan ku tidak akan kelar jika kamu masih menganggu ku di sini!" ucap Sela sembari terus mendorong tubuh Hans.
"Cium dulu dong!" sahut Hans sembari memajukan bibirnya.
"Nih cium,"
Sela menempelkan telapak tangannya ke wajah Hans dan mendorong kepala laki-laki itu menjauh darinya.
Hans pun terlihat melebarkan senyumannya sembari menyeringai melihat kepanikan gadis cantiknya itu.
Setelah Hans berada di luar, Sela pun dengan cepat menutup pintu kamarnya dan bergegas menguncinya.
"Laki-laki gila." gumam Sela sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sela kembali mengemasi barang-barangnya dan menatanya dengan rapi di dalam koper. Gadis itu kemudian bersiap-siap dan memperbaiki dandanannya yang sudah berantakan ulah laki-laki yang dia cintai itu.
__ADS_1
*****
Pukul 11.00 siang, Sela keluar dari kamarnya sembari menarik koper ke arah ruang tamu. Di sana ternyata sudah ada Alvin dan Lukman yang sudah menunggu dengan koper mereka masing-masing.
Tidak lama, Hans pun keluar menarik 2 buah koper yang ada di masing-masing tangannya.
"Kenapa bawaan kamu banyak sekali Hans?" tanya Lukman sembari mengernyitkan keningnya.
"Tidak banyak Pa, Hans tidak membawa apa-apa kok. Ini tuh isinya oleh-oleh yang sudah kami beli kemarin lusa!" sahut Hans dengan santainya.
"Ya ampun, untuk apa membeli oleh-oleh sebanyak ini?" sambung Alvin sembari menggaruk keningnya.
"Tidak apa-apa Om, kapan lagi bisa menyenangkan hati calon keluarga baru?" sahut Hans sembari tersenyum menatap ke arah Sela.
"Ya sudah, sebaiknya kita jalan sekarang!" ajak Lukman yang sudah tidak sabar ingin secepatnya kembali ke Indonesia.
Mereka berempat mulai melangkah meninggalkan apartemen. Satu persatu dari koper mereka pun mulai dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh sopir taksi online yang dipesan Hans.
Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, sopir taksi pun mulai melajukan mobilnya menuju bandara.
Sesampainya di depan bandara, mereka semua langsung turun dan kembali memegangi koper mereka masing-masing.
Mereka mulai melangkah ke dalam bandara dan menaiki pesawat yang akan membawa mereka semua kembali ke Indonesia.
Alvin duduk bersama Lukman, sementara itu Hans dan Sela duduk berdampingan di belakang mereka berdua.
Selang beberapa menit, pesawat itupun mulai lepas landas dan mengudara membawa mereka kembali ke tanah air.
Sela tampak sedikit gugup duduk berdampingan dengan Hans. Dia kemudian memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jendela sembari memperhatikan awan yang berterbangan seperti kapas di depan matanya.
Hans sangat mengerti dengan kekhawatiran Sela. Dia kemudian menggenggam tangan wanitanya itu dan menciumnya dengan lembut.
Hans mulai merapatkan tubuhnya ke arah Sela. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan merebahkan kepala Sela ke bahunya.
"Tidak perlu takut, mereka tidak akan marah!" bisik Hans tepat di telinga Sela.
Senyuman itupun terlihat mengambang di wajah cantik Sela. Dia kemudian memperbaiki posisi duduknya dan mulai melingkarkan tangannya di perut Hans. Pelan-pelan Sela mulai memejamkan matanya dan terlelap di dada laki-laki gagah itu.
__ADS_1