Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 16. Masakan Yang Nikmat


__ADS_3

Semua makanan sudah terhidang di atas meja. Mereka semua juga sudah berkumpul di ruang makan, termasuk Alvin yang baru saja keluar dari kamarnya.


Cika hanya berdiri bagaikan patung tanpa ekspresi di samping meja makan. Dia merasa tidak pantas untuk bergabung dengan yang lain.


Aldo yang melihat itu, segera bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Aldo yang merasa khawatir melihat Cika.


"Gak apa-apa!" jawab Cika pelan.


"Sini, duduk di sebelah aku saja!" ajak Aldo sambil menarik tangan Cika.


Cika hanya menunduk dan mengikuti permintaan Aldo.


Mereka semua akhirnya memulai untuk sarapan bersama, terkecuali Bi Wati yang sedang mencuci pakaian di belakang.


"Tumben menu hari ini beda Ma?" ucap Alvin dan mulai mencicipi makanan yang ada di piringnya.


"Bukan mama yang masak Pa," jawab Ara sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Pantesan, ini enak banget lo Ma," ucap Alvin sambil menghabiskan makanannya.


"Jadi, maksud papa selama ini masakan mama gak enak, iya!" ketus Ara dengan wajah kesal ke arah suaminya.


"Bukan begitu maksud papa Ma, masakan mama juga enak kok. Tapi kan menu yang seperti ini, jarang sekali ditemui di rumah ini." tambah Alvin memperjelas ucapannya. Ara pun akhirnya tersenyum mendengar penjelasan dari suaminya itu.


"Ini kamu yang masak Sela?" tanya Alvin lagi ke arah Sela. Alvin masih penasaran siapa yang telah memasak makanan seenak itu.


"Bukan Om, semua ini masakannya Cika. Mana bisa aku masak seenak ini." ucap Sela dengan polosnya dan seketika membuat semua orang yang berada di sana tertawa mendengar pengakuan Sela.


"Makanya, kalau gak bisa masak tuh belajar! Jangan tau nya keluyuran terus! Hahahaha," tambah Aldo mengejek sepupunya itu, Sela pun terdiam sambil memanyunkan bibirnya.


Melihat raut wajah Sela yang terlihat begitu lucu, semua orang pun kembali menertawakannya. Cika yang dari tadi diam pun, tak kuasa untuk menahan tawanya.


Sarapan pagi pun selesai. Mereka semua beranjak dari meja makan.


Seperti biasa, Cika kembali merapikan meja yang sudah berantakan. Di saat Cika ingin mencuci piring, Aldo dengan segera memanggilnya.

__ADS_1


"Sayang, biarkan saja! Nanti biar Bi Wati yang akan mencucinya. Kamu ikut aku dulu ke depan!" ajak Aldo sambil menarik tangan Cika.


"Kita mau kemana?" tanya Cika heran.


Aldo membawa Cika keruang keluarga. Di Sana sudah ada Sela dan tante Ara yang menunggu mereka. Sementara Alvin sudah berangkat duluan ke kantor.


Aldo dan Cika sudah duduk di atas sofa, tepat di depan Ara dan Sela.


"Sayang, tante sudah mendengar semua tentang kamu dari Sela. Apa semua itu benar?" tanya Ara yang merasa sedih akan nasib gadis malang itu.


"Iya Tante," jawab Cika dengan suara yang terdengar sedikit berat. Mata nya pun mulai berkaca-kaca.


Cika benar-benar merasa cemas. Kakinya mulai bergetar. Pikirannya pun mulai berlayar kemana-mana. Dengan susah payah, dia mencoba menahan air matanya agar tidak menetes di depan semua orang.


"Kamu kenapa sayang? jangan sedih!" ucap Ara sambil mendekat dan memeluk gadis malang itu. Ara juga merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Cika. Karena dia juga berasal dari keluarga yang sama dengan Cika.


Mendapat pelukan hangat dan kasih sayang dari seorang ibu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, membuat Cika semakin tak kuasa menahan air matanya. Semua yang tadi tertahan, tiba-tiba jatuh berderai di atas pundak Ara.


Aldo dan Sela pun ikut berkaca-kaca melihat semua itu.


"Terimakasih Tante!" ucap Cika penuh rasa haru.


Ara kembali duduk di atas sofa, begitupun dengan Cika. Aldo yang berada di samping Cika pun dengan segera menggenggam tangan Cika, dan menatapnya dengan penuh rasa sayang.


Aldo sebenarnya masih ingin berada di samping Cika. Tapi tanggung jawab pekerjaan tak bisa membuat nya bertahan lebih lama di sana. Aldo dan Sela harus segera berangkat ke kantor menyelesaikan pekerjaan mereka. Sementara Ara juga mau ke butik miliknya.


"Sayang, kamu di rumah dulu ya! Aku dan Sela harus ke kantor, banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Kamu gak apa-apa kan?" ucap Aldo yang masih menggenggam tangan Cika.


"Iya Aldo, aku gak apa-apa kok! Kalian pergi saja!" ucap Cika sambil memberikan sedikit senyuman ke arah Aldo.


Aldo dan Sela kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mengganti pakaian. Sementara Cika masih duduk bersama Ara.


"Sayang, tante juga mau ke butik. Apa kamu mau ikut bersama tante?" ucap Ara mengajak Cika ke butik miliknya.


"Tapi aku gak ada pakaian ganti Tante." balas Cika.


"Tidak masalah, kamu bisa pakai pakaian tante. Kalau kamu mau ikut, bersiap-siaplah nanti tante carikan pakaian untuk kamu!" ucap Ara.

__ADS_1


"Iya Tante, aku mandi dulu ya!" ucap Cika sambil berjalan meninggalkan Ara.


Ara pun bergegas ke kamarnya untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk Cika.


Sementara itu, di dalam kamar Aldo sudah selesai mengganti pakaiannya. Cika pun datang untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi Aldo. Aldo yang melihat kedatangan Cika, langsung tersenyum lebar.


"Ada apa sayang?" tanya Aldo.


"Aku mau mandi, mama kamu mengajak aku untuk pergi bersamanya" jawab Cika.


"Jangan dulu sayang! Kepala kamu kan masih sakit." ucap Aldo sedikit khawatir.


"Gak apa-apa kok! Ini cuma luka kecil." ucap Cika sambil memegang keningnya.


"Ya sudah, kalau kamu mau nya begitu. Tapi kalau ada apa-apa, hubungi aku ya! Aku pergi dulu!" ucap Aldo sambil mengecup kening Cika.


Aldo melangkah meninggalkan Cika.


Sementara Cika sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ara pun segera mengantarkan pakaian ke kamar Aldo. Sesampainya di kamar, Ara sedikit bingung melihat kamar Aldo sudah sangat rapi, tidak seperti biasanya.


"Gak hanya cantik, tapi juga rajin dan bersih." batin Ara sambil tersenyum.


Ara benar-benar kagum dengan gadis malang itu.


"Sayang, pakaian nya tante tarok di atas kasur, tante tunggu di bawah ya." teriak Ara dari balik pintu kamar mandi.


"Iya Tante," sahut Cika yang masih berada di dalam.


Ara berjalan meninggalkan kamar. Sementara Cika pun keluar dari kamar mandi. Cika sangat kaget melihat pakaian yang ada di depannya. Sebuah gaun hitam polos yang sangat cantik. Seketika Cika terdiam, dia merasa tidak pantas untuk memakai gaun seindah itu. Tapi dia juga tidak mau mengecewakan Ara yang sudah sangat baik terhadap dirinya.


Aldo kembali ke rumah karena lupa membawa ponselnya.


"Ada apa sayang? kenapa kamu balik lagi?" tanya Ara sedikit bingung.


"Aldo lupa bawa hp Ma." jawab Aldo sambil melangkah menuju kamarnya.


Cika bergegas mengenakan gaun cantik itu. Gaun itu benar-benar pas di tubuh Cika. Namun Cika merasa kesulitan menutup resleting gaun yang berada di bagian belakang.

__ADS_1


__ADS_2