Hati Berdarah

Hati Berdarah
Perasaan Hans


__ADS_3

Mendengar kejujuran gadis cantik yang berdiri tegak di sampingnya, Hans langsung menarik pinggang Sela hingga merapat ke tubuhnya dan membawanya duduk di sofa tepat di hadapan Lukman.


"Tidak Pa, wanitaku ini sangat pandai sekali berakting. Hehehehe,,," sambung Hans dengan tatapan yang sulit di mengerti.


"Sepertinya Om pernah mendengar nama itu sebelumnya. Kamu tinggal dimana Nak?" tanya Lukman yang mulai penasaran dengan gadis yang dibawa pulang oleh putranya itu.


"Aku tinggal di Permata Mansion Om!" jawab Sela dengan polosnya.


"Wow, bukannya itu salah satu perumahan elit? Om punya sahabat yang juga tinggal di daerah itu, namanya Alvin." ucap Lukman yang membuat Sela membelalakkan matanya seketika.


"Om kenal dengan Om Alvin?" tanya Sela sembari mengernyitkan keningnya.


"Tentu saja, dia adalah sahabat baik Om. Om sempat ingin menjodohkan putra Om ini dengan keponakan Alvin, sayangnya anak nakal ini menolak dan memilih kamu sebagai calon istrinya!" ucap Lukman dengan santainya.


Mata Sela kembali terbuka lebar dengan pipi yang terlihat merah merona. Tangannya mulai mengepal sembari memainkan bagian rok yang dia kenakan. Ucapan Lukman benar-benar membuat Sela terkejut bukan main.


"Hei, apa yang terjadi denganmu?" tanya Hans yang sedang memperhatikan perubahan ekspresi Sela.


"Maaf ya Om, Sela permisi sebentar!"


Sela berdiri dari tempat duduknya dengan tatapan penuh pertanyaan, lalu menggenggam tangan Hans dengan kuat.


"Ikut aku!"


Sela menarik tangan Hans dan membawanya berjalan ke halaman rumah. Lukman hanya bisa tersenyum sembari menggaruk keningnya melihat keanehan sepasang sejoli itu.


Sesampainya di taman depan rumah, Sela dengan cepat mengibaskan tangan laki-laki itu dengan kasar.


"Hei, apa yang terjadi denganmu?" tanya Hans dengan tatapan kebingungan.


"Diam, harusnya aku yang bertanya padamu! Untuk apa kamu membawaku kesini? Dan siapa kamu sebenarnya?" bentak Sela yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Hei, tenanglah dulu. Jangan marah seperti ini, nanti cantikmu hilang!" sahut Hans yang masih sempat-sempatnya menggoda Sela.

__ADS_1


"Katakan saja, atau aku akan pergi dari sini!" ancam Sela yang mulai melangkahkan kakinya kearah gerbang.


"Jangan pergi, aku mohon. Aku akan menjelaskan semuanya padamu!" ucap Hans sembari menahan tangan Sela.


Hans mencoba menenangkan Sela dan membawanya duduk di kursi yang ada di taman rumah mewah itu.


"Maafkan aku, aku sudah terlalu lancang padamu. Aku hanya ingin mengenalmu! Sejak pertama melihatmu di mall, aku merasa aneh dengan perasaanku sendiri. Aku bahkan tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku tidak mengerti bagaimana caranya mendekati seorang wanita. Mungkin caraku ini salah, tapi tujuanku tidak pernah salah!" ucap Hans menjelaskan semua yang dia rasakan.


Sela hanya terdiam mendengar penjelasan Hans. Gadis cantik itu mulai penasaran dengan ucapan laki-laki paruh baya yang sempat membahas tentang Alvin yang tak lain adalah Om Sela sendiri.


"Apa maksud ucapan Papamu tadi?" tanya Sela sembari menatap wajah tampan Hans dengan intens.


"Oh iya, Papa berencana menjodohkan aku dengan keponakan Om Alvin. Awalnya aku setuju, mengingat umurku yang sudah semakin matang. Tapi setelah bertemu denganmu, aku jadi ragu untuk menerimanya. Aku takut menyakiti hati gadis itu, kalau dia tau aku menyukai gadis lain!" ucap Hans yang kembali menjelaskan semuanya kepada Sela.


"Baiklah, aku mengerti! Sekarang aku minta tolong, antar aku ke tempat tadi!" pinta Sela dengan datarnya.


"Aku pasti akan mengantarmu, tapi nanti ya! Aku masih ingin kamu disini, kita makan malam dulu bersama Papa!" ucap Hans yang masih ingin bersama Sela.


Mendengar kata-kata Sela, Hans langsung mengernyitkan keningnya sembari menggaruk kepalanya saking bingung dengan kondisi yang sedang dia alami.


"Tunggu, Sela! Kamu tau namaku?" tanya Hans yang sudah berdiri menghadang langkah Sela.


"Ya, aku tau. Entah itu Hanafi atau Hans, aku tidak peduli. Urusan kita sudah selesai, aku permisi!"


Sela mengabaikan Hans dan melangkahkan kakinya meninggalkan halaman rumah mewah itu. Wanita cantik itu kemudian berdiri di pinggir jalan sembari menunggu taksi yang ingin dia tumpangi.


"Apa maksud semua ini?" batin Hans yang masih terpaku memikirkan ucapan Sela.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Hans berlari kearah mobilnya. Dengan cepat laki-laki gagah itu menyalakan mesin dan menginjak gas menyusul wanita yang sudah mengacak-acak hatinya itu.


"Naiklah Sela, aku akan mengantarmu!" ucap Hans saat mendapati gadis cantiknya yang masih berdiri di pinggir jalan.


"Tidak perlu, aku naik taksi saja!" sahut Sela memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku mohon Sela, ini sudah malam! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, sekali ini saja tolong dengarkan aku!" ucap Hans memohon kepada gadis keras kepala itu.


Setelah berpikir, akhirnya Sela mulai luluh dan mengikuti kemauan Hans. Hans membukakan pintu dan membantu gadisnya itu naik kedalam mobil mewahnya.


Didalam perjalanan menuju kafe, Sela tidak bersuara sedikitpun. Gadis itu hanya mematung sembari melihat kearah jendela.


Melihat ekspresi Sela yang begitu kaku, Hans pun meraih tangan gadisnya itu dan mengecupnya dengan lembut. Tanpa malu, Hans meletakkan tangan gadisnya itu tepat di dadanya.


"Sela, aku bukanlah laki-laki yang romantis! Aku tidak bisa berkata-kata seperti laki-laki pada umumnya. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah bermain-main masalah perasaan. Aku harap kamu bisa mengerti!" ucap Hans yang kembali mengecup tangan Sela dengan lembut.


"Aku juga tidak pernah bermain-main dalam masalah perasaan, aku harap kamu bisa memahami ku." sahut Sela sembari menarik tangannya dari genggaman Hans.


"Kenapa sulit sekali membuatmu percaya padaku Sela? Aku benar-benar ingin menjalin hubungan denganmu! Tolong, beri aku kesempatan untuk membuktikannya!" ucap Hans yang sudah tergila-gila dengan gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Bukankah kamu sudah menolak ku? Untuk apa dilanjutkan lagi?" sahut Sela dengan tatapan yang terlihat sendu.


Mendengar ucapan Sela, Hans dengan cepat menginjak rem mobilnya dan menepi di sebuah taman yang lumayan sepi.


"Kenapa kamu berhenti disini?" tanya Sela dengan tatapan kebingungan.


Hans tidak menjawab pertanyaan Sela, tangan kanannya membuka pintu dan segera menurunkan kakinya dari mobil. Laki-laki gagah itu melangkah kearah pintu sebelahnya dan membukakannya untuk Sela.


"Turunlah sebentar!" pinta Hans sembari menggenggam tangan Sela dan menariknya turun dari mobil.


Hans membawa Sela duduk di bangku taman dan menyandarkan kepalanya di lengan Sela. Suasana malam itu terasa begitu hangat bagi Hans, namun sangat canggung untuk Sela yang tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki manapun sebelumnya.


"Hans, jangan seperti ini! Aku tidak terbiasa, menjauh lah dariku!" ucap Sela sembari mengangkat kepala Hans dari lengannya.


"Sebentar saja Sela, aku merasa nyaman dengan posisi ini!" ucap Hans yang semakin merapat ke tubuh Sela.


Sela mulai kehabisan akal melihat tingkah kekanak-kanakan Hans padanya. Mau tidak mau akhirnya Sela membiarkan laki-laki gagah itu bersandar pada tubuhnya.


"Mama meninggalkan kami sejak aku masih kecil. Sejak saat itu aku tidak punya tempat bersandar lagi. Meskipun ada Papa, tapi tetap saja rasanya berbeda. Aku kesepian Sela, maukah kamu menemaniku dan mengisi kekosongan hatiku ini!" ucap Hans sembari melingkarkan sebelah tangannya di perut Sela.

__ADS_1


__ADS_2