
Aldo tengah duduk di balkon kamar. Menikmati suasana indah yang di hiasi sang rembulan. Desiran angin malam membuai hatinya dalam ketidakpastian. Bayang-bayang cinta pertama nya seakan menari-nari di pelupuk matanya.
"Aldo! Ngapain kamu disini sendirian nak?" tanya mama Ara yang seketika membuat Aldo tersadar dari lamunannya.
"Eh, Mama! Bikin kaget saja." jawab Aldo dingin sedingin hembusan angin.
"Kamu lagi mikirin apa? sampai tidak sadar dengan kedatangan mama." tanya mama Ara sedikit bingung.
"Gak ada Ma." jawab Aldo singkat.
"Ya sudah, ikut mama turun yuk! Melia dan keluarganya sudah ada dibawah." ajak mama Ara.
"Aldo gak mau Ma! Mama sama papa saja ya yang menemani mereka. Aldo mau disini dulu." jelas Aldo yang sama sekali tidak ingin bertemu dengan Melia.
"Jangan begitu sayang! Mereka kesini mau membicarakan masalah bisnis." jelas mama Ara.
"Ya sudah, Aldo turun!" jawab Aldo sambil melangkah mengikuti mamanya dari belakang.
Aldo tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau dia harus ikut turun menemui Melia dan keluarganya.
Perusahaan mereka memang sudah lama bekerja sama dalam bisnis yang tengah dijalani Aldo.
Aldo memang bukan pewaris tunggal dalam keluarganya.
Tapi bisnis keluarga mereka saat ini dijalankan oleh Aldo dan papanya.
Kakaknya Ilham sudah tidak bisa lagi membantu mereka dalam menjalankan bisnis keluarga.
Sejak menikah, Ilham memutuskan untuk pindah ke perusahaan istrinya.
Istri Ilham adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar. Ilham memutuskan pindah ke perusahaan istrinya karena permintaan terakhir dari papa mertuanya.
Sesampainya di bawah mama Ara kembali duduk di samping suaminya.
Sementara itu, Aldo duduk di depan Melia. Makan malam 2 keluarga itupun dimulai.
Melia tak henti-hentinya menatap kearah Aldo. Dia sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya. Batin nya semakin berhasrat untuk memiliki Aldo.
"Kau benar-benar tampan Aldo, kau harus menjadi milikku apapun yang terjadi." batin Melia dengan senyum yang tak biasa.
Tidak berselang lama, Sela dan Cika pun sampai di rumah Aldo. Sela bergegas turun dari mobil, di susul oleh Cika yang juga ikut turun dari mobil mewah itu.
"Rumah siapa ini Sela?" tanya Cika bingung sembari memperhatikan sekelilingnya.
"Ini rumah om aku Cika, adiknya ayah." jawab Sela yang mulai melangkah ke arah pintu masuk.
__ADS_1
"Jangan bilang ini rumahnya Aldo!" ucap Cika yang mulai merasa curiga.
"Kenapa memangnya kalau ini rumah Aldo?" ucap Sela sambil melirik ke arah Cika.
"Aku gak mau ketemu dia Sel, kita pulang aja ya!" pinta Cika yang sudah menghentikan langkah kakinya.
"Gak apa-apa Cika, kan ada aku." tegas Sela sambil menarik tangan Cika dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Tapi Sel, aku,,,"
Sela tidak memberi kesempatan kepada Cika untuk menolaknya. Dia terus saja berjalan masuk ke arah ruang makan tanpa melepaskan tangan Cika yang sedang di genggamnya.
"Malam Om, Tante!" sapa Sela dengan senyum manisnya kepada semua orang yang berada di sana.
"Malam sayang!" jawab om dan tantenya secara bersamaan.
"Ayo sayang, duduk! Kita makan sama-sama dulu." ucap Ara dengan suara lembutnya.
Aldo sangat terkejut melihat kedatangan Sela bersama Cika. Dia tidak menyangka kalau Sela berhasil membujuk Cika untuk datang ke rumahnya.
Sementara itu, Sela dengan segera mengambil tempat duduk dan menarik Cika untuk duduk di sampingnya.
Cika hanya terdiam sambil mengikuti Sela dan ikut duduk bersama mereka.
Cika hanya tersenyum ke arah om dan tantenya Sela tanpa berucap sepatah kata pun. Cika merasa minder berada di tengah-tengah keluarga kaya itu.
Sementara Aldo sudah sangat senang akan kehadiran wanita yang sangat dia cintai itu.
Makan malam pun berakhir begitu cepat.
Mereka semua pindah ke ruang tamu untuk melanjutkan pembahasan bisnis yang akan mereka jalankan.
Hanya Cika dan Sela yang tetap tinggal di ruang makan. Mereka berdua membereskan meja makan yang sudah berantakan.
"Gak usah Non, biar bibi saja." ucap Bi Wati.
"Gak apa-apa Bi, biar kami saja." jawab Cika dengan senang hati.
"Ini pekerjaan bibi Non, nanti bibi bisa di marahi kalau non yang melakukan semua ini." ucap Bi Wati lagi karena merasa tidak enak hati.
"Gak ada yang akan marah kok Bi," tambah Sela meyakinkan.
Bi Wati berjalan meninggalkan mereka berdua dan memilih untuk mencuci piring yang sudah menumpuk.
Sementara di ruang tamu sana Aldo dan keluarganya tengah asyik membahas bisnis mereka.
__ADS_1
Melia pun yang sedari tadi di sana, sudah tidak tahan lagi untuk mendekati Aldo.
Aldo memang adalah sosok laki-laki yang sempurna. Selain wajahnya yang tampan, dia juga merupakan sosok pekerja keras. Tidak ada wanita yang tidak menginginkan dirinya, termasuk Melia si cewek matre yang dengan rela melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya.
Sela dan Cika masih berada di dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan dibantu bi Wati.
Cika lebih merasa nyaman berada di dapur. Dia merasa begitu asing berada di dalam rumah semewah itu.
Bi Wati mengambil makanan yang telah mereka siapkan, dia berniat untuk mengantarkan makanan itu keruang tamu. Namun Sela dengan cepat menahan langkah kaki bi Wati.
"Gak usah Bi, bibi di sini saja! Biar aku sama Cika yang mengantarkannya ke depan." ucap Sela sambil mengambil kembali piring yang sudah dipegang Bi Wati.
"Ayo Cika! Kamu bawa minuman nya! Biar aku bawa makanannya." ucap Sela.
"Tapi Sel,,,"
"Ayo cepat! Nanti keburu mereka pulang." tegas Sela sambil berjalan kearah depan.
Cika lagi-lagi tidak dapat menolak Sela. Dia mengambil minuman yang sudah mereka siapkan dan mengikuti langkah kaki Sela menuju ruang tamu.
Sela dan Cika segera meletakkan semuanya di atas meja.
"Silahkan di minum Om, Tante, Pak, Buk,," ucap Sela dengan ramah kepada orang-orang yang berada di ruangan itu.
Cika ingin segera kembali ke dapur. Namun Sela dengan cepat menahan tangannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sela sedikit pelan agar tidak di dengar yang lain.
"Aku mau kembali ke dapur,," jawab Cika berbisik ke telinga Sela.
"Duduk disini saja! Pekerjaan dapur sudah selesai." tegas Sela menahan Cika agar tetap berada di sampingnya.
Sela dan Cika ikut duduk di ruangan itu. Sela yang bekerja di perusahaan Aldo, memang harus ikut serta dalam proyek yang sedang mereka bahas.
Sementara itu, Cika hanya berdiam diri mendengarkan pembahasan orang-orang di sekelilingnya.
Melia sudah mulai melancarkan aksinya. Dia mengambil minuman yang sudah tersedia di atas meja.
Tanpa basa-basi Melia memberikan segelas minuman yang telah di ambilnya itu kepada Aldo.
"Ini untuk kamu Aldo!" ucap Melia dengan senyuman yang sedikit aneh.
"Terimakasih!" jawab Aldo sambil mengambil minuman itu dari tangan Melia.
Cika yang melihat semua itu, merasakan ada sedikit hentakan yang terasa menusuk di jantungnya.
__ADS_1