
Satu bulan kemudian.
Sebulan sudah Sela menahan rasa rindunya terhadap laki-laki yang sudah mencuri hatinya. Jangankan berkomunikasi, kabar Hans pun tidak pernah dia dengar selama ini.
Kehilangan itu benar-benar membuat Sela berubah menjadi gadis yang pendiam. Tidak ada lagi keceriaan yang selama ini menjadi ciri khas dari gadis cantik itu.
Siang harinya, Lukman tengah mendatangi Alvin di ruangannya. Dia terlihat begitu menyedihkan, karena putra semata wayangnya sudah memutuskan untuk tetap tinggal di Swiss.
"Bagaimana kabar Hans? Kapan dia kembali?" tanya Alvin membuka pembicaraan mereka.
"Dia tidak akan kembali, Alvin. Dia ingin menetap di sana, melanjutkan bisnis kami yang sempat terbengkalai!" sahut Lukman dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan? Sela juga sangat terpukul sejak kepergiannya!" ucap Alvin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak ada jalan lain lagi, kita harus bertindak untuk menyatukan mereka berdua!" sahut Lukman dengan penuh keyakinan.
"Apa maksudmu? Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?" tanya Alvin yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Lukman.
"Kamu tenang saja, aku sudah memikirkan caranya. Sekarang giliran kamu untuk meyakinkan Sela!" sahut Lukman dengan begitu percaya diri.
"Meyakinkan Sela untuk apa?" tanya Alvin yang terlihat begitu kebingungan.
"Kita harus membawa Sela ke sana!" ucap Lukman sembari memukulkan jari jemarinya di atas meja.
"Bagaimana mungkin? Sela pasti tidak akan setuju!" sahut Alvin sembari menggaruk keningnya yang mulai mengkerut memikirkan ucapan Lukman.
"Aku akan memberikan 10% saham perusahaan di sana untuk Sela! Tapi untuk sementara waktu, kamu harus merahasiakan ini dari gadis itu. Katakan saja jika saham itu milikmu!" ucap Lukman yang membuat Alvin mulai mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku mengerti! Tapi, bukankah terlalu berlebihan memberikan saham itu untuk Sela?" tanya Alvin yang merasa keputusan Lukman itu terlalu terburu-buru.
"Tidak, aku sudah memikirkannya matang-matang! Sela adalah calon menantuku, apapun akan aku lakukan agar mereka bisa bersatu!" ucap Lukman yang sudah sangat yakin dengan keputusannya.
"Baiklah, aku setuju. Kapan kita berangkat?" tanya Alvin yang sudah kembali bersemangat.
"Lebih cepat lebih baik, kalau bisa besok pagi!" sahut Lukman yang sudah tidak sabar ingin mempertemukan putranya dengan calon menantunya itu.
"Beri aku sedikit waktu. Aku akan membicarakan ini dengan Sela terlebih dahulu!" ucap Alvin meminta kelonggaran.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu! Aku tunggu kabar baik darimu secepatnya!" ucap Lukman sembari bangkit dari tempat duduknya.
Lukman berjalan meninggalkan ruangan Alvin. Dia bergegas masuk kedalam mobilnya dan berlalu menuju perusahaannya. Dia mulai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keberangkatannya besok pagi.
Sementara itu, Alvin dengan cepat menghubungi Sela dan Aldo untuk segera datang ke ruangannya.
"Permisi Om, ada apa memanggil Sela?" tanya Sela sembari melangkah kearah meja kerja Om nya.
"Duduklah sayang, tunggu Aldo sebentar! Ada yang ingin Om bicarakan dengan kalian berdua!" ucap Alvin dengan santainya.
Tidak lama setelah Sela menduduki sebuah kursi, Aldo pun datang dan langsung duduk di sebelah sepupunya.
"Ada apa Pa?" tanya Aldo yang mulai kebingungan melihat Sela yang juga ada di ruangan papanya.
Dikarenakan Aldo dan Sela sudah duduk manis di hadapannya, Alvin pun langsung membicarakan apa yang harus dia bicarakan kepada mereka berdua.
"Besok pagi Papa harus berangkat ke Swiss. Salah satu diantara kalian harus ikut dengan Papa!" ucap Alvin yang membuat Sela dan Aldo saling menatap satu sama lain.
"Kenapa mendadak sekali Pa? Lagian untuk apa Papa pergi ke sana?" tanya Aldo sembari mengernyitkan keningnya.
Mendengar ucapan Alvin, wajah Sela mulai terlihat gelisah. Ikut dengan Alvin, tentu saja akan mempertemukan dia dengan laki-laki yang sudah pergi meninggalkannya. Sela sama sekali tidak siap untuk itu.
"Sela tidak bisa ikut Om, biar Aldo saja!" ucap Sela menolak permintaan Alvin.
"Bagaimana Aldo?" tanya Alvin kepada putranya yang masih terlihat kebingungan.
"Tidak Pa, Aldo juga tidak bisa ikut dengan Papa! Kalian tau sendiri kan, Cika tengah hamil. Mana mungkin Aldo meninggalkan Cika dalam keadaan seperti ini?" ucap Aldo yang keberatan dengan permintaan papanya itu.
Penolakan Aldo itupun membuat Sela semakin terlihat panik. Dia mulai menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemarinya.
"Aldo benar, dia tidak mungkin meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini. Kalau begitu kamu saja yang ikut bersama Om!" ucap Alvin sembari menatap kearah Sela.
"Tapi Om,..."
"Sudahlah Sela, pergi saja. Papa pasti sangat membutuhkan kamu di sana!" sambung Aldo yang mulai curiga dengan gerak gerik papanya.
"Cuma tiga hari, Sela. Setelah urusan di sana selesai, kita akan segera pulang!" ucap Alvin meyakinkan keponakannya itu.
__ADS_1
"Baiklah, Sela akan ikut dengan Om!" sahut Sela yang tak bisa mengelak lagi.
Setelah menyetujui permintaan Alvin, Sela kembali melangkah menuju ruangannya. Raut wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan sama sekali.
Sela duduk di kursinya dan mulai menatap kearah langit-langit ruangannya. Perasaannya mulai gelisah tak menentu. Entah harus senang, ataupun sedih karena akan bertemu dengan Hans kembali.
Hans sudah meninggalkannya tanpa ada kabar sedikitpun. Dipikirannya, mungkin saja Hans sudah menemukan wanita yang pantas untuk laki-laki gagah itu.
*****
Sore harinya, mereka semua meninggalkan kantor dan kembali ke rumah. Seperti biasa, Sela pulang sendiri mengendarai mobilnya.
Pikirannya masih berkecamuk memikirkan apa yang akan terjadi, jika dia bertemu kembali dengan laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.
Sela masuk kedalam kamarnya, dengan raut wajah yang semakin sulit di mengerti. Gadis cantik itu kembali mengurung diri sembari memikirkan nasib cintanya yang tak tau arah tujuan.
Malam harinya, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka semua asyik menikmati makan malam tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
Selesai makan, semuanya beranjak dari meja makan dan berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya. Tidak dengan Sela, yang langsung naik ke lantai atas dan menyendiri didalam kamarnya.
"Besok pagi, Papa akan berangkat ke Swiss bersama Sela. Kalian semua baik-baik di rumah ya!" ucap Alvin kepada semua anggota keluarganya.
"Mendadak sekali Pa, ada apa?" tanya Ara mencari tau.
"Papa ingin menyelesaikan apa yang harus di selesaikan!" ucap Alvin yang membuat semua orang kebingungan, kecuali Aldo.
Alvin kemudian melangkah, meninggalkan ruang keluarga dan masuk kedalam kamarnya. Begitupun dengan Ara, yang langsung mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.
"Apa ini ada hubungannya dengan Sela?" tanya Cika kepada suaminya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Kira-kira seperti itulah sayang." sahut Aldo dengan santainya.
"Bagaimana dengan perusahaan?" sambung Ilham yang juga masih duduk bersama adiknya itu.
"Ada Aldo, Kak Ilham tidak perlu khawatir!" sahut Aldo kepada kakaknya.
Aldo dan Cika kemudian melangkah menuju kamar mereka di lantai atas. Begitupun dengan Ilham dan Mila yang ikut berlalu menuju kamarnya. Ilham menggandeng tangan istrinya sembari menggendong putri cantiknya di dekapannya.
__ADS_1