
Di tempat lain, Aldo tengah memasuki kawasan padat penduduk. Tempat yang begitu ramai dengan pemukiman warga dan penuh dengan hiruk pikuk di sekelilingnya. Bahkan mobil mewah Aldo, tidak bisa masuk kedalam kawasan tersebut.
Aldo kemudian memarkirkan mobilnya di tempat yang lumayan lapang dan bergegas turun dari mobilnya mewahnya itu.
"Ya Tuhan, apakah benar istriku tinggal di lingkungan seperti ini? Ataukah Dokter Hana telah salah memberikan informasi ini kepadaku?" batin Aldo penuh tanda tanya di benaknya.
Aldo akhirnya melangkahkan kakinya memasuki sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Didepan gang tersebut juga tertulis nama gang sesuai dengan alamat yang ada di tangan suami Cika itu.
Tidak terlalu jauh dari mulut gang, Aldo melihat beberapa orang ibu-ibu yang tengah berkumpul dan bersantai di bawah pohon mangga yang lumayan rindang di lingkungan itu.
"Permisi, Bu! Maaf mengganggu waktunya sebentar." sapa Aldo dengan ramah kepada ibu-ibu yang ada disitu.
"Iya, tidak apa-apa! Ada yang bisa kami bantu, Pak?" sahut seorang ibu yang berada paling dekat dengan Aldo.
"Saya sedang mencari istri saya, Bu! Apa Ibu tau alamat ini?" tanya Aldo sambil memperlihatkan secarik kertas yang ada di tangannya kepada ibu itu.
"Ini alamat kontrakan Bu Meri, Pak! Kebetulan orangnya juga ada disini, itu yang pakai daster hijau." ucap ibu itu sambil menunjuk kearah ibu Meri yang juga berada di sana saat itu.
Aldo bergegas menghampiri ibu yang memakai daster hijau itu dan langsung menanyakan keberadaan Cika kepadanya.
"Permisi, Bu! Apa saya boleh meminjam waktunya sebentar?" tanya Aldo dengan sopan.
"Boleh, ada apa Pak?" tanya Meri yang sama sekali tidak mengenali Aldo.
Aldo membawa Meri menjauh dari ibu-ibu yang lain. Dia pun menjelaskan maksud kedatangannya ke sana yang ingin mencari keberadaan istrinya. Aldo juga mengatakan semua tentang Cika kepada ibu Meri.
"Oh, jadi bapak ini suaminya Cika?"
Meri terkejut dan tercengang mendengar pengakuan dari Aldo. Dia sama sekali tidak menyangka kalau suami Cika ternyata orang yang sangat tampan dan kaya raya.
Selama Cika mengontrak di tempatnya, Cika tidak pernah menceritakan apa-apa tentang kehidupannya kepada pemilik kontrakan itu. Yang Meri tau, Cika hanya sedang bertengkar dengan suaminya, tidak lebih.
__ADS_1
"Benar sekali, Bu! Nama saya Aldo, suami dari Cika." sahut Aldo sembari memperkenalkan dirinya kepada Meri.
Aldo akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah mengetahui kalau istrinya memang tinggal di lingkungan itu.
"Saya ingin sekali bertemu dengan Cika. Apa Ibu bisa mengantarkan saya ke kontrakan itu?" tanya Aldo yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.
"Maaf Pak Aldo, saat ini istri bapak sedang tidak berada di rumah. Kalau bapak ingin bertemu dengannya, sebaiknya Bapak kembali lagi nanti malam!" ucap Meri.
"Memangnya Cika kemana, Bu?" tanya Aldo yang mulai mencemaskan kondisi istrinya yang tengah berbadan dua itu.
"Kalau jam segini, Cika biasanya masih berada di tempat kerjanya Pak." sahut Meri memberikan sedikit informasi tentang Cika.
"Apa? Kerja? ? ?"
Sesaat Aldo terdiam dengan air mata yang sudah tergenang di kelopak matanya.
"Iya, Pak! Sejak tinggal disini, Cika sudah bekerja di sebuah konveksi yang katanya cukup jauh dari tempat ini. Di tengah kondisi istri bapak yang sedang lemah seperti sekarang ini, dia masih tetap berjuang sendirian untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya dan anak yang ada didalam kandungannya. Pernah juga beberapa kali seorang laki-laki tampan dan juga kaya datang kesini untuk membantunya. Tapi Cika menolaknya mentah-mentah dengan alasan kalau dia masih berstatus istri orang."
Meri juga menceritakan penderitaan Cika selama awal masa kehamilannya.
"Ya Tuhan, kenapa istriku harus menanggung semua beban ini sendirian? Suami macam apa aku ini?" gumam Aldo yang mulai menyalahkan dirinya sendiri.
Aldo menangis penuh penyesalan. Air matanya benar-benar sudah tidak dapat di bendung lagi setelah mendengar semua penjelasan dari Meri.
"Apa ibu mengetahui tempat Cika bekerja saat ini?" tanya Aldo yang berniat menyusul Cika ke tempat kerjanya.
"Maaf, Pak! Saya benar-benar tidak mengetahui dimana Cika bekerja? Yang saya tau, dia bekerja di sebuah konveksi. Hanya itu." sahut Meri.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggunya disini!" ucap Aldo yang tidak ingin kehilangan jejak istrinya lagi.
"Bapak mau menunggu disini saja, atau di kontrakan Cika? Kalau bapak mau menunggu di kontrakan, saya akan mengantarkan bapak ke sana! Kebetulan saya juga punya kunci cadangannya." ucap Meri yang tidak tega melihat kesedihan di wajah Aldo.
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Saya akan menunggu di kontrakan saja!" sahut Aldo.
Meri melangkahkan kakinya meninggalkan ibu-ibu yang lain, kemudian disusul oleh Aldo yang mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kontrakan, Meri segera mengambil kunci cadangan di rumahnya yang berada didepan kontrakan. Setelah itu Meri memberikannya kepada Aldo yang sedang menunggu didepan pintu kontrakan Cika.
"Ini kuncinya, Pak Aldo!" ucap Meri sembari memberikan anak kunci ke tangan Aldo.
"Terimakasih banyak, atas bantuannya!"
Aldo mengucapkan terimakasih kepada Meri dan memberikan seikat uang pecahan seratus ribu rupiah yang di keluarkan Aldo dari dalam kantong celananya.
"Maaf Bu, tolong diterima! Ini hanya sekedar ucapan terimakasih dari saya."
"Tidak perlu, Pak Aldo! Simpan saja uang itu! Saya membantu bapak dengan tulus. Saya hanya kasihan melihat istri bapak yang selama ini hidup tidak layak di kontrakan ini." ucap Meri yang menolak pemberian dari Aldo dengan sopan.
"Saya mohon, terimalah! Saya juga ikhlas memberikan semua ini kepada ibu. Bahkan jika di tukar dengan semua harta kekayaan saya, mungkin tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan ibu kepada istri saya selama ini."
Aldo memohon agar Meri mau menerima pemberian darinya yang tidak seberapa itu. Bukan berniat untuk menghina Meri, tapi itu merupakan bentuk ucapan terimakasih karena selama Cika mengontrak di sana, Meri sudah banyak membantu istrinya.
"Baiklah, terimakasih! Semoga kalian berdua bisa berkumpul kembali dan menjadi keluarga yang berbahagia."
Mau tidak mau, akhirnya Meri menerima uang yang diberikan oleh Aldo. Dia juga berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga Aldo dan Cika ke depannya.
Setelah kepergian Meri, Aldo segera masuk kedalam rumah kontrakan istrinya itu dengan raut wajah penuh kesedihan.
Aldo memperhatikan sekelilingnya, seketika air matanya pun menetes melihat kondisi kontrakan yang sangat kecil dan sederhana itu.
Apalagi saat Aldo masuk kedalam kamar yang ditempati oleh istrinya. Didalam sana hanya ada kasur busa tipis yang terbentang di atas lantai.
"Cika, sayang...!"
__ADS_1
Aldo memeluk dan mencium bantal guling yang masih menyisakan wangi tubuh istrinya itu. Tanpa terasa air matanya kembali menetes membasahi guling yang sedang dia peluk.