
Setelah kepergian Ilham dan Mila dari kediaman orang tuanya. Ara pun bergegas untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ara yang sudah beberapa hari di rumah, segera bersiap-siap untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di butik yang sempat tertunda.
"Ma, Papa pergi dulu ya!" ucap Alvin sembari mengecup kening istrinya.
"Iya Pa, hati-hati ya!" sahut Ara sambil mencium tangan suaminya.
"Sela juga pamit ya, Tan! Nanti Sela mungkin pulangnya sedikit telat, Sela mau mampir dulu ke apartemen untuk mengambil pakaian." ucap Sela sambil menyalami dan mencium tangan tantenya.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati ya! Jangan pulang terlalu malam!" ucap Ara mengingatkan Sela agar berhati-hati.
*****
Enam bulan kemudian
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah enam bulan Aldo dan Cika mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kebahagiaan.
Namun, ada sedikit kekecewaan di hati Cika yang membuatnya sering melamun sendirian. Kegelisahan yang menyelimuti hati Cika membuatnya lebih banyak menyendiri dan lebih pendiam dari biasanya.
Malam itu, Cika tengah duduk di taman yang berada di samping rumah. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam.
"Sayang, kenapa melamun?" ucap Aldo sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Cika tidak bersuara sedikitpun, dia segera membalikkan tubuhnya dan memeluk suami yang sangat dicintainya itu dengan sangat erat.
"Kamu kenapa, sayang? Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri! Aku ini suamimu. Sudah selayaknya kamu berbagi kesedihan kepada suamimu ini." ucap Aldo yang membuat Cika tidak mampu lagi menahan air matanya.
"Hiks,,, hiks,,, hiks."
"Ayo, kita masuk! Kita bicara di kamar saja!" ucap Aldo sembari menggenggam tangan istrinya dan berjalan masuk menuju kamar mereka.
Sesampainya didalam kamar, Aldo memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Cika pun hanyut didalam dekapan suaminya sambil berderaian air mata.
"Ceritakan lah, sayang! Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?" ucap Aldo yang sudah siap mendengar segala keluh kesah istrinya.
__ADS_1
"Aku ini wanita yang tidak sempurna, Aldo! Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kamu, mama dan papa. Mereka benar-benar menginginkan seorang cucu dari kamu. Aku tidak bisa memberikan semua itu kepada kalian. Hiks,,, hiks,,, hiks." Cika mengeluarkan segala beban pikiran dan kesedihannya sambil menangis tersedu di kaki suaminya.
"Cika, sayang! Apa yang kamu lakukan?" Aldo segera mengangkat tubuh Cika dan memeluknya dengan sangat erat.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,"
"Mungkin lebih baik kita berpisah saja, Aldo. Kamu bisa menikah lagi dengan wanita yang mampu memberi kamu keturunan. Tidak seperti aku yang sama sekali tidak berguna. Hiks,,, hiks,,, hiks." Cika malah berpikiran untuk berpisah dengan laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Cukup, Cika! Aku tidak ingin mendengar kata-kata ini lagi! Apapun yang terjadi kita akan tetap bersama. Ada anak ataupun tidak, aku tetap mencintaimu! Kita akan bersama sampai ajal menjemput ku." ucap Aldo yang juga mulai meneteskan air matanya.
"Tidak semudah yang kamu pikirkan, Aldo! Mama dan papa benar-benar mengharapkan kehadiran cucu di tengah-tengah mereka." sahut Cika yang mulai terisak-isak.
"Mama dan papa bukanlah orang yang egois. Mereka akan mengerti dengan keadaan ini. Mereka tidak akan membiarkan kebahagiaan kita terenggut hanya karena seorang anak. Tolong mengertilah, sayang! Aku tidak akan melepaskan pernikahan kita dengan begitu mudah. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku!" ucap Aldo yang tidak sanggup lagi menahan kesedihan dihatinya.
"Tapi, Aldo...!"
"Sudah cukup, Cika! Apa kamu tidak menginginkan aku lagi sebagai suamimu? Apa hanya sebatas ini rasa cinta yang kamu miliki untukku?" tanya Aldo yang masih meneteskan air matanya.
"Tidak, Aldo! Bukan begitu. Aku sangat mencintaimu. Maka dari itu aku ingin melihatmu bahagia." sahut Cika sembari terisak di dada suaminya.
Cika mulai tenang setelah mendengar kata-kata suaminya. Dia juga tidak sanggup kehilangan suami tercintanya itu. Tapi disisi lain, dia juga tidak ingin mengecewakan mama dan papa mertuanya.
Dalam keheningan malam yang begitu mencekam, Aldo berbaring di atas kasur sembari memeluk tubuh istrinya.
"Aku mencintaimu, Cika! Tetaplah seperti ini!" Kata-kata yang selalu keluar dari mulut Aldo semenjak pertama kali Aldo mengungkapkan perasaannya terhadap Cika.
Cika akhirnya terlelap di pelukan suaminya. Kesedihan yang menjadi beban dalam hidupnya, sesaat hilang seiring berlalunya malam.
Pagi harinya, Cika bangun dengan mata yang terlihat sangat sembab. Walaupun sudah ditutupi dengan make up, tetap saja tidak bisa menutupi raut wajahnya yang tengah memendam kesedihan.
Cika turun ke lantai bawah bersama Aldo sambil berpegangan tangan. Sesampainya di meja makan, Cika hanya terdiam sembari menikmati makanannya.
"Cika, sayang! Kamu kenapa? Mata kamu sembab, Nak? Kamu habis bertengkar dengan Aldo?" tanya Ara sambil menatap tajam kearah putranya.
"Tidak apa-apa, Ma! Cika hanya kurang tidur saja. Tidak ada hubungannya dengan Aldo." sahut Cika dengan suara yang terdengar berat.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut, Cika! Jika Aldo menyakitimu, bilang sama papa!" tambah Alvin yang juga mencurigai putranya telah menyakiti Cika.
"Benar, Pa! Aldo tidak melakukan apa-apa terhadap Cika! Cika hanya kurang tidur saja." sahut Cika.
Sarapan pagi itupun terasa begitu canggung karena kondisi Cika yang sangat membingungkan.
"Ya sudah, mama sama papa pergi dulu! Kalau kamu merasa tidak enak badan, istirahat saja di rumah! Biar mama saja yang menyelesaikan pekerjaan di butik." ucap Ara sambil berlalu meninggalkan ruang makan bersama suaminya.
*****
Seminggu setelah pernikahan Aldo dan Cika. Cika memang mulai aktif di butik membantu mama mertuanya hingga saat ini. Sejak Cika bergabung di butik Ara, butik itupun berkembang dengan sangat pesat.
Keahlian Cika dalam bidang desainer, membuat pelanggan di butik Ara semakin bertambah setiap harinya. Apa lagi para wanita kalangan atas yang sudah jatuh cinta dengan rancangan terbaik buatan Cika.
*****
Satu minggu telah berlalu setelah perdebatan hebat antara Cika dan Aldo malam itu.
Sejak kejadian itu, Cika tidak pernah lagi membahas masalah anak dengan suaminya. Kehidupan mereka kembali berjalan normal dan bahagia seperti sebelumnya.
Pagi itu, Cika diantar oleh Aldo menuju butik mamanya. Cika sudah mempunyai janji dengan seorang calon pengantin yang ingin melihat hasil rancangannya.
Didalam perjalanan menuju butik, Cika dan Aldo masih terlihat bahagia sembari bersenda gurau didalam mobil mewah mereka.
Sesampainya di butik, Aldo menggenggam tangan istrinya sembari berjalan memasuki ruangan Cika.
"Selamat pagi, Pak Aldo, Buk Cika!" sapa Putri menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat pagi, Putri!" sahut Cika dengan senyuman yang sangat manis kearah Putri.
"Maaf, Buk! Ada seorang wanita yang sedang menunggu di ruangan Ibuk. Tadi sudah saya suruh tunggu di luar, tapi beliau memaksa untuk menunggu didalam." ucap Putri sedikit gugup.
"Siapa, Put? Apa calon customer kita?" tanya Cika yang mulai bingung.
"Tidak, Buk! Kalau tidak salah namanya Melia." ucap Putri yang seketika membuat Cika dan Aldo saling menatap satu sama lain.
__ADS_1