
Hans menatap wajah cantik Sela dengan intens. Dari raut wajahnya, tersirat kekecewaan yang begitu dalam terhadap gadis yang sudah mengisi relung hatinya itu.
"Pergilah Hans, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Sela yang secara tidak langsung, bermaksud mengusir Hans dari ruangannya.
"Kenapa begitu sulit bagiku untuk meluluhkan hatimu, Sela? Apa aku tidak pantas mendapatkan cintamu? Apa salahku padamu?" ucap Hans yang mulai melangkah kearah pintu.
"Maafkan aku, Hans!" sahut Sela yang mulai meneteskan air matanya.
"Tidak apa-apa Sela, tidak perlu merasa bersalah seperti itu! Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik! Selamat tinggal!" ucap Hans sembari melangkah meninggalkan ruangan Sela.
Hans berjalan keluar dari kantor Sela dan masuk kedalam mobilnya. Laki-laki yang tengah patah hati itu melajukan mobilnya tanpa tau arah dan tujuan.
Keinginannya yang begitu besar untuk membina rumah tangga bersama Sela, akhirnya pupus setelah mendapatkan penolakan dari gadis yang dia cintai itu.
Meskipun pertemuan mereka terbilang cukup singkat, tapi Hans sudah benar-benar jatuh cinta kepada gadis polos itu.
*****
Satu minggu kemudian.
Sejak hari itu, Hans tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan Sela. Hans memilih untuk menjauh dari gadis yang sudah membuatnya setengah gila itu.
Hans bahkan tidak pernah menanggapi ucapan papanya lagi. Hans tidak ingin membuat papanya ikut memikirkan masalah yang tengah dia hadapi.
Malam itu, Hans tengah duduk di taman depan rumahnya. Pikirannya mulai terasa bimbang karena baru saja mendapatkan telepon dari Swiss.
Hans mendapatkan kabar kalau panti asuhan yang sudah dia bangun di sana, sedang mengalami sedikit masalah yang mengharuskan dirinya untuk berangkat ke sana secepat mungkin.
Hans mengayunkan kakinya melangkah kedalam rumah. Dengan wajah yang terlihat acak-acakan, dia duduk di samping papanya yang tengah asyik membaca koran di sofa ruang keluarga.
"Pa, ada sedikit masalah di Swiss. Hans harus berangkat besok pagi!" ucap Hans meminta izin kepada papanya.
__ADS_1
"Kenapa mendadak sekali, Hans? Apa yang terjadi?" tanya Lukman yang mulai penasaran.
"Hans juga tidak tau pasti Pa. Tapi Hans harus cepat sampai di sana, sebelum terjadi sesuatu kepada anak-anak asuh Hans!" ucap Hans dengan binar bening yang terlihat jelas di matanya.
"Apa kamu sudah memberitahu Sela?" tanya Lukman yang tidak mengetahui apa-apa tentang hubungan putranya dengan Sela.
"Sudah Pa, Papa tidak perlu khawatir! Hans mau beres-beres dulu!"
Hans terpaksa berbohong kepada papanya. Laki-laki itu kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan Lukman sendirian di ruang keluarga. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kalau perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya ada yang aneh dengan anak itu!" batin Lukman sembari menatap punggung Hans yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sesampainya didalam kamar, Hans mulai mengeluarkan kopernya dari dalam lemari. Dengan mata yang masih berbinar, laki-laki itu memasukkan satu persatu pakaian yang akan dia bawa dan menyusunnya dengan rapi.
"Sudah satu minggu berlalu, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu Sela! Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kamu juga memikirkan aku?" gumam Hans dengan air mata yang tak bisa dia bendung lagi.
Hans menutup resleting kopernya dengan berderaian air mata. Hatinya masih sangat menginginkan Sela, namun keadaan tidak mengizinkan mereka berdua untuk bersatu.
*****
"Papa hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Hans! Jangan lupa jaga kesehatan, Hans sangat menyayangi Papa!" ucap Hans sembari memeluk tubuh Lukman dengan erat.
"Iya Nak, kamu tidak perlu khawatir! Setelah urusan di sana selesai, kamu harus cepat pulang! Papa dan Om Alvin akan membuat pesta pernikahan yang mewah untuk kamu dan Sela!" ucap Lukman yang masih tidak tau mengenai hubungan Sela dan Hans.
Mendengar ucapan papanya, Hans langsung terdiam tanpa bisa berucap sepatah katapun. Lukman terlihat begitu senang, entah apa yang akan terjadi jika Lukman tau kalau Hans sudah tidak berhubungan lagi dengan Sela.
"Iya Pa, Hans pergi dulu!"
Hans bahkan tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada papanya. Hans takut jantung papanya kambuh jika mengetahui yang sebenarnya.
Hans masuk kedalam mobil, tanpa menoleh lagi ke belakang. Hans tidak ingin papanya melihat kesedihan yang tengah dia rasakan saat ini. Binar bening itupun kembali tercurah, saat mobil yang dia tumpangi melaju meninggalkan kediamannya.
__ADS_1
Ditempat lain, Sela baru saja berangkat dari rumahnya menuju kantor. Entah kenapa, hati Sela saat itu terasa begitu gelisah. Gadis itu bahkan tidak bisa konsentrasi menyetir mobilnya.
Tepat di perempatan jalan, tiba-tiba lampu merah menyala. Beberapa mobil yang tengah melewati jalan itupun berhenti mengikuti rambu-rambu lalu lintas.
Tidak disangka, mobil yang di tumpangi Hans saat itu tengah berada dibarisan yang sama dengan mobil Sela.
Hans tidak sengaja menoleh dan melihat kearah gadis yang dia cintai itu. Mata Hans langsung terbuka lebar dan tak putus-putusnya memandangi Sela yang saat itu hanya fokus menatap kearah depan.
"Dag... Dig... Dug..."
Jantung Hans mulai berdetak begitu kencang. Meskipun tidak bisa menyentuh gadis yang dia cintai, tapi Hans sudah merasa sangat senang karena masih bisa melihat wajah gadisnya sebelum berangkat meninggalkan kota ini.
Tidak lama, lampu hijau pun mulai menyala. Sela menoleh kearah Hans, namun Hans dengan cepat mengalihkan pandangannya agar Sela tidak melihat dirinya.
Dua mobil itupun kembali melaju kearah tujuan mereka masing-masing.
Sesampainya di bandara, Hans turun dari mobilnya dengan kaki yang terasa sedikit bergetar. Berat sekali rasanya meninggalkan gadis yang sangat dia cintai. Tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain, untuk tetap berada didekat gadis yang tidak menginginkan dirinya sama sekali.
Hans mulai mengayunkan kakinya. Dengan wajah yang terlihat begitu gusar, Hans naik kedalam pesawat yang akan segera berangkat.
"Selamat tinggal Sela, aku akan selalu mencintaimu meskipun jarak kita sudah semakin jauh!" batin Hans sembari mengusap wajahnya yang sudah mulai basah dengan air mata.
Tidak berselang lama, pesawat yang di tumpangi Hans akhirnya lepas landas. Kepergian Hans saat ini, meninggalkan semua kenangan manis yang pernah terukir di hatinya.
Sementara itu, Sela baru saja tiba di kantornya. Perasaan gadis cantik itu terasa semakin tak menentu. Pikirannya kembali dibayang-bayangi oleh senyuman Hans yang selalu mengganggu ingatannya.
"Ada apa denganku? Kenapa sejak tadi bayangan Hans terus saja menghantuiku?" batin Sela sembari tersandar ditempat duduknya.
Sela merasa semakin gelisah, hingga akhirnya gadis cantik itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Sela berniat menghubungi Hans dan menanyakan kabar laki-laki tampan itu.
Namun sayang seribu kali sayang, ponsel Hans tidak bisa di hubungi sama sekali. Beberapa kali Sela mencobanya, tapi tetap saja nomor yang Sela hubungi selalu berada diluar jangkauan.
__ADS_1