
"Selamat pagi Nona, apa Pak Alvin sudah datang? Saya ingin bertemu dengan beliau!" ucap seorang laki-laki paruh baya kepada resepsionis yang bernama Ririn.
"Maaf Pak, apakah Bapak sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Ririn sembari menatap kagum kearah dua orang laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya itu.
"Belum, katakan saja Lukman ingin bertemu dengannya!" ucap laki-laki paruh baya yang ternyata adalah sahabat lama Alvin.
"Oh, jadi Bapak yang bernama Pak Lukman. Maaf ya Pak, saya tidak tau! Pak Alvin sudah menunggu anda di ruangannya, mari saya antar!" ucap Ririn sembari melangkah meninggalkan tempat duduknya.
Lukman dan putra semata wayangnya yang bernama Hans itupun, berjalan mengikuti langkah kaki resepsionis cantik itu.
Sesampainya di depan pintu ruangan Alvin, pandangan Hans sedikit teralihkan, saat melihat seorang wanita cantik yang dia kenali sedang berjalan didepan matanya.
"Papa duluan saja ya, nanti aku menyusul!" ucap Hans sembari terus menatap kearah wanita cantik itu.
"Kamu mau kemana, Hans?" tanya Lukman sembari melirik kearah putranya.
"Ada urusan sebentar, Pa!" ucap Hans sembari berjalan secepat mungkin mengikuti wanita yang sudah membuatnya penasaran.
Lukman hanya bisa tersenyum melihat tingkah aneh putranya itu. Laki-laki paruh baya itupun menggelengkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Tok... Tok... Tok..."
"Masuklah!" ucap Alvin dari dalam ruangannya.
"Permisi Pak Alvin, tamu yang Bapak tunggu sudah datang!" ucap Ririn kepada Bosnya.
"Baiklah, suruh masuk saja!" perintah Alvin yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabat lamanya itu.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu!" sahut Ririn sembari meninggalkan ruangan Alvin.
Resepsionis cantik itupun mempersilahkan Lukman untuk masuk ke ruangan Alvin dan melangkah kembali menuju meja kerjanya.
"Alvin...!" sapa Lukman dari depan pintu.
"Lukman, kamu datang juga. Ayo masuklah!" ucap Alvin sembari melangkah menghampiri sahabatnya itu.
Tanpa sungkan, Alvin langsung memeluk sahabatnya itu dan membawanya duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
"Tidak disangka, akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama. Bagaimana kabarmu? Kamu semakin tampan saja!" ucap Alvin yang begitu senang menyambut kedatangan Lukman.
"Hahahaha, seperti yang kamu lihat. Kamu ini semakin terlihat muda saja Alvin!" ucap Lukman sembari tertawa begitu lepas.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu bisa saja. Aku sudah tua, sekarang sudah jadi kakek." sahut Alvin yang ikut tertawa terbahak-bahak mendengar pujian sahabatnya.
"Wow, beruntung sekali kamu Alvin. Masih muda sudah jadi kakek. Sedangkan aku masih begini saja, tidak ada perubahan." ucap Lukman yang merasa iri dengan kebahagiaan sahabatnya.
"Dimana Hans, kenapa tidak membawanya bersamamu?" tanya Alvin yang ingin sekali melihat putra sahabatnya itu.
"Ada, dia masih diluar. Entah apa yang sedang dilakukan anak itu? Makin hari makin membingungkan saja." ucap Lukman sembari memegangi kepalanya.
"Tidak perlu dipikirkan, namanya juga anak muda!" sahut Alvin sembari tersenyum lebar.
Alvin dan Lukman akhirnya berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka masing-masing. Mereka juga asyik membahas masalah anak-anak dan keinginan yang ingin mereka realisasikan.
Diluar sana, Hans tengah mengekori seorang wanita cantik yang sudah membuatnya penasaran. Wanita yang menjadi targetnya itu tidak lain adalah Sela yang tadi pagi sempat berselisih paham dengannya di mall.
Sela kembali masuk kedalam ruangannya tanpa curiga sedikitpun ada orang yang sedang mengikutinya.
Tanpa ragu, Hans langsung membuka pintu ruangan wanita cantik itu tanpa permisi terlebih dahulu.
"Hai, maaf karena aku sudah lancang masuk kedalam ruangan mu!" ucap Hans yang langsung mendekat kearah meja kerja Sela.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Kamu membuntuti aku ya!" ketus Sela yang terkejut melihat laki-laki tampan yang sudah berdiri di depannya itu.
"Tidak, aku ada urusan disini dan tidak sengaja melihatmu! Makanya aku mengikuti mu sampai ke ruangan ini." sahut Hans dengan tampang santainya.
"Kenapa terburu-buru? Aku bahkan belum sempat duduk." ucap Hans sembari tersenyum tipis.
"Tidak perlu duduk, pergilah! Aku akan mentransfer uangmu segera!" ketus Sela sembari mendorong tubuh Hans kearah pintu.
Hans menahan kakinya dan menggenggam tangan Sela dengan erat. Laki-laki tampan itu benar-benar penasaran dengan wanita cantik yang saat ini sedang berada sangat dekat dengannya.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Jangan menyentuhku, aku tidak seperti yang kamu pikirkan! Lepaskan aku!" bentak Sela yang sudah menggigil ketakutan.
"Ada apa denganmu?" tanya Hans sembari mengernyitkan keningnya.
"Katakan saja, berapa uang yang kamu inginkan? Tapi tolong lepaskan tanganku, hiks,,," ucap Sela yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku tidak membutuhkan uangmu, aku ingin bayaran yang lain!" ucap Hans menggoda Sela yang sudah mati kutu di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan dariku? Aku hanya mempunyai sedikit uang, mobil dan apartemen. Jika kamu mau ambil saja, tapi jangan apa-apakan aku. Aku mohon!" ucap Sela yang mulai berpikiran ngelantur.
Kata-kata Sela itu membuat Hans terdiam dan menatap wajah wanita cantik itu dengan tatapan yang sulit di mengerti.
__ADS_1
Hans benar-benar kagum melihat kepolosan Sela yang jarang sekali dia temui pada wanita lain yang selama ini dia kenal.
Melihat Sela yang sudah ketakutan dan menangis, Hans pun melepaskan tangan Sela dan membiarkan wanita cantik itu menjauh darinya.
"Kenapa kamu begitu takut padaku? Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin mengenalmu!" ucap Hans dengan lemah lembut.
"Apa? Kamu tidak ingin meminta bayaran?" tanya Sela dengan polosnya.
"Tentu saja tidak! Tapi karena kamu sudah menuduhku, aku akhirnya berubah pikiran." ucap Hans dengan senyuman liciknya.
"Apa maksudmu?" tanya Sela yang tidak mengerti dengan ucapan Hans.
"Sebagai bayarannya, malam ini kamu harus makan malam denganku! Kalau tidak, bukan hanya tanganmu saja yang akan aku sentuh. Tapi yang lainnya juga!" ucap Hans menakut-nakuti Sela.
"Apa? Tolong, jangan lakukan itu! A...Aku mau makan malam denganmu, tapi hanya makan malam saja kan?" ucap Sela dengan tatapan menyedihkan.
"Gadis pintar. Sini, pinjam ponselmu!" ucap Hans meminta ponsel Sela.
"Untuk apa?" tanya Sela heran.
"Untuk menyimpan nomorku lah, untuk apa lagi?" ketus Hans yang membuat Sela tidak bisa berkutik lagi.
Wanita yang sudah ketakutan itupun memberikan ponselnya ke tangan Hans. Dengan cepat, Hans menyimpan nomor Sela di ponselnya, dan nomornya di ponsel Sela.
Setelah mendapatkan nomor telepon Sela, Hans pun pamit dan melangkah meninggalkan ruangan wanita cantik yang sudah membuatnya bertingkah sedikit aneh.
Sela yang sudah tinggal sendirian di ruangannya, hanya bisa menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Wanita itu benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Hans.
"Laki-laki yang aneh! Apa yang harus aku lakukan?" batin Sela yang sudah terlanjur setuju dengan ajakan Hans.
Sementara itu, Hans tengah berjalan ke ruangan Alvin dengan senyuman yang begitu menawan. Laki-laki itu sangat puas karena sudah berhasil mengerjai Sela.
"Tok... Tok... Tok..."
Hans mendorong pintu ruangan Alvin dan berjalan kearah Papanya yang masih asyik mengobrol di sofa.
"Itu dia anak nakal yang kita tunggu-tunggu." ucap Lukman sembari menoleh kearah putranya yang baru saja masuk.
Alvin benar-benar terkejut melihat laki-laki tampan yang sudah berdiri tegak didepannya itu. Alvin tidak menyangka kalau putra sahabatnya itu lebih tampan dari yang dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1