Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 12. Cemburu Buta


__ADS_3

Malam menyampaikan apa yang tak di ketahui terang, sunyi dan kosong tak selalu dapat di singgahi.


Hati yang sudah mulai terisi, tercabik hanya karena satu goresan.


Melia kembali melancarkan aksinya.


Dengan cepat dia mengambil segelas minuman dan dengan sengaja menumpahkannya ke pakaian yang di kenakan Aldo.


Seketika orang-orang yang berada di ruangan itu terkejut dan menatap ke arah mereka berdua.


"Aduh, maaf ya Aldo! Aku gak sengaja." ucap Melia sambil bergegas mengambil tisu dan menyeka bagian tubuh Aldo yang basah tersiram minuman.


Melia memang wanita yang menjijikkan, dengan santainya dia mengambil kesempatan untuk memegang bagian dada Aldo dan merabanya dengan tangan kotornya itu tanpa rasa malu.


"Sudah, tidak apa-apa!" jawab Aldo sambil menjauhkan tangan Melia dari tubuhnya.


Cika yang dari tadi hanya duduk berdiam diri, merasa bagaikan butiran debu yang tak berharga sama sekali.


"Sel, aku ke toilet dulu ya." ucap Cika sambil berbisik di telinga Sela.


"Ya," jawab Sela singkat tanpa menyadari apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. Matanya sedang tertuju pada Melia yang membuatnya sangat geram.


Cika berdiri dari tempat duduknya dan segera melangkah ke arah dapur.


Perasaannya semakin tidak karuan.


Entah apa yang mengganggu pikirannya saat itu, sehingga tanpa di sengaja kakinya tersandung di karpet yang terbentang di atas lantai.


"Auuu,,," suara rintihan dari bibir manisnya Cika.


Bi Wati yang sedang berada di dapur, terkejut dan segera berlari menghampirinya.


"Non,, Non kenapa kok bisa jatuh?." tanya Bi Wati mengkhawatirkan keadaannya.


"Gak apa-apa Bi, aku cuma sedikit pusing." jawab Cika sambil memegangi kepalanya.


"Sini bibi bantu berdiri!" ucap Bi Wati sambil mengangkat tubuh Cika dan mendudukkan nya di atas kursi.


"Kening non berdarah." ucap Bi Wati dengan nada cemas.


Bi Wati dengan segera melangkah mengambil kotak P3k di dalam lemari dapur. Dia bergegas membersihkan luka di kening Cika agar tidak infeksi dan segera menempelnya dengan plester.


"Terimakasih ya Bi!" ucap Cika dengan senyum di wajah manisnya.

__ADS_1


"Sama-sama non." balas Bi Wati lagi.


Karena merasa masih sedikit pusing, Cika meminta izin untuk beristirahat dikamar Bi Wati.


"Bi, apa Cika boleh numpang istirahat sebentar di kamar bibi?" tanya Cika yang masih meringis kesakitan.


"Jangan Non! Non istirahat dikamar tamu saja ya! Biar bibi antar." ucap Bi Wati.


"Gak usah Bi, di kamar bibi saja ya." ucap Cika dengan nada sedikit memohon.


"Ya sudah kalau maunya non seperti itu." jawab Bi Wati yang tidak bisa menolak permintaan Cika.


Bi Wati dengan segera mengantar Cika ke kamarnya. Cika pun segera berbaring untuk melemaskan otot-otot nya yang mulai terasa sakit.


Hari sudah menunjukkan pukul 22.00 Wib. Melia dan keluarganya sudah pergi meninggalkan rumah Aldo.


Sela pun masih asyik mengobrol dengan om dan tantenya diruang tamu.


Sementara itu, Aldo melangkah meninggalkan mereka dan berjalan menuju belakang untuk mencari keberadaan Cika.


Aldo mencari ke setiap sudut ruangan belakang, tapi dia tidak menemukan Cika sama sekali.


Yang terlihat cuma Bi Wati yang sedang menyusun piring yang sudah selesai dicuci.


"Bi, apa bibi melihat Cika?" tanya Aldo yang sedang mencemaskan orang yang dia cintai itu.


"Ngapain dia dikamar bibi?" tanya Aldo dengan tampang sedikit bingung.


"A, anu den, tadi non Cika terjatuh di sana. Lalu dia minta dibawa ke kamar bibi." ucap Bi Wati dengan wajah sedikit pucat karena takut di marahi Aldo.


Aldo yang terkejut mendengar perkataan Bi Wati segera berlari menuju kamar belakang. Dia mulai merasa cemas dan takut terjadi apa-apa dengan wanita yang dicintainya itu.


Sesampainya di depan pintu kamar, Aldo segera membuka pintu dan bergegas masuk untuk melihat keadaan Cika.


Cika sedang terlelap di atas ranjang dengan wajah yang terlihat sedikit pucat. Aldo segera menghampiri nya dan betapa terkejut nya dia melihat kening Cika yang sudah ditempel dengan plester.


"Cika, Cika sayang kamu kenapa?" tanya Aldo sambil mengelus elus kepala Cika dengan penuh kasih sayang.


Cika terbangun dan membuka kedua matanya. Tapi dia sama sekali tidak sanggup untuk bersuara karena sekujur badannya mulai terasa bergetar.


Hanya tatapan kosong yang terpancar dari raut wajah cantiknya itu.


Melihat semua itu, Aldo semakin merasa khawatir dengan keadaan Cika.

__ADS_1


"Kita ke dokter ya!" ajak Aldo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Cika hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak mau di bawa ke dokter.


Aldo semakin panik melihat keadaan Cika, tanpa berpikir panjang dia segera mengangkat tubuh Cika dan membawanya keluar dari kamar bi Wati. Dia bergegas berjalan menuju kamar miliknya.


Sela yang melihat Aldo sedang menggendong Cika, kemudian bergegas mengikuti Aldo dari belakang di susul mama dan papa Aldo. Mereka bertiga juga merasa panik karena tidak mengetahui apa yang telah terjadi.


"Ada apa dengan Cika Do?" teriak Sela.


"Nanti saja bicaranya. Tolong buka kan pintu kamar aku dulu!" tegas Aldo.


Ara dan Alvin pun semakin bingung melihat kekhawatiran yang berlebihan dari putranya itu. Mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain.


"Tapi kenapa harus di bawa ke kamar kamu sayang? Bukannya ada kamar tamu." tambah mama Ara dengan wajah yang semakin terlihat bingung.


Aldo hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari mamanya itu.


Sesampainya dikamar, Aldo segera membaringkan tubuh Cika di atas ranjang dan menutup nya dengan selimut.


"Sel, tolong ambilkan air sama kain ya!" ucap Aldo sambil menggenggam tangan Cika.


Ara dan Alvin hanya terdiam melihat putranya itu. Mereka berdua sengaja tidak bertanya karena tidak ingin menambah pikiran putra bungsunya itu.


Sela datang membawa air dan juga kain yang diminta Aldo. Dengan segera Aldo mengompres kepala Cika.


"Cika, bangun!" ucap Aldo sambil menggosok-gosok telapak tangan Cika dengan kedua tangannya.


Sela memutuskan untuk meninggalkan kamar dan mengajak mama papa Aldo untuk ikut bersamanya.


"Om, Tante, kita tunggu diluar saja ya!" ajak Cika sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang kemudian di ikuti om dan tantenya dari belakang.


Mereka bertiga kembali turun ke lantai bawah dan melangkah menuju ruang keluarga.


"Sela, ada apa?" tanya mama Ara yang masih bingung.


"Aku juga gak tau Tan?" jawab Cika dengan wajah yang tidak kalah bingung.


Tiba-tiba Bi Wati datang mendekat ke arah mereka.


"Maaf nyonya, tadi non Cika terjatuh. Kepalanya terbentur di sudut kursi dan terluka. Mungkin karena itu tubuhnya terasa lemas nyonya." jelas Bi Wati memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya sudah Bi, terimakasih!" ucap Ara.

__ADS_1


"Iya nyonya." jawab Bi Wati sambil berlalu pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.


Mama Ara mulai mengerti apa yang dimaksud Bi Wati. Tapi dia malah tidak mengerti dengan sikap putranya yang terlalu berlebihan terhadap Cika.


__ADS_2