Hati Berdarah

Hati Berdarah
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Pagi itu benar-benar terasa begitu indah untuk sepasang sejoli yang sedang dilanda asmara itu.


Cika mulai merasa sesak dan susah untuk mengambil nafas. Tanpa ragu dia mendorong tubuh Aldo dari hadapannya. Aldo pun terkejut dengan reaksi Cika yang tiba-tiba menjauh darinya itu. Aldo mundur satu langkah dan mulai bersuara.


"Cika, a... aku,"


"Diam lah!" ucap Cika memotong perkataan Aldo.


Cika sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Aldo untuk berbicara. Dia merasa malu dengan apa yang telah mereka lakukan dan segera berlari keluar meninggalkan Aldo sendirian di kamar itu dalam keadaan bingung.


"Ya Tuhan, apa yang baru saja kami lakukan? Mengapa aku bisa seceroboh ini?" batin Cika menahan rasa malu yang teramat sangat.


"Aku telah memberikan ciuman pertamaku untuk Aldo, sungguh aku merasa begitu buruk dihadapannya. Apa nanti yang akan dia pikirkan tentangku?" batin Cika kembali dalam penyesalan akan kebodohan yang telah dia lakukan.


Sementara itu di dalam kamar, Aldo masih saja berdiri mematung. Dia masih bingung melihat reaksi Cika. Dia mulai merasa bersalah atas kelancangannya terhadap gadis itu. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk kurang ajar kepada Cika. Aldo melakukan semua itu benar-benar atas dasar cinta.


"Maafkan aku Cika, aku tidak mampu menahan diri untuk tidak melakukannya. Aku melakukan itu semua karena aku sangat mencintaimu." batin Aldo memendam perasaan yang belum bisa dia ungkapkan kepada Cika.


Aldo segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi dia memakai pakaian dan melangkah keluar kamar untuk menemui Cika.


Aldo mencari-cari Cika ke sana kemari, tapi dia sama sekali tidak menemukan keberadaan gadis itu. Disaat kakinya melangkah ke arah dapur, dia kemudian tersenyum melihat Cika yang sedang asyik memasak sarapan pagi. Aldo menghentikan langkahnya, dia sengaja berdiam diri di pojok dapur memperhatikan wanitanya itu.


"Benar-benar calon istri idaman." gumam Aldo dengan tangan yang dilipat di dadanya.


Cika tidak menyadari keberadaan Aldo di dekatnya, dia terus saja melakukan pekerjaannya tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Aldo melangkah dengan pelan dan kemudian duduk di meja makan. Cika yang sudah selesai memasak, segera berbalik hendak menaruh makanan di atas meja.


Namun dia terkejut saat melihat Aldo yang sudah duduk di hadapannya. Cika sama sekali tidak menghiraukan Aldo, dia terus saja dengan kesibukannya.


Setelah semuanya terhidang, Cika segera melangkahkan kakinya meninggalkan dapur. Aldo yang bingung dengan sikap Cika kemudian bergegas berlari dan memeluk tubuh Cika dari belakang.


Cika berusaha untuk melepaskan pelukan Aldo dari tubuhnya, tapi Cika tak bisa karena pelukan Aldo malah semakin kencang.


"Lepaskan aku Aldo!" ucap Cika dengan nada yang begitu kesal.


"Aku tidak akan melepaskan mu!" jawab Aldo sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Cika.


"Ada apa denganmu Aldo, kenapa kamu jadi seperti ini?" bentak Cika dengan suara yang terdengar sedikit keras.

__ADS_1


"Temani aku sarapan ya!" pinta Aldo sambil membalikkan tubuh Cika ke arahnya.


"Kenapa aku harus menemani mu, apa kamu tidak bisa untuk makan sendiri?" ketus Cika yang semakin kesal dengan perlakuan Aldo terhadapnya.


"Sudah sayang, jangan marah-marah seperti ini!" balas Aldo sambil menarik tangan Cika dan membawanya kembali ke arah meja makan.


"Duduklah, kita sarapan dulu. Setelah itu kita akan bicara!" ujar Aldo sambil mengisi makanan ke dalam piringnya.


Sejenak suasana terasa begitu hening. Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir Aldo maupun Cika. Mereka berdua hanya fokus menyantap makanan yang ada di piring mereka masing-masing.


Selesai makan Cika segera membersihkan meja dan mencuci piring kotor yang baru saja mereka gunakan. Aldo hanya diam memperhatikan setiap pekerjaan yang Cika lakukan.


"Sudah selesai?" tanya Aldo yang melihat Cika sedang melangkah meninggalkan dapur.


"Sudah," jawab Cika singkat tanpa mempedulikan Aldo.


"Ayo ikut aku!" ajak Aldo sambil menggenggam tangan Cika.


Aldo membawa Cika ke arah kamar.


Sesampainya di depan pintu, Cika berhenti dan menahan langkah kakinya.


"Kenapa berhenti?" tanya Aldo membalikkan badannya ke arah Cika.


"Aku tidak mau!" jawab Cika sambil memalingkan wajahnya.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, kenapa kamu harus takut?" ucap Aldo dengan tatapan tajamnya.


"Dasar wanita aneh, dia pikir aku ini laki-laki apaan?" batin Aldo yang mulai kesal melihat tingkah laku Cika yang takut terhadapnya.


Aldo kembali menarik tangan Cika dan membawanya ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Aldo segera mengunci pintu dan memasukkan kunci ke dalam saku celananya.


"Aldo, apa yang kamu lakukan? Aku mau keluar!" teriak Cika yang membuat kuping Aldo terasa pekak.


"Bisa pelan-pelan gak ngomongnya, aku ini belum tuli!" ujar Aldo sambil menjauh dari pintu kamar dan berbaring di atas ranjang empuk miliknya.


Cika semakin merasa kesal dengan sikap Aldo, dia kemudian menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan dan duduk di sudut ranjang menghadap ke arah jendela kamar.


Aldo yg melihat semua itu hanya tersenyum menyaksikan betapa lucunya wajah Cika disaat marah terhadap dirinya.

__ADS_1


"Sayang,..."


"Gak ada sayang-sayang." ketus Cika memotong perkataan Aldo.


"Hahahaha..." Aldo hanya tertawa sembari melirik ke arah Cika.


Aldo ingin memulai pembicaraan, dia mencoba menghampiri Cika dan duduk di sebelahnya. Aldo sendiri bingung mau memulainya dari mana.


"Tolong jangan marah seperti ini!" pinta Aldo sambil meletakkan dagunya di pundak Cika.


"Kamu jahat," tegas Cika sambil meneteskan butir kecil di pipinya.


"Aku gak jahat sayang," balas Aldo dengan wajah polosnya seperti tak pernah terjadi apa-apa.


"Kamu jahat Aldo, aku benci sama kamu. Aku mau pergi dari sini, tolong antar aku pulang ke apartemen Sela. Aku tidak mau melihat wajah kamu lagi, kamu telah mengambil ciuman pertamaku. Aku benci sama kamu Aldo, aku benci, hiks,,,hiks,"


Cika berteriak sambil mengepalkan kedua tangannya saking geramnya melihat wajah Aldo.


Mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir manis Cika, Aldo pun seketika langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha...Hahahaha..."


"Apa bedanya antara aku dan kamu?" ucap Aldo sambil menatap dalam ke wajah Cika.


Cika hanya menoleh memalingkan wajahnya, dia merasa bingung dengan perkataan Aldo.


"Kamu bilang aku jahat karena telah mencuri ciuman pertama mu. Lalu kamu bagaimana, kamu juga jahat Cika?" ucap Aldo berbisik di daun telinga Cika.


"Kejahatan apa yang sudah ku lakukan padamu, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud?" jawab Cika yang semakin merasa kesal mendengar ucapan Aldo.


"Kamu juga sudah mengambil ciuman pertama ku Cika, apa itu gak jahat? Bukan hanya itu, kamu juga sudah mencuri hatiku. Kamu membuat ku tergila-gila kepadamu." ucap Aldo sambil memeluk tubuh Cika dari arah samping.


"A... Aku,..."


"Sudahlah Cika, jangan seperti ini. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!" ucap Aldo memotong perkataan Cika dan menumpahkan segala isi di hatinya. Cika pun seketika terdiam mendengar pengakuan Aldo kepada dirinya itu.


Aldo mencoba bangkit dan menekuk kakinya di atas lantai. Dia duduk di bawah kaki Cika dan meletakkan kepalanya di atas paha gadis itu.


Cika merasa tidak enak hati dan mencoba mengangkat tubuh Aldo, namun laki-laki menahannya dengan kuat.

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini, tolong jangan marah. Aku minta maaf jika aku bersalah kepadamu, aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintaimu Cika. Tolong beri aku kesempatan!" pinta Aldo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


__ADS_2