
Pagi harinya, Cika sudah terlihat sangat rapi dan cantik. Begitupun dengan Aldo yang baru saja keluar dari kamar mandi. Cika bergegas membantu suaminya mengenakan pakaian yang sudah dia sediakan di atas tempat tidur.
"Sayang, jangan terlalu memanjakan aku seperti ini! Aku bisa sendiri kok." ucap Aldo yang merasa kasihan melihat istrinya yang sudah semakin sulit untuk bergerak.
"Tidak apa-apa sayang! Aku ini adalah istrimu, sudah sewajarnya aku melayani semua kebutuhanmu!" sahut Cika yang tidak ingin melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tapi, beban di perutmu sudah semakin berat sayang. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian berdua!" ucap Aldo sembari mengelus perut istrinya yang sudah semakin membesar.
"Kamu terlalu berlebihan sayang, ini bukanlah pekerjaan berat! Masa' aku harus tiduran terus, bosan tau." sahut Cika sembari memanyunkan bibirnya.
"Tugasmu sekarang adalah melayaniku di atas tempat tidur, itu sudah lebih dari cukup sayang!" ucap Aldo dengan senyum menyeringai kearah istrinya.
"Ih, enak di kamu gak enak di aku dong." sahut Cika sembari mencubit perut suaminya.
"Aw, sakit sayang." ketus Aldo yang merasa sedikit panas di perutnya.
"Makanya jangan mikirin itu terus!" sahut Cika sembari tersenyum manja.
"Tapi, penampilanmu yang seperti ini membuatku semakin bergairah sayang. Rasanya sungguh luar biasa." ucap Aldo menggoda istri cantiknya itu.
"Sudahlah Aldo, jangan membahas itu terus! Sudah mau jadi ayah, pikirannya masih tetap saja kotor seperti ini." gerutu Cika dengan tatapan penuh kekesalan.
Cika melangkah kearah meja rias. Tangan wanita itu mulai meraih sisir dan merapikan rambutnya sembari tersenyum didepan cermin.
Melihat istrinya yang tengah senyum-senyum sendiri. Aldo pun bergegas menghampiri Cika dan memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
"Lihatlah, kamu saja tersenyum begitu senangnya. Apalagi aku." ucap Aldo sembari mengecup kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Hei, enak saja. Aku tidak memikirkan itu. Kamu saja yang terlalu percaya diri." ketus Cika tersipu malu.
"Jangan bohong padaku, sayang! Aku tau kamu sangat menikmatinya. ******* kamu semalam, sampai menggema memenuhi seisi kamar loh!" goda Aldo yang membuat Cika benar-benar merasa salah tingkah.
"Sudah cukup Aldo, jangan membahas itu lagi! Aku malu." ucap Cika sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Cika sayang, kita ini bukanlah orang asing yang baru saja saling mengenal. Aku suamimu, dan kamu adalah istriku. Kita sudah saling melihat dan merasakan satu sama lain. Kenapa masih malu pada suamimu sendiri?" ucap Aldo sembari mengangkat tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Hehehe, kamu ini. Ayo turun, aku sudah lapar!" ucap Cika yang tidak ingin melayani godaan suaminya lagi.
Mendengar ucapan Cika, Aldo pun mulai melepaskan pelukannya. Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya dengan erat dan berjalan meninggalkan kamar mereka menuju lantai bawah.
Sesampainya di ruang makan, ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka semua mulai menikmati hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
Selesai sarapan, satu persatu anggota keluarga mulai beranjak dari tempat duduknya.
Sela berangkat lebih dulu karena ada pekerjaan yang belum sempat dia selesaikan. Begitupun dengan Ilham yang sudah mempunyai janji dengan seseorang.
Alvin dan Aldo pun mulai berpamitan kepada istri mereka masing-masing. Aldo mencium kening istrinya sembari mengelus perut Cika dengan lembut.
"Sayang, kamu di rumah saja ya! Jangan pergi kemana-mana! Aku masih kepikiran dengan ucapan Hans kemarin." ucap Aldo memperingatkan istrinya untuk tetap diam di rumah.
"Iya sayang, lagian aku mau kemana dalam keadaan seperti ini? Mama juga tidak mengizinkan aku datang ke butik!" sahut Cika sembari menyalami dan mencium tangan suaminya.
"Baguslah, saat ini keselamatan kalian berdua lah yang paling penting untukku!" ucap Aldo yang mulai merasa tidak tenang memikirkan istri dan calon bayinya.
"Mama pergi dulu ya, sayang! Kalian hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa cepat hubungi Aldo!" ucap Ara yang juga merasa ketakutan mendengar ucapan Hans kemarin.
"Iya Ma, Mama tenang saja!" sahut Cika dan Mila secara bersamaan.
Cika dan Mila menyalami tangan mama mertua mereka dan menciumnya secara bergantian. Ara pun mulai menghilang dari pandangan mereka berdua.
Setelah semuanya meninggalkan rumah, Cika dan Mila memilih untuk duduk di ruang keluarga. Keberadaan Mikaila saat ini, membuat dua wanita cantik itu tidak merasa kesepian sama sekali.
"Cika, ada apa sebenarnya? Kenapa Aldo berbicara seperti tadi?" tanya Mila yang penasaran dengan ucapan Aldo tadi.
"Cika juga tidak tau Kak. Semalam Sela pulang bersama Hans, ternyata Hans itu adalah laki-laki yang sudah menolong Cika waktu itu. Eh, Aldo malah cemburu gara-gara Hans waktu itu datang ke kontrakan Cika." sahut Cika menjelaskan kepada kakak sepupunya.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Mila yang masih belum puas dengan jawaban adiknya.
__ADS_1
"Hans kemudian menjelaskan semua kesalahpahaman itu pada Aldo. Hans juga mengatakan kalau kecelakaan itu sepertinya sudah di rencanakan oleh seseorang. Makanya Aldo jadi waspada seperti tadi. Termasuk Mama yang tidak mengizinkan Cika datang ke butik lagi!" sahut Cika kepada kakaknya.
"Ya Tuhan, siapa orang yang ingin mencelakai kamu itu Cika?" tanya Mila yang mulai khawatir.
"Cika juga tidak tau Kak, mungkin seseorang yang tidak senang melihat Cika bersama Aldo!" sahut Cika menerka-nerka.
"Apa mungkin wanita yang tempo hari memfitnah Aldo?" tanya Mila mencurigai Melia yang sempat membuat hubungan Aldo dan Cika berantakan.
"Entahlah Kak, kata Aldo wanita itu sudah pergi ke luar negeri! Bagaimana mungkin dia melakukan semua itu?" sahut Cika sembari berpikir panjang.
"Apa kamu curiga pada seseorang?" tanya Mila lagi.
"Tidak Kak, Cika tidak pernah mempunyai musuh!" sahut Cika yang memang tidak pernah menyakiti orang lain selama ini.
"Ya sudah, tidak usah dipikirkan lagi! Intinya mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati, ingat perkataan suamimu tadi!" ucap Mila yang juga mencemaskan keselamatan adiknya itu.
Tidak berselang lama, percakapan mereka berdua akhirnya terhenti. Suara tangisan Mikaila yang begitu nyaring, membuat kakak adik itu saling tersenyum satu sama lain.
Dengan naluri keibuannya yang begitu besar, Cika mulai mengangkat tubuh mungil gadis kecil itu kedalam pangkuannya.
"Cup... Cup... Cup... Gadis kecil aunty kenapa menangis? Kamu haus ya?" ucap Cika menenangkan gadis kecil kakaknya itu.
Melihat Cika yang begitu sayang terhadap Mikaila, Mila pun tersenyum sembari mengusap rambut adiknya itu dengan lembut.
"Sini sayang, biar Kakak susui dulu! Mikaila pasti haus." ucap Mila sembari mengulurkan kedua tangannya kearah Cika.
Cika yang menyadari maksud tangisan Mikaila itupun segera memberikan gadis kecil itu ke tangan kakak sepupunya.
Mikaila mulai menyedot asi mamanya dengan begitu lahap. Sesaat, Cika merasa tersentuh melihat pemandangan indah didepan matanya itu. Wanita cantik itupun mulai mengusap perutnya sendiri dengan pelan.
"Bagaimana rasanya Kak, sakit tidak?" tanya Cika yang mulai penasaran.
"Awalnya memang terasa sedikit sakit. Tapi lama kelamaan sakitnya juga hilang sendiri, nikmati saja! Kamu sudah tidak sabar ingin merasakannya ya!" ucap Mila menggoda Cika.
__ADS_1
"Kakak ini ada-ada saja." sahut Cika sembari tersenyum malu.