
Dikarenakan Hans tidak juga sadarkan diri, Sela pun memutuskan untuk menemani laki-lakinya itu didalam satu kamar. Sela bahkan sampai tertidur menunggu Hans sembari terus menggenggam tangan laki-lakinya itu.
Sekitar satu jam kemudian, Alvin dan Lukman pulang ke apartemen Hans. Lukman membuka pintu kamar. Matanya sampai melotot seperti mau keluar melihat pemandangan yang membuatnya tersenyum bahagia itu.
Tidak ingin mengganggu kedekatan antara mereka berdua, Lukman pun kembali menutup pintu dan melangkah kearah kamar Alvin.
"Bisakah aku tidur bersamamu malam ini?" tanya Lukman sembari tersenyum dan melangkah masuk menghampiri sahabatnya itu.
"Tentu saja, memangnya ada apa?" tanya Alvin dengan tatapan kebingungan.
"Mereka berdua sudah tertidur di kamar yang sama. Entah apa yang sudah terjadi, aku juga tidak tau. Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua malam ini!" ucap Lukman sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Apa maksudmu, Lukman? Kenapa kamu membiarkan mereka tidur bersama? Mereka belum menikah!" sahut Alvin dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Bukankah ini yang kita inginkan. Tidak masalah jika mereka belum menikah. Jika hal itu sampai terjadi, kita tinggal menikahkan mereka berdua!" ucap Lukman dengan santainya.
"Kamu ini benar-benar sudah gila, Lukman!" sahut Alvin sedikit kesal.
"Percayalah padaku. Hans adalah laki-laki yang baik. Dia pasti akan bertanggungjawab dengan segala perbuatannya!" ucap Lukman sembari memejamkan kedua matanya.
Mendengar keyakinan yang begitu besar didalam diri Lukman, Alvin pun terpaksa mengikuti keinginan sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya hati Alvin memiliki sedikit ketakutan, memikirkan nasib keponakannya itu.
Beberapa jam kemudian, Hans mulai sadar dan membuka matanya dengan pelan. Dia pun terkejut melihat Sela yang tengah tertidur dalam posisi terduduk di atas lantai. Dia juga kebingungan melihat tangan Sela yang masih menggenggam tangannya dengan erat.
Disaat ingin bangkit, Hans pun merintih saat merasakan sakit yang terasa menusuk-nusuk di bagian kepalanya.
"Awh..."
Mendengar rintihan Hans yang cukup jelas terdengar di telinga, Sela pun terperanjat dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Hans, kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit?" tanya Sela sembari bangkit dan duduk di samping Hans.
"Kenapa kamu tidur disini? Apa yang terjadi?" tanya Hans sembari memegangi kepalanya yang masih terasa berputar-putar.
"Kamu mabuk Hans. Tadi ada seorang laki-laki yang mengantarmu pulang. Kenapa kamu melakukan hal segila ini?" tanya Sela dengan tatapan mencari tau.
__ADS_1
"Tidak ada urusannya denganmu. Kembalilah ke kamarmu, aku bisa mengurus diriku sendiri!" sahut Hans sembari bangkit dan melangkah kearah kamar mandi.
Hans berjalan tertatih-tatih sembari terus memegangi kepalanya. Pemandangan itu membuat Sela tidak tega dan bergegas membantu memapah tubuh laki-lakinya itu.
"Aku bisa sendiri, tidak perlu pura-pura peduli padaku!" ketus Hans sembari menepis tangan Sela dengan kasar.
"Biarkan aku membantumu, Hans. Aku benar-benar peduli padamu!" sahut Sela yang tidak mau kalah dengan keegoisan Hans.
Sela kembali memapah tubuh Hans masuk kedalam kamar mandi. Dia pun menunggu di depan pintu, saking takutnya terjadi sesuatu dengan laki-lakinya itu.
Didalam kamar mandi, Hans membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek sebagai penutup tubuhnya. Dia pun segera membuang apa yang harus dia buang.
Tidak lama, Hans kembali membuka pintu dan melangkah kearah tempat tidur. Dia bahkan hampir tersungkur di atas lantai. Untung saja Sela dengan cepat menahan tubuhnya, hingga insiden itu tidak terjadi.
Sela membantu Hans berbaring di atas tempat tidur. Dia pun meluruskan kaki laki-lakinya itu dan menyelimuti tubuh Hans yang sudah separuh telanjang itu dengan selimut.
"Kenapa kamu masih disini, Sela? Tinggalkan saja aku sendiri, kehadiranmu disini justru membuat hatiku semakin terasa sakit!" ucap Hans dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Sudah cukup Hans, jangan bicara lagi! Jika itu yang kamu inginkan, aku akan pergi! Aku tidak akan memperlihatkan wajahku di hadapanmu lagi!" ucap Sela sembari meneteskan air matanya.
"Tunggu, Sela!" teriak Hans sembari berlari mengejar wanitanya itu.
Hans menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Tatapannya terlihat begitu intens memandangi gadis cantik yang sudah menangis ulah perkataannya itu.
"Menyingkir lah Hans. Biarkan aku pergi, jika itu bisa membuatmu senang!" ucap Sela sembari mendorong tubuh Hans agar menjauh dari pintu.
Tanpa berkata-kata, Hans langsung memeluk tubuh Sela dengan erat. Laki-laki itu tak bisa membiarkan Sela menjauh darinya. Ucapan yang keluar dari mulutnya, berbanding terbalik dengan perasaan yang tengah dia rasakan.
"Maafkan aku Sela, tolong jangan tinggalkan aku! Sekeras apapun aku mencoba melupakan dirimu, namun cinta itu tidak mau pergi dari hatiku. Apa yang harus aku lakukan, Sela? Kenapa perasaan ini begitu menyakitkan?"
Hans yang tadinya memeluk tubuh Sela, perlahan mulai turun dan menekuk kakinya hingga lututnya menyentuh lantai. Hans melingkarkan tangannya di pinggang Sela dan menenggelamkan wajahnya tepat di perut gadis cantik itu.
"Apa yang kamu lakukan, Hans? Bangunlah!" ucap Sela yang terkejut melihat tingkah laki-lakinya itu.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, Sela! Kenapa aku tidak mati saja?" isak Hans yang sudah menyerah dengan keadaannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Hans, Sela pun melepaskan tangan laki-laki yang masih melingkar di pinggangnya itu. Dia mulai menekuk kakinya hingga berhadap-hadapan dengan Hans.
"Sudahlah Hans, ayo bangunlah!" ucap Sela sembari menggenggam kedua tangan laki-laki itu dan memapahnya kearah tempat tidur.
Hans bahkan sudah tidak mampu berucap sepatah katapun. Dengan pasrah nya, dia mengikuti langkah Sela dan kembali berbaring di atas tempat tidur.
"Tidurlah, jangan memikirkan hal yang aneh-aneh lagi!" ucap Sela sembari menyelimuti tubuh laki-lakinya itu dengan selimut.
Tanpa ragu, Sela memberanikan diri menyentuh pipi Hans dengan telapak tangannya. Dia juga mulai mendekat dan menempelkan bibirnya tepat di pipi laki-lakinya itu.
Serasa bagaikan di sambar petir. Hans bahkan sampai membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja Sela lakukan.
"Sela, kamu..."
Hans kembali bangkit dan duduk di hadapan Sela. Saking senangnya, Hans langsung menarik tangan Sela dan memeluknya dengan erat.
"Sela, apa maksud semua ini? Kenapa kamu menciumku?" tanya Hans sembari menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu.
"Maafkan aku, Hans. Tolong, jangan minum lagi. Aku takut sekali melihatmu seperti tadi!" ucap Sela sembari membalas pelukan Hans.
"Apa kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Hans mencari tau.
Sela menganggukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di pundak Hans. Dia mulai meneteskan air matanya yang kemudian berjatuhan di tubuh laki-lakinya itu.
Merasa ada yang mengalir di kulitnya, Hans pun dengan cepat melepaskan pelukannya. Dia mulai menatap wajah Sela dengan intens.
"Sela, kenapa kamu menangis?" tanya Hans sembari menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya.
Sela tak sanggup menahan dirinya dan kembali memeluk tubuh Hans dengan erat.
"Maafkan aku, aku mencintaimu Hans!" ucap Sela sembari mengencangkan pelukannya.
"Sela, apa yang kamu katakan?" tanya Hans yang masih tidak percaya.
"Aku mencintaimu Hans, aku sangat mencintaimu. Tolong, jangan seperti ini lagi!" ucap Sela dengan lantang tepat di telinga Hans.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sela yang begitu jelas, Hans pun tak sanggup mengendalikan dirinya. Hans melepaskan pelukannya dan mencium pipi Sela saking senangnya.