
Siang itu, Hans tengah menikmati jam makan siang bersama papanya di luar kantor. Hans mulai menceritakan semuanya kepada Lukman. Hans menarik kata-katanya kembali dan menyetujui permintaan Lukman dan Alvin.
"Pa, Hans sudah memutuskan ingin melanjutkan perkenalan itu!" ucap Hans sembari menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Benarkah? Tapi bagaimana dengan gadis yang kamu bawa pulang kemarin? Bukankah kamu menyukainya!" sahut Lukman yang masih belum mengetahui kebenaran tentang Sela.
"Hans memang menyukai gadis itu, tapi Hans juga ingin melanjutkan rencana Papa!" ucap Hans sembari tersenyum sumringah.
"Apa-apaan kamu Hans, jangan bertindak gila seperti itu! Apa kamu pikir wanita itu adalah barang yang bisa kamu mainkan seenaknya?" ketus Lukman yang tidak menyukai sikap putra semata wayangnya itu.
"Mau bagaimana lagi Pa? Hans menyukai keduanya! Apa salahnya mencintai dua wanita sekaligus?" ucap Hans sembari menahan gelak tawanya.
"Tidak Hans, Papa tidak setuju! Menikah itu cukup sekali seumur hidup, jangan menjadi laki-laki kurang ajar yang tidak bisa menghargai perasaan seorang wanita!" ketus Lukman dengan tatapan penuh kemarahan.
"Tapi Pa,..."
"Tidak ada tapi tapi. Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi laki-laki yang tidak bertanggungjawab seperti ini! Wanita itu akan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Apa kamu tega melihat mereka menderita satu sama lain? Tidak ada seorangpun wanita yang rela membagi suaminya dengan wanita lain!" jelas Lukman yang semakin naik pitam.
Melihat ekspresi papanya yang sudah semakin meradang, Hans akhirnya tertawa dengan lepas tanpa bisa di tahan lagi.
"Hahahaha... Hahahaha..."
"Kenapa kamu tertawa? Kamu senang melihat Papa seperti ini!" ketus Lukman dengan tatapan kebingungan.
"Tidak Pa, maafkan Hans. Hans hanya bercanda!" ucap Hans sembari menyeringai kearah papanya.
"Apa kamu pikir semua ini lucu? Kalau kamu tidak bisa menghargai perasaan wanita, tidak usah menikah kalau begitu! Lebih baik jadi bujang lapuk daripada membuat malu keluarga!" ketus Lukman sembari mencengkram gelas yang ada di tangannya.
"Sudah Pa, jangan marah lagi. Nanti penyakit Papa kumat! Hans pasti akan menikah dan memberi Papa cucu yang banyak!" ucap Hans menenangkan papanya yang memiliki riwayat penyakit jantung.
"Cucu yang banyak dari dua wanita yang berbeda? Itu maksudmu!" ketus Lukman yang masih belum bisa menahan amarahnya.
"Tidak Pa, satu wanita saja cukup!" sahut Hans yang mulai serius dengan ucapannya.
__ADS_1
"Kalau begitu gadis mana yang akan kamu pilih?" tanya Lukman yang sudah mulai sedikit mencair.
"Tentu saja Sela yang tak lain adalah keponakannya Om Alvin!" ucap Hans yang membuat Lukman melebarkan matanya seketika.
"Apa maksudmu, Hans?" tanya Lukman yang belum mengerti dengan maksud ucapan putranya itu.
"Sela itu ternyata keponakannya Om Lukman, Pa!" ucap Hans memperjelas ucapannya.
"Dasar anak nakal, berani-beraninya kamu membodohi Papamu sendiri!" ketus Lukman sembari tersenyum kegirangan.
"Hahahaha... Siapa suruh Papa terlalu serius menanggapi ucapan Hans?" ucap Hans sembari tertawa puas.
Tidak lama, Hans berpamitan kepada papanya. Laki-laki yang tengah jatuh cinta itu berniat menyusul Sela ke kantornya.
*****
Ditempat lain, Sela sedang berada diruang rapat bersama Aldo dan Alvin. Mereka tengah asyik membahas proyek kerja sama dengan klien bisnis mereka yang baru saja datang dari luar kota.
Suasana didalam ruangan itu terasa begitu tenang. Sela yang bertugas sebagai juru bicara saat itu, berhasil memukau para klien bisnis mereka. Tidak terkecuali seorang laki-laki tampan yang selalu memandang kearah gadis cantik itu.
Selesai rapat, seperti biasa Aldo dan Alvin lebih dulu meninggalkan ruangan. Begitupun dengan klien bisnis mereka yang lain. Yang tinggal hanyalah Sela yang tengah asyik membereskan berkas-berkas yang tadi dia bahas.
Keluar dari ruangan, ternyata laki-laki tampan tadi tengah berdiri menunggu Sela didepan pintu. Sontak saja gadis cantik itu tergelinjang dan tidak sengaja menjatuhkan berkas yang tadi dia pegang.
Sela menekuk kakinya dan menumpukan lututnya di atas lantai sembari mengumpulkan berkas yang sudah berserakan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengagetkan mu!" ucap laki-laki tadi sembari membantu Sela memungut berkas yang sudah berjatuhan di atas lantai.
"Tidak apa-apa, aku yang salah. Aku terlalu terburu-buru, sehingga tidak memperhatikan keadaan di sekelilingku!" sahut Sela dengan santainya.
Mereka berdua asyik mengumpulkan berkas dan menyusunnya kembali dengan rapi. Belum sempat laki-laki itu berkenalan dengan Sela, tiba-tiba Hans muncul di tengah-tengah mereka yang membuat Sela terlihat begitu gugup.
"Apa yang terjadi?" ucap Hans dengan tatapan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Ha... Hans, aku..."
Hans menekuk kakinya dan ikut membantu Sela memungut berkas yang masih tersisa di lantai.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Hans kepada laki-laki yang masih ikut membantu Sela.
"Maaf, aku hanya ingin membantu! Kamu siapa?" tanya laki-laki itu kepada Hans.
"Aku adalah calon suami dari gadis yang kamu bantu ini. Terimakasih sudah membantu tunangan ku! Kalau sudah selesai, pergilah dari sini! Aku ingin berbicara dengan calon istriku!" ucap Hans yang membuat Sela melotot kan mata saking kagetnya.
Mendengar ucapan Hans, laki-laki tadi terlihat sedikit kecewa. Dia mulai bangkit dan berlalu meninggalkan Hans dan Sela berdua ditempat itu.
"Apa yang kamu katakan barusan, Hans? Aku bukanlah tunangan mu dan aku juga bukan calon istrimu!" ucap Sela sembari bangkit dan melangkah meninggalkan Hans sendirian.
Menyadari ekspresi wajah Sela yang terlihat tidak senang, Hans kemudian berlari menyusul gadis cantik itu ke ruangannya.
"Sela, kenapa kamu marah padaku?" tanya Hans yang sudah berada didalam ruangan Sela.
"Ucapan mu barusan sudah membuat laki-laki tadi merasa bersalah!" sahut Sela yang tengah berdiri di samping meja kerjanya.
"Apa kamu menyukai laki-laki tadi?" tanya Hans sembari mendekat kearah Sela.
"Tidak, aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi dia itu adalah klien bisnis Om Alvin!" ucap Sela sembari melangkah menjauh dari Hans.
"Kamu begitu memikirkan perasaannya. Tapi, apa kamu pernah memikirkan perasaanku?" tanya Hans sembari mengikuti langkah kaki Sela.
"Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa, Hans! Kenapa kamu harus marah padaku?" ucap Sela sembari berdiri di dekat jendela.
Mendengar ucapan Sela, Hans terlihat semakin kesal. Laki-laki gagah itu meraih tangan gadis cantik itu dan menariknya kedalam pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan Hans? Lepaskan aku!" bentak Sela yang sudah terkunci didalam pelukan Hans.
"Bagaimana mungkin kamu bisa mempermainkan hatiku seperti ini Sela? Kita memang belum memiliki hubungan, tapi kamu sudah berjanji akan memberiku kesempatan! Apa ucapan mu itu tidak ada artinya sama sekali?" ucap Hans yang semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku Hans, aku mohon!" pinta Sela dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku cemburu Sela, hatiku rasanya sakit melihat laki-laki tadi menyentuh tanganmu! Apa aku salah?" ucap Hans sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Sela.