Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 22. Nyaris Kebablasan


__ADS_3

Aldo masih saja memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Dia tidak ingin membiarkan Cika untuk pergi jauh dari dirinya.


"Aldo, tolong lepaskan aku!" ucap Cika yang tidak tau lagi harus bagaimana cara membujuk Aldo.


"Aku tidak akan melepaskan mu!" tegas Aldo.


"Tolong Aldo! Mengertilah." ucap Cika memohon.


"Aku tidak sanggup berada jauh darimu Cika, tetaplah bersamaku!" pinta Aldo.


"Aldo, tolong lepaskan sayang!" ucap Cika yang seketika membuat mata Aldo terbelalak mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Cika.


"Ulangi lagi!" ucap Aldo.


"Ulang apa?" tanya Cika heran.


Cika sendiri bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dia ucapkan kepada Aldo. Dia bahkan kebingungan sendiri memikirkan permintaan Aldo.


"Ucapkan sekali lagi, aku ingin mendengarnya kembali!" tegas Aldo sedikit memaksa.


"Memang nya tadi aku bicara apa?" tanya Cika semakin heran.


"Kamu sengaja mau menggodaku?" tegas Aldo dengan tatapan yang mulai terlihat aneh.


"Aku benar-benar gak ingat telah berkata apa?" jawab Cika.


Mendengar jawaban Cika, Aldo merasa sedikit kesal dan menyandarkan tubuh Cika yang masih dalam pelukannya hingga menyentuh dinding. Aldo dengan cepat menahan kedua tangan Cika dengan tangannya.


Cika merasa takut melihat wajah Aldo yang sudah seperti harimau kelaparan.


Cika mencoba menghindar tapi tubuh Aldo malah semakin kuat menekannya ke dinding.


Tanpa berkata-kata, Aldo menggerayangi seluruh wajah Cika dengan bibir manisnya. Dia ******* setiap inci bibir Cika dengan sangat rakus tanpa ampun. Cika bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya pasrah ketika Aldo bermain sangat dalam di bibirnya.


Namun, kali ini Aldo sedikit lebih berani dari biasanya.


Setelah puas bermain di bibir manis Cika, Aldo turun ke leher. Aldo sudah seperti orang kesetanan, dia menjilati setiap inci leher Cika dan membuat beberapa tanda merah di sana dengan ***** yang sudah tidak terkendali.

__ADS_1


Cika yang baru pertama kali merasakan itu semua, hanya menutup mata menerima setiap sentuhan Aldo. Namun, tiba-tiba Cika mengerang karena merasakan nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Aldo yang mendengar erangan Cika, semakin tak kuasa menahan dirinya. Tangannya pun mulai berkeliaran di area pegunungan milik Cika yang terasa begitu kenyal. Di saat Aldo memasukkan tangannya ke dalam pelindung gunung kembar itu, Cika kemudian dengan cepat menahan tangan Aldo.


"Jangan Aldo!" ucap Cika.


"Tolong jangan menolak ku lagi!" ucap Aldo yang sudah bergetar menahan hasrat di jiwanya.


Cika hanya terdiam melihat raut wajah Aldo yang semakin terlihat aneh. Cika sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan Aldo terhadap dirinya.


Aldo kembali memasukkan tangannya ke area pegunungan milik Cika, dia mengangkat pelindung gunung kembar itu yang seketika membuat matanya terbelalak melihat keindahan yang tersembunyi di dalam sana.


Pemandangan yang benar-benar nyata di depan matanya, yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Jantung nya berdetak semakin kencang, nafasnya semakin tak beraturan.


Tanpa basa basi Aldo melahap gunung kembar itu dengan nafas yang mulai terengah engah, dia melahapnya secara bergantian yang membuat Cika seketika menggeliat karena tubuhnya merasa tegang. Aldo memainkan gunung kembar itu dengan kedua tangannya sambil menjilati dan memainkan biji kelengkeng yang menghiasi gunung kembar itu.


"Ahkkk,"(suara erangan Cika)


Mendengar erangan Cika yang sudah mulai terbawa suasana, membuat Aldo segera menghentikan permainan nya.


Aldo tidak ingin Cika masuk lebih dalam lagi dan menginginkan sesuatu yang lebih dari pada itu. Aldo menyadari kalau perbuatannya itu sudah melampaui batas.


"Sudah Aldo! Aku tidak kuat lagi menahannya." jawab Cika dengan suara yang mulai terdengar berat dengan tubuh yang mulai bergetar menahan sesuatu.


Mendengar ucapan Cika, Aldo dengan segera menutup kembali pelindung gunung kembar itu. Dia memeluk Cika dengan sangat erat dan mencium kepala Cika berulang-ulang.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyiksa dirimu." ucap Aldo sambil membelai rambut Cika.


Cika hanya terdiam di dalam pelukan Aldo, matanya mulai berkaca-kaca mengingat apa yang baru saja terjadi.


Dia sama sekali tidak menyangka akan melakukan sampai sejauh ini bersama Aldo.


"Tolong, jangan marah padaku! Aku sangat mencintaimu Cika. Aku benar-benar serius dengan hubungan ini, dan aku akan menikahi mu secepatnya." ucap Aldo yang seketika membuat Cika menjatuhkan air matanya.


"Tapi aku tidak pantas untukmu Aldo." ucap Cika sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldo.


"Siapa yang bilang kamu tidak pantas untukku? Sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi darimu!" ucap Aldo.

__ADS_1


"Tapi Aldo,,,"


"Mau tidak mau, suka tidak suka, aku akan tetap menikahi mu! Kamu hanya milikku, dan bersiap-siaplah untuk semua itu." tegas Aldo yang membuat Cika kembali meneteskan air matanya tanpa bisa berkata-kata.


"Sudah jangan menangis! Aku akan membicarakan semuanya sama mama dan papa. Secepatnya kita akan menikah, tidak ada alasan lagi." tegas Aldo sambil menyeka air mata Cika.


Cika kembali terdiam, dia merasa senang dengan keseriusan Aldo terhadap dirinya, namun disisi lain dia juga takut tidak akan mendapat restu dari kedua orang tua Aldo.


"Ayo, aku akan mengantarmu ke bawah!" ucap Aldo sambil menggenggam tangan Cika.


Aldo dan Cika kemudian melangkah meninggalkan kamar. Mereka berjalan menuruni anak tangga sambil berpegangan tangan.


Sementara itu, Sela sudah menunggu di ruang tamu bersama kedua orang tua Aldo.


"Kamu kenapa sayang? Kamu nangis?" tanya Ara kepada Cika yang berdiri di samping Aldo.


"Gak apa-apa Ma! Cika cuma sedih karena harus meninggalkan Aldo di sini." ucap Aldo yang kemudian membuat Cika mencubit pinggang nya.


"Auuu, sakit sayang." ucap Aldo sambil tersenyum ke arah Cika.


Cika merasa malu dengan perkataan Aldo di depan kedua orang tuanya. Sela dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.


"Hahahaha, kalian ada-ada saja." Alvin tertawa melihat tingkah mereka berdua.


"Om, Tante! Sela pulang dulu ya." ucap Sela sambil menyalami dan mencium tangan om dan tantenya itu.


"Cika juga pamit ya Om, Tante!" ucap Cika yang kemudian juga menyalami dan mencium tangan mama dan papa Aldo secara bergantian.


"Iya sayang, kalian hati-hati ya!" ucap Ara yang merasa sedih dengan kepergian mereka.


Mereka semua melangkah menuju pintu utama untuk mengantarkan Sela dan Cika keluar.


Sela kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi, disusul oleh Cika yang duduk di sebelahnya.


Sela menyalakan mesin mobil dan melambaikan tangan ke arah luar.


"Hati-hati ya sayang." ucap Ara.

__ADS_1


"Iya Tante." ucap Sela dan Cika secara bersamaan.


Mobil Sela pun melaju meninggalkan rumah Aldo.


__ADS_2