
Malam harinya, Aldo pulang dengan wajah tertunduk lesu. Dia memperlihatkan kalau malam ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Tidak seperti biasa, kali ini sepulang dari kantor Aldo langsung masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat.
Aldo membaringkan tubuhnya di atas kasur. Walaupun hatinya masih sangat jengkel terhadap Cika, tapi rasa rindunya dengan mudah mengalahkan semua itu.
Aldo berpikir untuk menghubungi Cika. Di saat Aldo ingin mengambil ponselnya, tiba-tiba terdengar suara Ara dari balik pintu.
"Aldo, Aldo! Kamu lagi ngapain sayang?" ucap Ara sambil membuka pintu kamar putra tampannya itu.
"Mama! Ada apa Ma?" tanya Aldo sembari berjalan kearah Ara.
"Kamu baru pulang? Tumben gak temui Mama dulu?" ucap Ara sedikit heran.
"Aldo capek Ma, makanya langsung masuk kamar." balas Aldo.
"Kamu gak lagi berbohong kan sama Mama," ucap Ara sedikit menyelidiki putranya itu.
"Gak Ma, Aldo benar-benar lelah," balas Aldo.
"Ya sudah, ayo ikut Mama ke bawah! Papa sudah menunggu untuk makan malam," tambah Ara sambil melangkah meninggalkan kamar Aldo. Aldo pun ikut menyusul mamanya dari belakang.
Setelah berada di meja makan, mereka segera menikmati makan malam yang sudah tersedia di atas meja.
"Aldo! Besok kamu sibuk gak di kantor?" tanya Ara.
"Gak terlalu Ma, palingan sampai jam makan siang." jawab Aldo.
"Kalau begitu besok setelah pekerjaan kamu selesai, kamu jemput Cika ya! Kalian harus ke butik untuk fitting baju sekalian foto prewed." ucap Ara dengan raut wajah bahagia.
"Iya Ma," jawab Aldo sambil tersenyum tipis.
Makan malam selesai, Aldo kembali ke kamarnya tanpa banyak bicara.
"Pa, Ma! Aldo ke kamar duluan ya. Aldo sudah ngantuk." ucap Aldo yang melangkah meninggalkan meja makan.
"Ada apa dengan putramu itu?" tanya Alvin yang merasa sedikit bingung.
"Biarkan saja Pa!" jawab Ara.
__ADS_1
Aldo berjalan menaiki anak tangga. Matanya sudah mulai terasa berat. Sesampainya di kamar, dia seketika terlelap setelah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Keesokan paginya, Aldo bangkit dari tempat tidur. Dia buru-buru untuk mandi mengingat pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum jam makan siang. Wajah yang semalam terlihat lesu, pagi ini sudah kembali cerah secerah sinar mentari pagi. Semangatnya kembali muncul ketika mengingat wanita yang sangat dia cintai. Aldo pun turun untuk sarapan, dan bergegas pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Aldo dengan semangat menyelesaikan tugas-tugasnya dan menandatangani beberapa berkas penting yang sudah ada di atas meja kerjanya.
Pukul 13.00 siang semua pekerjaan Aldo selesai. Dia pun bergegas menemui Sela di ruangannya.
"Sel, aku pulang duluan ya! Aku harus menjemput Cika dan membawanya ke butik Mama untuk fitting baju." ucap Aldo dengan senyum yang merekah.
"Ok, duluan saja!" ucap Sela sambil menatap tajam kearah Aldo.
"Ada apa dengan anak ini? Kok makin lama makin aneh," batin Cika yang mulai kepo dengan perubahan sikap Aldo.
Sela sedikit heran melihat Aldo yang sudah seperti Bunglon itu. Kemaren sikapnya begitu dingin, hari ini malah seperti mendapat durian runtuh.
"Apa semua orang yang sedang jatuh cinta seperti itu?" batin Sela yang sampai saat ini masih menyandang status jomblo.
"Ah, sudahlah! Ngapain juga aku mikir sampai kesitu?" batin Sela sambil memandangi kepergian Aldo dari ruangannya.
Aldo masuk ke dalam mobil mewahnya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cintanya yaitu Cika.
Pikiran Aldo mulai sedikit terganggu karena Cika tidak mengangkat teleponnya sama sekali.
"Angkat sayang!" batin Aldo yang mulai merasa gelisah.
Aldo mencoba menghubungi Cika sampai beberapa kali. Namun tetap saja Cika tidak mengangkat panggilan darinya.
Karena hatinya mulai tidak tenang, Aldo menambah kecepatan mobilnya agar lekas sampai di apartemen Sela.
Beberapa menit kemudian, Aldo memarkirkan mobilnya dan berlari menuju pintu apartemen.
Tok...Tok...Tok
"Cika, sayang! Cika, kamu ada di dalam kan sayang?" teriak Aldo yang sudah semakin gelisah memikirkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Cika baru saja keluar dari kamar mandi, dia terkejut mendengar teriakan Aldo dari arah luar. Cika pun bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Aldo.
Sesaat pintu terbuka, Aldo langsung memeluk tubuh indah Cika dengan sangat erat. Dia mencium kening wanitanya itu berulang kali. Cika yang merasa sesak, mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldo.
__ADS_1
"Aldo, sudah! Lepaskan aku!" ucap Cika dengan suara sedikit meninggi.
"Kamu gak apa-apa kan sayang?" ucap Aldo sambil menatap Cika dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku tidak apa-apa! Mengapa kamu memandangiku seperti itu?" tanya Cika sedikit heran dengan laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.
"Aku khawatir denganmu sayang! Mengapa kamu tidak mengangkat teleponku?" tanya Aldo mencari tau.
"Aku sibuk! Mau apa kamu ke sini?" ketus Cika sambil melangkah masuk dan duduk di sofa.
"Aku mau menjemputmu sayang, kita akan ke butik Mama!" ucap Aldo yang ikut duduk di samping Cika.
"Aku tidak mau," balas Cika dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Aldo yang sama sekali tidak menyadari kemarahan Cika terhadap dirinya.
Cika melangkah masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu.
Dia masih sangat kecewa terhadap Aldo yang telah mengabaikan dirinya kemaren pagi.
Seketika Aldo terdiam, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Sakit sekali melihat orang yang sangat dia cintai mengacuhkannya begitu saja. Aldo mencoba menghampiri Cika ke kamar dengan bola mata yang mulai memerah menahan tangis nya.
"Cika, buka pintunya sayang! Aku ingin bicara!" ucap Aldo memohon kepada wanita cantiknya itu.
"Pergilah! Bukankah kamu tidak ingin bertemu denganku, kenapa masih mencari ku." teriak Cika dari dalam kamar.
"Kamu salah paham sayang! Bukan itu maksudku!" jawab Aldo dari balik pintu.
"Aku merasa seperti orang bodoh telah mempercayai mulut manis mu itu Aldo, lebih baik batalkan saja pernikahan ini! Sekarang pergilah dari sini!" teriak Cika dari dalam kamar sambil berderai air mata.
Aldo merasa bagaikan disambar petir di siang bolong mendengar ucapan Cika. Hatinya seperti dicabik-cabik sembilu tajam. Perih namun tidak berdarah.
" Tolong buka pintunya Cika! Atau aku akan berbuat nekad." tegas Aldo yang mulai di kuasai amarahnya.
"Pergilah Aldo! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu!" teriak Cika mengusir laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Menjauh lah dari pintu!" tegas Aldo yang berniat mendobrak paksa pintu kamar Sela.
Cika bergegas membuka pintu kamar. Dia tidak ingin Aldo sampai merusak apartemen milik Sela. Dia sadar kalau dirinya cuma tamu di apartemen itu.
__ADS_1
Sesaat pintu terbuka, Aldo hampir saja menabrak tubuh Cika. Untung saja Aldo dengan cepat menyadari keberadaan Cika di depannya dan segera mengelak kearah samping. Namun sayang, tubuh Aldo terbentur sudut meja yang tajam, sehingga membuat pinggangnya tergores dan seketika darah segar pun bercucuran di pakaian Aldo.