Hati Berdarah

Hati Berdarah
Kepanikan Sela


__ADS_3

Hans mendorong pundak Sela yang sudah semakin merapat ke tubuhnya. Dia mulai merasakan panas di tubuhnya saat Sela semakin leluasa memainkan permainan mereka.


"Cukup Sela, jangan diteruskan lagi!" pinta Hans sembari memalingkan wajahnya.


"Kenapa, bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Sela dengan tatapan menuntut.


"Kau benar, tapi sepertinya tubuhku tak sanggup mengendalikannya. Aku takut khilaf, Sela!" sahut Hans dengan jujurnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Hans?" tanya Sela mencari tau.


"Entahlah, bibirmu membuatku berga*rah. Aku tidak ingin merusak mu sebelum waktunya!" sahut Hans dengan nafas yang sudah terengah-engah.


"Hahahaha... Makanya jangan nyosor terus!" ucap Sela sembari mendorong wajah Hans dengan tangannya.


"Kamu mengejekku," sahut Hans dengan tatapan yang tak biasa.


"Kenapa memangnya, apa kamu mau marah lagi padaku? Atau mau aku cium lagi?" canda Sela sembari tersenyum puas.


"Hahahaha... Kamu sudah berani bersikap nakal padaku rupanya." sahut Hans sembari tertawa.


"Kamu yang mengajariku menjadi nakal seperti ini, berarti ini semua adalah salahmu!" ucap Sela melemparkan kesalahan kepada Hans.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menjerumuskan dirimu!" sahut Hans yang merasa bersalah akan tingkah lakunya terhadap Sela.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku mau tidur dulu!"


Sela meraih guling dan mendekap guling itu di dalam pelukannya. Pelan-pelan dia mulai memejamkan matanya kembali sembari menghadap ke arah Hans yang tengah berbaring disampingnya.


Hans kembali tersenyum sembari mengusap kepala Sela dengan lembut. Dia mulai memejamkan matanya kembali sembari terus mengusap kepala Sela.


*****


Di Indonesia, hari sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Aldo berpamitan kepada Cika setelah mereka semua selesai menikmati sarapan pagi.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Hati-hati di rumah!"


Aldo mengecup kening Cika sembari memeluk tubuh istrinya yang semakin membesar itu. Dia kemudian mengelus perut Cika dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Papa pergi dulu ya sayang, jangan nakal sama Mama!" ucap Aldo mengajak calon bayi mereka berbicara.

__ADS_1


"Iya Papa, Papa juga jangan nakal ya diluar sana!" sahut Cika menirukan suara anak kecil.


Aldo kembali berdiri tegap setelah mendengar ucapan istrinya. Dia kemudian tersenyum sembari mencubit pipi Cika yang terlihat semakin berisi.


"Percayalah pada suamimu ini sayang, tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke dalam hatiku ini selain kamu!" jelas Aldo.


"Iya, aku percaya sayang." sahut Cika sembari memeluk Aldo dengan erat.


"Ya sudah, aku pergi dulu!"


Aldo mengecup kening Cika kembali dan melangkah meninggalkan kediamannya. Cika pun hanya bisa tersenyum sembari memandangi punggung suaminya yang mulai menjauh dari pandangannya itu.


Cika kemudian melangkah menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Ara dan Mila yang sedang bermain bersama Mikaila.


Mikaila tumbuh menjadi bayi kecil yang sehat. Selain cantik, gadis kecil itu juga memiliki tubuh yang bulat berisi dengan pipi yang terlihat gembul dan sangat menggemaskan.


Memasuki usia 3 bulan, Mikaila sudah bisa tengkurap, meskipun untuk membalikkan tubuhnya kembali dia belum mampu karena bobot tubuhnya yang terasa berat.


Cika menghabiskan masa-masa kehamilannya sembari menjaga Mikaila yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Dia bahkan tidak pernah keluar dari rumah kecuali bersama Aldo suaminya.


Perkataan Hans tempo hari masih terngiang-ngiang jelas di telinga Aldo yang membuatnya begitu ketat menjaga istrinya. Bahkan Aldo juga memperketat penjagaan di kediamannya karena tidak ingin terjadi hal buruk kepada Cika dan semua anggota keluarganya.


Cika duduk di samping Mama mertuanya yang sedang memangku Mikaila. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia saat mengajak Mikaila bercanda. Gadis kecil itu bahkan sampai tertawa cekikikan mendengar candaan Sela.


"Sudah Ma, ada beberapa yang Cika buatkan. Nanti Mama tinggal pilih saja mana yang cocok buat Sela. Biar Cika ambilkan dulu di dalam kamar!" sahut Cika sembari membalikkan tubuhnya hendak melangkah menaiki anak tangga.


"Tidak usah sayang, biar Mama saja yang mengambilnya. Kamu di sini saja bersama Mikaila!"


Ara memberikan Mikaila ke tangan Cika. Dia kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju kamar menantunya itu. Ara tidak ingin Cika bolak-balik menaiki anak tangga karena mulai mengkhawatirkan kondisi menantunya itu.


Setelah mendapatkan beberapa lembar kertas yang dia cari, Ara pun kembali ke lantai bawah.


"Cika, Mila, Mama pergi dulu ya. Kalian hati-hati di rumah!" ucap Ara setelah sampai di bawah anak tangga.


"Iya Ma, Mama juga hati-hati ya!" sahut Cika dan Mila secara bersamaan.


Ara melangkah meninggalkan kediamannya. Seperti biasa, dia diantar oleh sopir pribadi yang sudah lama bekerja dengan keluarganya.


"Sini, biar Mikaila bersama Kakak saja!" ucap Mila yang tidak ingin merepotkan Cika.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak, Cika masih kuat kok!" sahut Cika yang masih ingin menggendong Mikaila.


"Tapi perut kamu sudah tidak kecil lagi sayang. Mikaila itu sudah semakin aktif, takutnya dia malah menekan perut kamu!" ucap Mila mengkhawatirkan keadaan Cika.


Cika akhirnya menuruti kata-kata Kakak sepupunya itu. Dia juga merasa sedikit kewalahan menahan bobot Mikaila yang sudah semakin montok itu.


Setelah memberikan Mikaila ke tangan Mila, Cika kemudian memilih duduk di atas permadani sembari meluruskan kedua kakinya yang sudah sering terasa pegal.


*****


Di Zurich, hari sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sela bangun lebih dulu dan bergegas membangunkan Hans yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.


Raut wajah Sela terlihat sedikit gelisah saat memikirkan pandangan Alvin dan Lukman jika mengetahui kalau mereka tidur di dalam satu kamar semalaman.


"Hans, bangun!" ucap Sela sembari mengguncang tubuh Hans bak gempa yang sedang melanda.


"Sebentar lagi Sela, aku masih ngantuk." sahut Hans yang masih memicingkan matanya.


"Ayolah Hans, cepat bangun. Ini sudah pagi, kamu harus cepat-cepat keluar dari kamar ini sebelum Om Lukman dan Om Alvin bangun!" ucap Sela yang terus saja mengguncang tubuh Hans dengan kuat.


"Iya, iya, ahh,"


Hans mencoba membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Dia kemudian memandangi wajah Sela sembari mengambangkan senyuman di wajah gagahnya.


"Tidak perlu senyum-senyum seperti orang gila begitu, ayo cepat pergi!" ucap Sela dengan raut wajah begitu panik.


"Kenapa kamu jadi ketakutan seperti ini?" tanya Hans sembari mengucek kedua kelopak matanya.


"Jangan banyak tanya, pergilah. Atau aku akan menyiram mu dengan air!" ketus Sela mendesak Hans agar segera meninggalkan kamarnya.


"Iya, iya, tapi cium dulu dong!" pinta Hans sembari tersenyum.


Tanpa mengulur-ngulur waktu, Sela langsung mencium pipi Hans dan menarik tangan laki-laki itu agak beranjak dari tempat tidur.


"Sudah, ayo pergilah!" ucap Sela sembari mendorong punggung Hans ke arah pintu.


Hans membalikkan tubuhnya ke arah Sela dan mengecup bibir gadis manis itu dengan lembut.


"Begini baru betul." ucap Hans sembari tersenyum dan mulai melangkah keluar dari kamar Sela.

__ADS_1


Setelah Hans berlalu dari kamarnya, Sela pun bergegas menutup pintu kamarnya kembali. Dia menyandarkan punggungnya di pintu sembari menarik nafas dan membuangnya dengan pelan.


"Huftt, dasar laki-laki gila!" gumam Sela sembari senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan laki-laki gagah itu.


__ADS_2