
Setelah mendengar perkataan Hans, hati Sela mulai sedikit mencair dan tanpa sadar tangannya dengan spontan mengusap kepala Hans dengan lembut.
Tidak disangka, sentuhan Sela itu benar-benar menjadi obat penenang untuk Hans. Laki-laki gagah itu terbuai sembari memejamkan kedua matanya.
"Jika saja aku tau kalau gadis yang mereka maksud itu adalah kamu, aku pasti tidak akan menolaknya! Karena memang kamulah wanita yang aku inginkan untuk jadi pendamping hidupku!" ucap Hans sembari menempelkan bibirnya di lengan Sela.
"Apa maksudmu?" tanya Sela yang masih belum mengerti dengan ucapan laki-laki gagah itu.
"Gadis yang Papa pilihkan untukku itu ternyata adalah kamu. Gadis yang aku sukai juga kamu, Sela! Kenapa tidak memberiku kesempatan?" tanya Hans dengan sangat jelas.
"Entahlah Hans, aku butuh waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu!" sahut Sela dengan datarnya.
"Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa menerimaku! Tapi setidaknya, beri aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat lagi!" pinta Hans dengan begitu tulus.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi jangan berharap terlalu banyak padaku, aku takut itu akan menyakiti dirimu sendiri!" sahut Sela yang ingin memberikan kesempatan untuk Hans.
"Tidak masalah, asal kamu mau mencobanya. Aku yakin, cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu!" ucap Hans yang benar-benar bahagia mendapatkan sedikit harapan dari gadis cantiknya itu.
Hans melepaskan tangannya dari tubuh Sela dan menatap wajah cantik itu dengan senyuman penuh kehangatan.
"Jangan menatapku seperti itu, aku takut!" ucap Sela dengan polosnya.
"Hehehehe, jangan takut padaku. Aku bukan laki-laki jahat!" sahut Hans sembari merapikan rambut Sela yang sedikit berantakan.
Sesaat tatapan mata mereka berdua saling bertemu dan saling memandang satu sama lain. Melihat sikap Hans yang begitu lembut, hati Sela mulai terasa goyah.
Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Hans benar-benar membuat Sela merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Kruk... Kruk..."
Mata Hans langsung terbelalak mendengar suara aneh yang berasal dari perut Sela. Raut wajah Sela pun seketika berubah dan memerah menahan rasa malu didepan laki-laki yang baru saja dia kenal itu.
"Kamu lapar?" tanya Hans sembari tersenyum menatap wajah Sela.
"Hehehehe, iya." sahut Sela sedikit malu-malu.
Hans bangkit dari tempat duduknya dan menggenggam tangan gadis cantik itu dengan erat.
"Kamu mau ngapain?" tanya Sela dengan tatapan sedikit bingung.
__ADS_1
"Ayo ikut aku, kita makan dulu!" ucap Hans yang mulai menarik tangan Sela dan membawanya masuk kedalam mobil.
Hans ternyata benar-benar sosok laki-laki yang sangat lembut. Mata Sela bahkan tidak bisa berhenti menatap wajah tampan laki-lakinya itu.
"Ada apa, Sela?" tanya Hans yang menyadari tatapan Sela pada dirinya.
"Tidak apa-apa Hans, ayo jalan!" sahut Sela sembari menatap lurus kearah jalanan.
Hans mulai menginjak gas dan melajukan mobilnya menyusuri jalan raya. Hans tidak banyak bicara, dia hanya fokus mengemudikan mobilnya.
"Mau makan dimana, Sela?" tanya Hans tanpa melihat kearah gadis cantik itu.
"Di tempat tadi saja, mobilku juga masih di sana!" sahut Sela sembari menoleh kearah Hans.
"Baiklah, tapi nanti aku antar pulang ya! Mobilmu, biar sopir saja yang membawanya!" ucap Hans yang membuat Sela mulai merasa gelisah.
"Jangan Hans, aku bisa pulang sendiri! Aku tidak ingin merepotkan mu!" sahut Sela berbohong pada Hans.
Sela bukannya takut merepotkan Hans. Tapi dia takut nantinya dicecar pertanyaan oleh sepupunya Aldo yang begitu posesif. Aldo memang sangat menyayangi adik sepupunya itu, namun terkadang sifatnya itu membuat Sela sedikit merasa terkekang.
"Tidak apa-apa Sela, aku senang bisa mengantarmu pulang! Aku juga ingin bertemu dengan keluargamu, terutama Ilham!" ucap Hans yang membuat Sela langsung terdiam.
Hans pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi sopirnya untuk datang ke kafe mawar.
"Jangan begini Hans, aku bisa membukanya sendiri!" ucap Sela yang merasa sikap Hans padanya terlalu berlebihan.
"Tidak apa-apa, aku senang melakukan semua ini!" sahut Hans sembari menggenggam tangan gadis yang sudah memporak porandakan hatinya itu.
Hans kembali menutup pintu mobilnya dan mengalungkan tangan Sela di lengannya. Mereka berdua berjalan kedalam kafe seperti sepasang kekasih yang sedang hangat-hangatnya.
"Hans, aku malu. Lepaskan!" bisik Sela yang tidak terbiasa berjalan bergandengan seperti itu.
"Tidak apa-apa, santai saja! Nanti kamu juga akan terbiasa dengan sendirinya." ucap Hans dengan senyum yang sangat menawan.
Melihat kedatangan dua sejoli itu, seisi kafe mulai terdengar sedikit ribut. Ada yang mengagumi mereka berdua, ada pula yang tidak senang melihatnya. Perkataan orang-orang itu bahkan terdengar jelas di telinga Sela.
"Tuh kan, orang-orang pada ngomongin kita." bisik Sela tepat di telinga Hans.
"Biarkan saja, mereka hanya iri melihat laki-laki setampan aku berjalan dengan wanita secantik kamu!" sahut Hans yang masa bodoh dengan penilaian orang lain.
__ADS_1
"Ih, jangan kegeeran dulu kamu! Tampan darimana? Menurutku biasa aja tuh!" ucap Sela yang mulai menarik kursi dan mendudukinya.
Mendengar ucapan Sela, Hans benar-benar geram. Laki-laki gagah itupun duduk di hadapan gadis cantik itu sembari menggertakkan giginya.
"Mungkin di matamu aku ini biasa saja. Tapi bagi gadis cantik diluar sana, aku begitu menarik. Bahkan banyak yang menginginkan diriku." ucap Hans yang bermaksud memanasi Sela.
"Ya sudah, kenapa tidak mengejar mereka saja?" sahut Sela dengan tatapan yang mulai berubah aneh.
Melihat raut wajah Sela yang terlihat kesal, Hans pun langsung tersenyum dan menyentuh tangan Sela yang terletak di atas meja.
"Tapi aku tidak menginginkan mereka, aku hanya menginginkan gadis cantik yang duduk di depanku ini!" ucap Hans sembari menggenggam tangan Sela.
"Sudahlah, jangan merayuku lagi!" sahut Sela sembari memanyunkan bibirnya dan menarik tangannya dari genggaman Hans.
Hans kembali menaikkan sebelah bibirnya melihat kepolosan gadis cantik itu.
Mengingat waktu yang terus berjalan, Hans pun segera memanggil pelayan kafe dan memesan makanan untuk mereka berdua.
Di tengah-tengah makan malam mereka, tiba-tiba ponsel Hans berdering. Sela pun menatap kearah laki-laki gagah itu dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Halo, ada apa?" ucap Hans dari balik telepon.
"Saya sudah di depan kafe, Pak!" sahut sopir Hans yang tadi dia hubungi.
"Ok, tunggulah sebentar!" ucap Hans sembari mematikan sambungan teleponnya.
Hans kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Laki-laki gagah itu segera melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.
"Aku sudah kenyang." ucap Sela sembari menggeser piringnya.
"Kenapa tidak di habiskan?" tanya Hans yang melihat masih ada makanan yang tersisa di piring Sela.
"Aku tidak sanggup lagi, porsinya terlalu banyak!" sahut Sela sembari bersandar di sandaran kursi.
"Ya sudah, aku juga sudah selesai." ucap Hans yang juga meninggalkan makanannya.
Hans meminta bil kepada pelayan dan membayar makanan yang sudah mereka santap. Setelah itu Hans bangkit dari tempat duduknya dan menggenggam kembali tangan Sela. Mereka berdua melangkah keluar dari kafe dan berjalan menuju seseorang yang berdiri di samping mobil Hans.
"Kamu, bawa mobil ini dan ikuti aku!" ucap Hans kepada sopirnya yang sudah menunggu dari tadi.
__ADS_1
"Baik, Pak!" sahut sopir itu sembari mengambil kunci dari tangan Hans.
Hans dan Sela kembali melangkah kearah mobil gadis cantik itu dan segera menaikinya. Laki-laki tampan itu ternyata benar-benar ingin datang untuk menemui keluarga Sela.