Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 38. Tuduhan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Aldo dan Cika berjalan bergandengan tangan dengan senyum manis yang terpancar dari wajah mereka berdua. Mereka meninggalkan apartemen Aldo dan melaju menuju apartemen Sela.


Di dalam perjalanan, Cika tak henti-hentinya menatap sang pujaan hatinya yang terlihat begitu gagah didepan matanya. Dia merasa seperti sedang bermimpi bisa bertemu laki-laki seperti Aldo.


"Sayang, aku lapar. Kita makan dulu ya!" ajak Cika yang merasa perutnya sudah mulai keroncongan.


"Iya, kamu mau makan apa?" sahut Aldo sambil melirik kearah wanita cantiknya.


Cika hanya tersenyum sambil melihat lihat kepinggir jalan yang sedang mereka lewati. Tiba-tiba mata Cika tertuju pada sebuah gerobak sederhana yang sedang mangkal di pinggir jalan.


"Aldo, berhenti disini!" ucap Cika yang membuat Aldo menginjak rem mobilnya seketika.


" Ada apa, sayang? Kenapa kita berhenti disini?" tanya Aldo dengan raut wajah bingung.


"Aku mau makan sate itu!" tunjuk Cika kearah gerobak yang ada di samping mobil mereka.


Aldo langsung melotot kan matanya, dia sedikit bingung dengan permintaan Cika.


"Kamu serius mau makan disini?" tanya Aldo yang masih tidak percaya dengan permintaan calon istrinya.


"Iya, kamu gak suka ya makan di tempat seperti ini?" Cika sedikit memanyunkan bibirnya karena berpikir kalau orang kaya seperti Aldo tidak akan mau makan di pinggir jalan seperti yang dia inginkan.


Aldo memang belum pernah makan di tempat seperti itu. Tapi demi menghargai wanita yang dia cintai, dia pun mengiyakan ajakan Cika untuk makan di tempat itu.


"Iya sayang, kita akan makan disini! Aku parkir kan mobil dulu ya!" ucap Aldo yang tidak ingin mengecewakan calon istrinya.


Aldo memarkirkan mobilnya di tempat yang agak lapang, agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.


Mereka berdua turun dari mobil. Cika sangat bahagia karena Aldo tidak menolak keinginannya sama sekali.


Aldo hanya bisa tersenyum sambil mengikuti langkah wanita cantiknya itu.


"Pak, satenya dua ya!" ucap Cika sambil meraih kursi plastik yang sudah tersedia di sana.


"Iya, tunggu sebentar!" sahut pedagang sate yang tengah sibuk melayani pembelinya.


Cika dan Aldo pun duduk berhadapan di tempat yang sudah disediakan oleh pedagang sate.


Tidak lama sate yang Cika pesan pun datang. Aroma khas sate yang sangat menggoda, membuat Cika sudah tidak sabar untuk langsung mencicipinya.

__ADS_1


Sementara Aldo hanya terdiam tanpa menyentuh makanannya. Dia hanya tersenyum menatap wanita kesayangannya yang tengah menikmati sate yang ada di atas meja.


"Kamu gak makan? Sumpah, ini enak sekali, Aldo! Rugi kalau tidak dicoba." ucap Cika sambil tersenyum kearah calon suaminya.


"Hmmm,"


"Ini, coba dulu!" pinta Cika sambil mengarahkan satu tusuk sate ke mulut Aldo.


Tanpa ragu Aldo pun membuka mulutnya menerima suapan dari wanita cantiknya.


"Gimana? Enak kan,,," ucap Cika sambil melanjutkan makannya.


"Enak, hehe,," Aldo yang tadinya ragu-ragu, akhirnya dengan lahap menyantap sate yang ada di hadapannya itu tanpa sisa.


Cika hanya tersenyum lebar melihat laki-laki tampannya yang sedang asyik menikmati makanannya.


Karena perut mereka sudah terasa kenyang, mereka kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Ternyata makanan kaki lima itu tidak seburuk yang aku bayangkan ya, sayang!" ucap Aldo sambil tersenyum malu kearah wanitanya.


"Hahahaha,,," Cika hanya tertawa mendengar ucapan calon suaminya.


"Kenapa ketawa?" ucap Aldo bingung.


Aldo lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat wanita cantiknya. Dia bahkan merasa malu dengan Cika. Seumur umur baru kali ini Aldo makan di tempat biasa seperti tadi.


Pukul 21.00 malam mereka sampai di apartemen Sela. Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam apartemen.


Dengan wajah penuh kebahagiaan, Cika menggandeng tangan Aldo sampai mereka tiba di depan pintu.


Tok...Tok...Tok...


Sela membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Cika, Aldo! Ayo, masuk!" ucap Sela yang merasa senang dengan kedatangan mereka berdua.


"Gak usah, Sela! Aku hanya ingin mengantarkan Cika." sahut Aldo yang tidak ingin berlama-lama karena harus segera pulang ke rumah mamanya.


"Oh, ya sudah, kamu hati-hati ya!" ucap Sela.

__ADS_1


"Iya, tolong jaga cintaku sampai beberapa hari ke depan ya, Sela! Kami tidak boleh bertemu dulu menjelang pernikahan." tambah Aldo menitipkan wanita yang dicintainya kepada sepupunya Sela.


"Iya, iya, tenang saja!" balas Sela sambil memberikan senyum yang sangat manis.


Aldo kemudian memeluk Cika dan memberikan kecupan di kening kekasih hatinya itu.


"Sayang, kamu baik-baik ya di sini!" ucap Aldo yang mulai merasa berat berpisah sementara dengan Cika.


"Iya, kamu juga ya. Jangan nakal!" balas Cika dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Gimana mau nakal kalau kamu nya disini? Hehehe,,," Aldo berusaha membuat Cika tersenyum, dia tidak ingin Cika menangis melepas kepergiannya karena itu juga akan memberatkan dirinya.


Aldo berjalan meninggalkan Cika dan Sela yang masih berdiri di depan pintu.


Sela kembali ke sofa untuk lanjut menonton film yang tadi dia tonton, sementara Cika langsung berjalan kedalam kamar.


Cika mengganti pakaiannya. Setelah itu dia segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Cika berjalan menuju balkon, kemudian menghubungi ibunya untuk memberitahukan kabar pernikahan nya dengan Aldo.


"Halo, Bu!" sapa Cika dari balik telepon.


"Ada apa?" jawab Laila ibunya Cika.


"Aku ingin membicarakan sesuatu pada ibu." ucap Cika yang sedikit merasa gugup.


"Bicara saja! Aku tidak punya banyak waktu." ketus Laila yang merasa tidak penting dengan apa yang akan disampaikan oleh putrinya.


"Ibu, Cika akan menikah. Ibu bisa datang kesini kan untuk menghadiri pernikahan Cika!" pinta Cika yang ingin sekali ibunya berada di sampingnya saat pernikahannya nanti.


"Oh, hebat sekali kau, Cika! Baru beberapa hari pergi dari rumah, sudah ada saja laki-laki yang mau menikah denganmu? Apa kau menjual tubuhmu untuk mendapatkan sesuap nasi?"


Bukannya bahagia mendengar kabar pernikahan putrinya, Laila malah menghina wanita malang itu begitu rendahnya.


"Ibu! Apa yang ibu bicarakan? Aku tidak serendah yang ibu tuduhkan!" ucap Cika sambil berlinangan air mata mendapatkan tuduhan yang begitu keji dari ibu yang dia sayangi.


"Terserah kau saja, kalau kau mau menikah, menikah saja!" ucap Laila yang sama sekali tidak mempedulikan putrinya itu.


"Ibu,,,,"


Belum sempat Cika menjelaskan semuanya, Laila sudah lebih dulu mematikan sambungan telepon mereka. Cika bahkan belum sempat menceritakan apa-apa tentang calon suaminya.

__ADS_1


"Apa salahku padamu Bu? Kenapa kau begitu membenciku?" gumam Cika sambil meratapi nasibnya yang sangat buruk.


Cika tak kuasa menahan kesedihannya. Hatinya terasa begitu sakit mendengar kata-kata yang terucap dari mulut orang yang sangat dia sayangi selama ini.


__ADS_2