Hati Berdarah

Hati Berdarah
Hilang Kesadaran


__ADS_3

Malam harinya, mereka berdua pergi meninggalkan panti. Tidak ada pembicaraan sedikitpun di antara mereka berdua. Lagi-lagi Hans merasakan kekecewaan yang begitu besar di dalam hatinya terhadap Sela.


Sesampainya di depan gedung apartemen, Sela pun bergegas turun dari mobil laki-laki itu.


"Masuklah, katakan pada Papa kalau malam ini aku tidak pulang!" ucap Hans dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Kamu mau kemana, Hans?" tanya Sela mencari tau.


"Kemana saja, asalkan aku tidak melihat wajahmu lagi!" sahut Hans tanpa menoleh kearah Sela sedikitpun.


Hans menginjak gas mobilnya dan berlalu meninggalkan apartemen. Reaksi Hans itupun membuat Sela berpikir kalau Hans sudah tidak menginginkan dirinya lagi.


"Cepat sekali kamu melupakan cinta itu Hans. Kamu bahkan tidak mau melihat mukaku lagi! Apa kamu sudah memiliki wanita lain?" batin Sela dengan raut wajah penuh kesedihan.


Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang menghantui benaknya, Sela pun mulai melangkahkan kakinya kearah pintu utama apartemen.


Sementara itu, mobil Hans terlihat sedang berhenti di parkiran sebuah bar. Laki-laki itu turun dan masuk ke dalam bar untuk mengobati kekacauan yang tengah mengusut di dalam hatinya.


"Hans, tumben sekali kamu datang kesini? Angin apa yang sudah membawamu hingga berani menginjakkan kaki di tempat ini?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah sahabat Hans yang bekerja di tempat itu.


"Sudahlah Arbi, jangan banyak bertanya. Berikan aku segelas minuman!" ucap Hans yang tak ingin berbasa-basi dengan sahabatnya itu.


"Apa kamu sudah gila? Kamu tidak pernah minum sebelumnya, jangan bertindak bodoh Hans!" ucap Arbi yang membuat Hans membulatkan matanya lebar-lebar.


"Aku memang tidak pernah minum, tapi hari ini aku akan memulainya!" sahut Hans dengan tatapan penuh kekesalan.


"Jangan membuat dirimu jatuh ke lubang neraka ini, Hans! Jika ada masalah, bisa dibicarakan baik-baik bukan. Kenapa harus mencari pelarian ke tempat ini?" ucap Arbi yang masih ingin menyadarkan Hans.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Dia tidak menginginkan diriku, semuanya sudah berakhir!" sahut Hans dengan mata yang mulai berbinar menahan air matanya.


Hans menceritakan semua yang sedang mengguncang perasaannya kepada Arbi. Satu persatu air matanya pun mulai mengucur di wajahnya tanpa bisa di tahan lagi.


"Sudahlah, tidak ada gunanya membicarakan semua ini. Berikan minuman itu padaku!" ucap Hans sembari meraih botol yang ada di tangan Arbi.


Tanpa berpikir panjang, Hans mulai meneguk minuman yang sudah ada di tangannya itu tanpa berhenti. Dia bahkan terlihat seperti orang yang sedang meneguk air mineral biasa.

__ADS_1


"Jangan minum terlalu banyak, Hans. Kamu tidak akan kuat!" ucap Arbi yang sudah kehilangan akal melihat perubahan pada diri Hans.


"Ambilkan satu botol lagi!" ucap Hans dengan mata yang mulai terlihat memerah.


"Sudah cukup Hans, ini sudah berlebihan!" sahut Arbi.


Hans mengepalkan tangannya dan meninju meja dengan kuat. Dia benar-benar sudah di pengaruhi oleh minuman itu sehingga tidak bisa mengontrol emosinya.


Melihat kemarahan Hans, Arbi terpaksa memberikan satu botol minuman lagi untuk sahabatnya itu. Dia tidak ingin mengundang keributan yang bisa saja mengganggu ketenangan pengunjung lainnya.


Setelah menghabiskan beberapa botol minuman, Hans pun mulai kehilangan keseimbangannya. Dia terjatuh di atas lantai saat hendak melangkah menuju kamar kecil.


Melihat Hans yang sudah tergeletak tak sadarkan diri, Arbi pun bergegas menghampiri sahabatnya itu.


"Sudah aku bilang jangan minum, kau sama sekali tidak mau mendengarkan aku!" gumam Arbi yang terlihat begitu panik melihat kondisi Hans.


Arbi meminta izin kepada pemilik bar untuk mengantarkan Hans pulang ke apartemennya. Setelah mendapatkan izin, dia pun meminta pertolongan kepada teman kerjanya untuk menggotong tubuh Hans masuk kedalam mobil.


Setelah Hans dibaringkan di bangku belakang, Arbi pun dengan cepat melajukan mobilnya menuju apartemen Hans.


Setelah sampai didepan pintu, mereka membiarkan tubuh Hans tergeletak di atas lantai. Arbi pun segera memencet bel karena tau ada orang didalam apartemen itu.


"Ting... Tong..."


Mendengar suara bel, Sela pun bergegas melangkahkan kakinya dan membuka pintu lebar-lebar. Kebetulan malam itu hanya Sela lah yang ada didalam apartemen Hans.


"Permisi, Nona!" sapa Arbi dengan sopan.


"Ya, ada apa?" tanya Sela yang tidak melihat keberadaan Hans saat itu.


"I... Ini Nona, maaf..."


Arbi berbicara sedikit terbata-bata, yang membuat Sela kebingungan sembari mengernyitkan keningnya.


Arbi kemudian menunjuk kearah lantai. Seketika mata Sela pun membulat, saking kagetnya melihat kondisi Hans yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Hans..." teriak Sela sembari menekuk kakinya dan duduk di samping Hans yang sudah tidak berdaya.


"Hans, kamu kenapa? Bangun Hans, jangan begini! Buka matamu, aku mohon! Hiks...Hiks."


Sela menangis histeris. Dia mencoba mengguncang tubuh Hans agar laki-laki itu cepat sadar. Namun pengaruh minuman itu ternyata sangat buruk, hingga Hans tak bisa membuka kedua matanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Hans bisa seperti ini?" tanya Sela sembari menengadahkan kepalanya kearah Arbi.


"Maaf Nona, Hans tadi terlalu banyak minum. Aku sudah melarangnya, tapi dia tidak mau mendengarkan. Sepertinya dia sedang terguncang memikirkan seseorang yang sangat dia cintai!" sahut Arbi yang tidak mengetahui kalau wanita yang dicintai oleh sahabatnya itu adalah wanita yang sedang ada didepan matanya saat ini.


"Hans, bangunlah. Aku mohon, jangan membuatku khawatir! Hiks...Hiks."


Sela mengangkat kepala Hans dengan pelan. Dia pun meletakkan kepala laki-lakinya itu di atas pahanya.


"Bangun Hans, ini aku. Aku disini, bukalah matamu!" ucap Sela yang masih berlinangan air mata.


Sela mengusap-usap kepala Hans dengan pelan. Dia pun tak segan mengecup kening laki-lakinya itu dengan lembut. Kondisi Hans benar-benar membuat gadis cantik itu terpukul.


"Bisakah kamu membantuku membawanya ke dalam?" pinta Sela kepada Arbi yang masih berdiri menatap bingung kearah mereka berdua.


"Iya Nona, sini aku bantu!" sahut Arbi sembari menekuk kakinya dan mengangkat tubuh Hans berdua dengan Sela.


Sesampainya di dalam, mereka berdua langsung melangkah kearah kamar Hans dan membaringkan tubuh laki-laki itu di atas tempat tidur.


"Maaf Nona, aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus kembali ke bar melanjutkan pekerjaanku di sana!" ucap Arbi memohon izin.


"Baiklah, terimakasih sudah membantu!" ucap Sela dengan mata yang sudah terlihat sembab.


Arbi mengayunkan kakinya meninggalkan apartemen Hans. Begitupun dengan Sela yang ikut mengantarkan laki-laki itu hingga pintu.


Setelah kepergian Arbi, Sela pun dengan cepat menutup pintu dan menguncinya. Dia kemudian kembali ke dalam kamar dan bergegas mengambil air untuk mengelap tubuh laki-lakinya yang sudah dipenuhi keringat.


"Apa yang terjadi denganmu, Hans? Kenapa kamu jadi seperti ini?" isak Sela sembari membuka kancing kemeja Hans.


Sela mulai mengelap wajah Hans sembari terus meneteskan air matanya. Dia juga mengelap leher Hans dan juga dada laki-lakinya itu tanpa rasa malu sedikitpun.

__ADS_1


"Bangunlah Hans, aku mohon! Hiks...Hiks." isak Sela sembari menggenggam tangan Hans dengan erat.


__ADS_2