
"Cika, laki-laki yang kamu kenal itu mungkin saja Hans yang sedang kita bicarakan, tapi mungkin juga bukan! Soalnya di dunia ini banyak sekali orang yang mempunyai nama yang sama. Kita juga belum melihatnya secara langsung kan?" ucap Alvin kepada menantu bungsunya itu.
"Iya Pa, Papa benar! Tapi kalau memang dia adalah orang yang sama, Cika sangat setuju kalau dia bersama Sela. Selain tampan, dia juga sangat baik. Waktu itu dia sempat menawarkan bantuan pada Cika, tapi Cika menolaknya. Dia juga sempat beberapa kali datang ke kontrakan Cika, Cika juga menolaknya karena merasa tidak pantas menerima bantuan dari laki-laki asing yang tidak Cika kenal." ucap Cika menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Iya sayang, Papa tau itu. Om Lukman sudah menjelaskan semuanya pada Papa. Hans itu memang orang yang sangat baik dan penolong. Dia selalu membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Dia juga membuka panti asuhan dan panti jompo untuk anak-anak dan orang tua yang terlantar di Swiss." jelas Alvin yang membuat Sela mulai mengagumi sosok Hans.
"Undang saja Hans untuk makan malam bersama kita, Pa! Ilham ingin sekali bertemu dengannya setelah sekian lama!" pinta Ilham kepada papanya.
"Iya, Papa juga berniat seperti itu. Kita tunggu saja waktu yang tepat untuk mengundangnya!" sahut Alvin yang memang ingin segera mempertemukan Sela dengan Hans.
Tidak terasa pembicaraan mereka sudah melebar kemana-mana. Karena hari sudah mulai larut, mereka semua akhirnya menutup pembahasan tentang Sela dan kembali ke kamar masing-masing.
Cika, Sela dan Aldo melangkah menaiki anak tangga dan masuk ke kamar mereka masing-masing.
Sementara, Ilham menggendong istrinya yang sudah sejak tadi tertidur di bahunya dan membawanya masuk kedalam kamar. Sedangkan Ara membantu menggendong Mikaila yang tengah tertidur sangat nyenyak dan menyusul Ilham kedalam kamarnya.
Setelah meletakkan cucunya di atas tempat tidur, Ara pun bergegas keluar dari kamar Ilham dan melangkah menuju kamarnya.
"Ayo Pa, apa Papa mau tidur diluar?" ucap Ara kepada Alvin yang masih menunggunya di ruang keluarga.
"Enak saja, mana bisa Papa memejamkan mata kalau Mama gak ada di samping Papa!" sahut Alvin sembari melangkah menghampiri istrinya.
Ara tersenyum mendengar perkataan suaminya. Mereka pun masuk kedalam kamar dan bersiap-siap untuk beristirahat.
Dilantai atas, Sela sedang termenung sendirian sembari memikirkan perkataan Om nya barusan. Perasaannya mulai bercampur aduk membayangkan sosok Hans yang sudah diceritakan oleh Om nya itu.
Sela sebenarnya ingin sekali menolak, tapi dia juga tidak berdaya melakukan semua itu. Kasih sayang yang diberikan oleh Alvin dan Ara selama ini, membuatnya menjadi lemah. Orang tua kandungnya saja tidak pernah memberikan perhatian seperti yang dilakukan oleh Om dan Tantenya itu.
"Mungkin ini semua jalan yang terbaik untukku. Om Alvin pasti sudah memikirkannya dengan baik." gumam Sela sembari memejamkan sepasang matanya yang sudah terasa berat itu.
Dikamar lain, Aldo sedang mencoba menginterogasi istrinya. Ucapan Cika dibawah tadi, membuat Aldo jadi berpikiran aneh karena rasa cemburunya yang tidak masuk akal.
"Sayang...!" ucap Aldo sembari memeluk tubuh istrinya yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ya, ada apa Aldo? Kamu masih curiga kepadaku?" sahut Cika yang sudah mengerti dengan maksud obrolan suaminya.
"Bukan begitu sayang, aku percaya padamu! Hanya saja, sebagai seorang suami aku juga ingin tau apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Aldo yang masih penasaran dengan sosok Hans yang dikatakan istrinya.
"Tidak ada apa-apa Aldo, semuanya sudah aku jelaskan tadi! Kami hanya kebetulan bertemu, tidak ada hal lain lagi selain itu!" ucap Cika meyakinkan suaminya.
"Tapi, kenapa dia sampai mendatangimu ke kontrakan segala? Itu kan aneh, sayang. Atau jangan-jangan dia menyukaimu dan sengaja membuntuti mu pada saat itu!" prasangka Aldo yang membuat pikirannya jadi tidak tenang.
"Kamu tidak usah berpikiran sampai sejauh itu, Aldo! Aku tau kodrat ku sebagai seorang istri. Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh yang akan menghancurkan harga diriku dan suamiku!" ucap Cika yang membuat Aldo terdiam seketika.
"Iya sayang, aku tau kamu itu adalah istri yang bisa menjaga harga diri dan martabat suami! Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud mencurigai mu!" ucap Aldo sembari mengusap perut istrinya.
"Ya sudah, ayo tidur! Aku sudah mengantuk." ucap Cika yang mulai menguap.
"Jangan tidur dulu, sayang!" pinta Aldo menahan istrinya untuk tidak tidur.
"Ada apa lagi, Aldo?" tanya Cika yang sudah tidak sanggup menahan matanya lagi.
"Kita main dulu sebentar, aku menginginkannya sayang!" bisik Aldo tepat di telinga istrinya cantiknya.
Melihat wajah polos istrinya yang sudah sangat kelelahan, Aldo pun akhirnya mengurungkan niatnya. Kenyamanan Cika lebih penting untuknya saat ini, apalagi istri yang sangat dicintainya itu sedang mengandung buah cinta mereka yang sudah lama mereka idam-idamkan.
*****
Pagi harinya, Cika bangun lebih awal dari suaminya. Cika bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan tubuhnya ke kamar mandi.
Selesai mandi Cika mengenakan pakaian dan merias wajah cantiknya seadanya saja. Setelah itu Cika bergegas menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
"Aldo, bangun sayang!" bisik Cika tepat di telinga suaminya yang masih tertidur pulas.
Pelan-pelan Aldo membuka matanya dan tersenyum melihat wajah cantik yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Aldo sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, sayang. Ayo cepat bangun, aku sudah menyiapkan baju kerja untukmu! Mulai sekarang kamu harus semangat lagi mengurus perusahaan! Aku ingin kamu lebih bertanggungjawab, jangan membebankan Sela terus-menerus! Dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri!" ucap Cika yang membuat Aldo mengernyitkan keningnya.
"Bicara apa gadis bodoh itu padamu kemarin? Kenapa kamu bisa berkata seperti ini padaku?" tanya Aldo sedikit kepo dengan pembicaraan istri dan sepupunya.
"Tidak ada, sayang. Aku hanya kasihan terhadap Sela. Apa kamu tidak ingin melihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik? Bagaimanapun, dia itu juga membutuhkan pendamping seperti kamu dan aku!" ucap Cika menyentuh perasaan suaminya.
"Iya sayang, kamu benar. Aku juga tidak ingin melihatnya selalu bersedih seperti tadi malam!" sahut Aldo yang sangat mengerti dengan perasaan sepupunya.
"Ya sudah, cepat bangun! Aku mau ke bawah dulu membantu menyiapkan sarapan!" ucap Cika dengan senyum yang menenangkan.
Dengan penuh semangat, Aldo bangkit dari tempat tidur dan melangkah kedalam kamar mandi. Sementara Cika segera meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur.
"Selamat pagi, Bi!" sapa Cika kepada Bibi yang sedang memasak di dapur.
"Selamat pagi, Non Cika! Kenapa Non Cika ke dapur? Non kan sedang hamil muda, tidak boleh banyak bergerak!" ucap Bibi yang mengkhawatirkan kondisi istri Aldo itu.
"Tidak apa-apa Bi. Memasak bukanlah pekerjaan yang berat, Bibi tidak perlu khawatir!" sahut Cika.
Cika menyingsingkan lengan bajunya dan mulai membantu Bi Wati dengan semangat. Tidak lama, Ara juga muncul di dapur dan terkejut melihat menantunya yang sudah kasak-kusuk.
"Cika, apa yang kamu lakukan di dapur sepagi ini? Kamu itu tidak boleh capek, usia kandungan kamu masih sangat rentan!" ucap Ara mencemaskan keadaan Cika.
"Tapi Ma..."
Belum sempat Cika berucap, Ara sudah menarik tangan menantunya itu dan membawanya ke meja makan.
"Tidak ada tapi-tapi sayang. Duduklah disini, Mama akan membuatkan susu untukmu!" ucap Ara sembari mengusap perut menantunya yang mulai terlihat membuncit.
"Mama terlalu memanjakan aku, aku jadi merasa serba salah!" sahut Cika dengan datarnya.
Ara hanya tersenyum mendengar ucapan menantunya itu. Dia pun melangkah dan membuatkan susu untuk Cika.
"Minumlah sayang, ini baik untukmu dan cucu Mama!"
__ADS_1
Setelah memberikan segelas susu untuk Cika, Ara pun kembali masuk ke dapur dan menyelesaikan urusan masak memasak yang sudah menjadi kewajibannya setiap pagi.