Hati Berdarah

Hati Berdarah
Sambutan Hangat


__ADS_3

Setelah kurang lebih 25 jam mengudara, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi berhasil mendarat di tanah air dengan selamat. Siang itu hanya Ara dan sopir lah yang bisa menjemput mereka semua.


Ara jarang sekali berpisah dengan Alvin, dia sudah tidak sabar menyambut kedatangan suaminya itu. Dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyambut kedatangan calon menantunya yang sebentar lagi akan mempersunting keponakannya.


Sementara itu, dari kejauhan mulai tampak Alvin dan Lukman yang tengah berjalan ke arah Ara. Disusul oleh Hans dan Sela yang tengah melangkah di belakang dua orang laki-laki tampan itu.


"Papa," teriak Ara sembari melambaikan tangannya ke arah Alvin.


Alvin tersenyum dengan penuh semangat saat menyadari kehadiran wanita yang sangat dia cintai itu. Dia pun membalas lambaian tangan istrinya sembari menarik koper yang ada di tangan kanannya.


"Ehm," Lukman berdeham saat menyadari tatapan sahabatnya yang sudah berubah dari sebelumnya.


"Hahahaha... Harap dimaklumi, istriku itu sebenarnya tidak bisa jauh-jauh dariku. Tapi demi Sela, dia harus rela menahan perasaannya asalkan gadis itu bahagia!" ucap Alvin.


"Ya ya ya, aku mengerti." sahut Lukman sembari tersenyum.


Ara bergegas menghampiri suaminya dan memeluk tubuh laki-laki yang sudah mulai terlihat tua itu dengan erat. Raut wajahnya terlihat berseri-seri, apalagi setelah melihat Sela yang berjalan berdampingan dengan Hans.


Ara melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya dan beralih ke arah Sela. Dia kemudian memeluk keponakannya itu dengan perasaan haru.


"Selamat datang kembali sayang." ucap Ara.


"Terima kasih Tan, Sela sangat merindukan Tante." sahut Sela dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sela merasa sangat beruntung memiliki keluarga seperti Alvin dan Ara yang begitu menyayangi dirinya. Dia bahkan lebih menyayangi dua orang tua itu daripada orang tua kandungnya sendiri.


"Ya sudah, ayo masuk ke dalam mobil!" ajak Ara.


Siang itu Ara memang sengaja membawa mobil yang agak besar agar bisa menampung semua orang. Dia berniat untuk membawa calon besan dan calon menantunya untuk makan siang terlebih dahulu di kediamannya.

__ADS_1


Mereka semua mulai melangkah ke arah mobil yang sudah menunggu di depan bandara. Satu persatu dari mereka mulai masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku masing-masing.


Lukman duduk di bangku depan bersebelahan dengan sopir mereka, Ara dan Alvin duduk di bangku tengah. Sementara itu, Hans dan Sela duduk berdua di bangku belakang.


Mobil mewah itupun mulai berlalu meninggalkan bandara dan melaju ke arah kediaman Alvin.


Di rumah, Cika dan Mila tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan keluarga mereka. Meskipun dengan perut yang sudah tampak berat, tapi Cika tidak mau bermalas-malasan saja di rumah mertuanya itu.


Cika masih saja terlihat aktif seperti biasanya. Apalagi dia tengah berbahagia karena sahabatnya akan segera melepas masa lajangnya dan menjadi istri orang sebentar lagi.


"Apa setelah menikah nanti Sela akan pergi meninggalkan rumah ini Kak?" tanya Cika kepada Mila.


"Tentu saja sayang, Sela sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Jadi dia harus mengikuti kemanapun suaminya membawanya, sama seperti kita!" sahut Mila.


"Cika jadi kesepian dong nanti. Kakak sebentar lagi akan kembali ke rumah Kakak, Sela juga akan ikut dengan suaminya!" ucap Cika yang sedang terduduk di kursi setelah selesai menyiapkan makan siang.


"Kan masih ada Mama, kamu tidak akan kesepian sayang. Kamu juga boleh tinggal di rumah kalau kamu mau, itu kan rumah kamu juga. Jadi kamu bebas memilih mau tinggal dimana saja?" sahut Mila.


"Iya sayang, terserah kalian saja. Kakak akan sangat senang jika kamu mau tinggal bersama Kakak." ucap Mila sembari mengusap kepala Cika dengan penuh kasih sayang.


Meskipun belum terlalu lama berbaur, tapi ikatan darah di antara mereka berdua terlihat begitu kental. Mereka saling menyayangi satu sama lain walaupun tanpa kehadiran orang tua mereka.


Mila yang selama ini hidup tanpa saudara, merasa sangat beruntung karena masih memiliki adik sepupu seperti Cika. Begitupun dengan Cika yang selama ini hidup tanpa kasih sayang, akhirnya mendapatkan semua itu dari Mila yang memiliki sifat lembut dan penuh perhatian.


Ditengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar. Untung saja semua makanan sudah terhidang di atas meja.


Cika dan Mila bergegas meninggalkan ruang makan dan melangkah ke arah pintu utama untuk menyambut kedatangan keluarga mereka.


Satu persatu dari mereka yang ada di dalam mobil pun mulai turun dan mengambil koper mereka masing-masing. Cika yang sudah sangat merindukan Sela, dengan cepat menghampiri sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sela, aku sangat merindukanmu." ucap Cika sembari memeluk tubuh gadis cantik itu dengan erat.


"Jangan kuat-kuat Cika, kasihan keponakan aku nanti terjepit di dalam sana!" sahut Sela yang mengkhawatirkan calon keponakannya yang ada di dalam perut Cika.


"Hehehe, tidak apa-apa Sela. Keponakanmu juga sangat merindukan aunty nya yang satu ini." ucap Cika sembari melepaskan pelukannya.


"Aku juga sangat merindukan kalian semua." sahut Sela dengan senyuman yang mengambang di wajahnya.


Setelah puas melepaskan kerinduannya dengan Sela, Cika kemudian menyalami tangan Alvin dan menciumnya dengan penuh rasa hormat. Dia juga tidak lupa menyalami Lukman dan Hans yang sudah ada di depannya. Begitupun dengan Mila yang ikut menyusul pergerakan Cika.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Alvin sembari memeluk dua menantu cantiknya itu.


"Baik Pa, kami semua merindukan Papa." sahut Cika dan Mila secara bersamaan.


"Papa juga merindukan kalian semua, mana Mikaila?" tanya Alvin yang tidak melihat cucu pertamanya di antara menantunya itu.


"Mikaila di kamar Pa lagi tidur." sahut Mila.


"Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak Alvin.


Alvin dan Lukman melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah mewah itu. Ara dan Mila pun menyusul dari arah belakang. Kemudian di sambung oleh Cika, Sela dan Hans yang berjalan beriringan di belakang mereka semua.


Tatapan Hans ke arah Cika pun terlihat sedikit aneh. Meskipun Hans sudah memiliki Sela yang sangat dia cintai, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia memang sempat menyukai Cika sebelum mengetahui kalau wanita cantik itu adalah istrinya orang.


Pertemuan mereka yang tidak disengaja tempo hari, mendatangkan benih-benih cinta di hati Hans. Namun saat Hans mengetahui kehamilan Cika, dia langsung menepis perasaan itu karena tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang.


Sesampainya di dalam rumah, mereka semua langsung melangkah menuju ruang makan. Mereka mulai menikmati setiap hidangan yang sudah terhidang di atas meja.


Kehangatan dua keluarga itupun semakin terasa saat Alvin dan Lukman mulai membahas tentang rencana pernikahan Sela dan Hans yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

__ADS_1


Sela dan Hans terlihat begitu bahagia karena tidak lama lagi mereka akan bersatu di dalam sebuah ikatan yang sangat sakral.


__ADS_2