Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 13. Tidur Di Kamar Yang Sama


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat.


Hari sudah menunjukkan pukul 00.00 Wib.


Aldo masih setia menemani Cika di dalam kamar. Dia tidak mau melepaskan tangan wanita yang di cintai nya itu dan masih menggenggamnya dengan sangat erat.


Sementara di bawah sana, Sela dan orang tuanya masih duduk sambil mengobrol menunggu kabar dari Aldo.


"Sela!" ucap Ara membuka pembicaraan.


"Iya Tan, ada apa?" ucap Sela sambil menatap kearah tantenya itu.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara Aldo dan sahabatmu itu?" tanya Ara yang mulai merasa sedikit aneh dengan putranya itu.


"A, anu Tan! Setau Sela, Aldo menyukai Cika." jawab Sela yang sedikit merasa ragu, dia takut kalau tante nya akan marah mendengar semua itu.


"Oh, jadi gadis yang di maksud Aldo tadi sore itu adalah Cika!" balas Ara yang kembali teringat ucapan putranya.


"Memangnya Aldo ngomong apa sama mama? Kenapa papa gak di kasih tau?" tambah Alvin dengan raut wajah penasaran.


"Gimana mau ngasih tau papa, papa saja sibuk terus seharian." ucap Ara kepada suaminya dengan nada sedikit kesal.


Tidak lama kemudian Aldo turun ke bawah menemui kedua orang tuanya. Wajahnya terlihat sedikit lesu.


"Ma, Pa! Kalian tidur saja duluan! Kamu juga ya Sel, biar aku saja yang nungguin Cika. Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat." ucap Aldo yang membuat Sela dan orang tuanya sedikit merasa lega.


"Tapi kamu gak boleh berduaan di dalam kamar itu sayang, gak baik." ucap Ara sambil mencubit pinggang suaminya agar menasehati Aldo.


Alvin pun merasa sedikit kesal dengan perlakuan istrinya itu.


"Apa-apaan sih Ma? Sakit tau." ketus Alvin sambil berbisik agar tidak di dengar oleh Aldo dan Sela.


"Biarkan saja Ma! Aldo itu kan sudah besar. Dia pasti tau mana yang terbaik untuk dirinya. Kalau pun dia menanam saham duluan, itu kan lebih baik. Bukannya mama sudah gak sabar mau menimang cucu." tambah Alvin sambil tersenyum menggoda istrinya.


"Dasar gila!" bisik Ara kembali kepada suaminya yang membuat raut wajah Alvin berubah seketika.


Ara dan Alvin pun akhirnya memilih untuk membiarkan Aldo tetap bersama Cika. Sementara itu Sela dan kedua orang tuanya melangkah menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Sela memilih untuk tidur di kamar tamu.

__ADS_1


Aldo segera melangkah menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya.


Sementara di dalam kamar, Cika sudah terbangun, dan masih sedikit bingung dengan keberadaannya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Aldo yang baru saja membuka pintu, dan kemudian berlari kecil kearah Cika.


"Hmmm,,"


Tanpa banyak berpikir, Aldo dengan segera memeluk tubuh indah yang sangat dia rindukan itu. Pelukan yang sangat hangat, bahkan Cika pun tidak kuasa untuk menolaknya. Hatinya terasa begitu tenang berada dalam pelukan Aldo.


Aldo semakin mempererat pelukannya, Cika pun membalas pelukan itu. Tanpa di sadari air mata Aldo sudah turun membasahi pipinya.


"Sayang, apa ada yang sakit?" tanya Aldo dengan lembut sambil mencium kening Cika.


Cika hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Aldo.


Dengan segera Aldo melepaskan pelukannya.


"Apa yang sakit?" tanya Aldo dengan wajah yang mulai terlihat panik.


"Hati," jawab Cika dengan suara sedikit berat.


"Apa maksudmu?" tanya Aldo bingung mendengar perkataan Cika.


"Aku juga tidak tau." jawab Cika yang mau melangkah meninggalkan kamar Aldo.


Melihat Cika yang ingin meninggalkan kamar. Aldo segera berlari dan mengunci pintu kamarnya dengan cepat, kemudian memasukkan kunci itu ke dalam kantong celananya.


"Apa ini sudah kebiasaan mu memperlakukan seorang wanita? Selalu mengurungnya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan!" tegas Cika dengan meninggikan suaranya.


"Maksud kamu apa?" tanya Aldo yang semakin tidak mengerti arah pembicaraan Cika.


Cika semakin dibuat kesal dengan kelakuan Aldo. Hatinya semakin terasa sakit begitu mengingat kejadian dibawah tadi. Pikirannya mulai dipenuhi dengan hal-hal yang negatif tentang Aldo.


"Apa dia sudah biasa berdua duaan dengan wanita didalam kamar seperti ini?" batin Cika menatap sadis kearah Aldo.


Sementara Aldo masih terdiam melihat Cika yang begitu marah terhadap dirinya. Namun dengan segera dia mendekati Cika kembali.

__ADS_1


"Cika tolong jangan seperti ini! Aku hanya ingin menjagamu." ucap Aldo dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin menjadi korban mu yang selanjutnya. Lebih baik kau cari saja wanita lain yang bisa kau mainkan seenak hatimu. Atau mungkin wanita tadi, yang bisa memenuhi semua keinginan mu." tegas Cika sambil menatap tajam ke wajah Aldo.


"Cika!" teriak Aldo yang mulai tersulut emosi.


"Apa? Kamu marah karena aku sudah tau kebusukan mu." jawab Cika meninggikan suara.


"Aku tidak sehina yang kau tuduhkan. Aku masih punya harga diri sebagai seorang laki-laki." tambah Aldo menahan kemarahannya.


Aldo yang sudah mulai kehilangan kendali, mencoba sedikit menahan emosinya menghadapi Cika. Dia berpikir kalau wanita keras kepala seperti Cika tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Itu pasti hanya akan membuatnya semakin menjadi-jadi.


"Cika, tenanglah dulu! Duduklah disini!" ucap Aldo sambil menarik tangan Cika pelan.


"Aku tidak ingin menyakitimu, tolong dengarkan aku!" tambah Aldo meyakinkan Cika.


"Kau telah menyakitiku." jawab Cika pelan sambil berlinangan air mata.


"Aku, kapan aku menyakitimu?" tanya Aldo yang semakin bingung dengan pernyataan Cika.


"Wanita itu adalah kekasihmu, kenapa kau masih saja mendekati aku?" ucap Cika yang masih terisak.


"Apa kau cemburu?" tanya Aldo yang sudah mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Cika.


Seketika Aldo hanya tersenyum melihat Cika. Dia merasa begitu bodoh karena baru menyadari penyebab kemarahan Cika terhadap dirinya.


Aldo kembali memeluk Cika. Cika berusaha mengelak tapi Aldo tidak memberi celah untuk Cika menghindar.


"Kamu cemburu sayang?" ucap Aldo sambil mengelus elus kepala Cika.


"Tidak!" jawab Cika singkat saja karena merasa malu.


"Sudah sayang, bilang saja kalau kamu cemburu. Gak perlu malu-malu." ucap Aldo yg seketika membuat wajah Cika terlihat memerah.


Cika kembali berusaha melepaskan diri dari Aldo. Tapi Aldo tidak mau melepaskannya. Pelukannya malah semakin erat.


"Seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan yang namanya cinta. Hanya kamu Cika, kamulah wanita pertama yang aku cintai. Kamu lah satu-satunya, tidak ada yang lain. Jangan kan untuk melakukan hal itu. Menyentuh wanita pun aku tidak pernah. Tolong percaya padaku! Aku hanya menginginkan dirimu saja. Aku sangat mencintaimu Cika." ucap Aldo panjang kali lebar menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.

__ADS_1


Cika hanya terdiam mendengar penjelasan dari Aldo. Seketika hatinya merasa senang mendengar pengakuan Aldo. Matanya kembali berkaca-kaca. Dia bahkan tidak menyangka begitu besar cinta Aldo terhadap dirinya.


__ADS_2