Hati Berdarah

Hati Berdarah
Anak Asuh


__ADS_3

Melihat Hans yang sudah berpakaian rapi, Lukman pun dengan cepat menghampiri putra semata wayangnya itu.


"Mau kemana kamu, Hans?" tanya Lukman dengan tatapan mencari tau.


"Hans mau keluar sebentar, Pa!" sahut Hans dengan begitu dinginnya.


"Kebetulan sekali, Papa sama Om Alvin juga mau keluar menemui klien bisnis kami. Bawalah Sela bersamamu, kasihan dia sendirian di apartemen!" ucap Lukman yang sengaja ingin mendekatkan mereka kembali.


"Tapi Pa,..."


"Sudahlah, jangan banyak alasan!" ucap Lukman memaksakan kehendaknya kepada Hans.


"Terserah Papa saja!" sahut Hans dengan tatapan penuh kekesalan.


Hans melangkah menuju ruang tamu. Raut wajahnya jelas sekali mengisyaratkan kalau dia tidak senang dengan permintaan papanya. Dia mulai menekuk kakinya dan duduk di sofa sembari menunggu gadis yang sebenarnya ingin dia jauhi.


Sementara itu, Lukman mengayunkan kakinya menuju kamar Sela. Laki-laki paruh baya itu tidak mau membuang-buang waktunya. Dia ingin secepat mungkin membuat putranya dan Sela berbaikan.


"Tok...Tok...Tok..."


"Sela, buka pintunya Nak! Ini Om Lukman." ucap Lukman dari balik pintu kamar Sela.


"Iya Om, tunggu sebentar!" teriak Sela sembari melangkah kearah pintu dan membukanya dengan lebar.


Gadis cantik itu hanya bisa tersenyum dengan tipis, saat melihat Lukman yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ada apa, Om?" tanya Sela dengan sopan.


"Om Alvin dan Om akan pergi keluar. Kamu bersiap-siap lah, pergilah dengan Hans melihat-lihat pemandangan kota ini!" ucap Lukman dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Tidak perlu, Om. Sela di rumah saja!" sahut Sela yang masih sangat canggung berada di dekat Hans.


"Jangan begini Sela, kamu adalah tamu kami! Tolong, jangan menolak permintaan Om!" ucap Lukman dengan tatapan memohon.


Melihat raut wajah Lukman yang seperti menyimpan kesedihan, Sela pun tak kuasa menyakiti hati laki-laki paruh baya itu.


"Baiklah Om, Sela bersiap-siap sebentar!" ucap Sela dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Mendengar jawaban Sela, raut wajah Lukman pun terlihat begitu bahagia. Dia berjalan meninggalkan kamar gadis itu dan melangkah menuju ruang tamu.


"Dari mana kamu Lukman? Apa kita jadi keluar?" tanya Alvin yang sedang duduk berhadap-hadapan dengan Hans.


"Jadi, ayo jalan sekarang!" sahut Lukman yang tak berhenti menebar senyumnya.

__ADS_1


Alvin mulai bangkit dari tempat duduknya. Sementara, Lukman melangkah kearah Hans dan berbisik tepat di telinga putranya itu.


"Jaga Sela dengan baik, jangan sampai menyakiti hatinya!" bisik Lukman.


"Iya, kalian pergilah!" sahut Hans dengan dinginnya.


Alvin dan Lukman mulai mengayunkan kaki mereka meninggalkan apartemen. Mereka sebenarnya tidak mempunyai acara apapun. Mereka hanya ingin menghindar, agar Hans bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Sela.


Tidak lama setelah kepergian dua laki-laki tampan itu, Sela pun keluar dari kamarnya. Dia melangkah menghampiri Hans, tanpa berucap sepatah katapun.


"Kau sudah siap?" tanya Hans dengan santainya.


"Iya, kita mau kemana?" tanya Sela dengan tatapan penuh kecanggungan.


"Ikut saja, jangan banyak tanya!" ucap Hans sembari melangkah kearah pintu.


Sikap Hans yang berbanding terbalik dengan biasanya, membuat Sela menjadi serba salah. Gadis cantik itu bahkan tidak berani berbicara. Dia hanya menundukkan kepalanya sembari mengikuti langkah kaki Hans keluar dari apartemen.


Sesampainya di luar, Hans langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudinya. Dia membiarkan Sela membuka pintunya sendiri. Bahkan dia sama sekali tidak menatap gadis itu.


Setelah mereka berdua duduk didalam mobil, Hans mulai menginjak gas dan berlalu menyusuri jalanan kota. Sementara, Sela hanya diam sembari menatap keluar jendela.


Perasaan hati Hans saat itu mulai berkecamuk. Dari hati yang paling dalam, dia ingin sekali memeluk dan melepaskan kerinduan yang sudah dia tahan selama ini kepada Sela.


Hari itu, Hans membawa Sela ke panti asuhan miliknya. Di sana Hans terlihat begitu bahagia. Hans asyik bermain dengan anak-anak asuhnya. Sementara, Sela hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.


Melihat senyuman yang begitu tulus di wajah tampan itu, membuat Sela sesekali ikut tersenyum.


"Om Hans, siapa wanita cantik itu? Apa dia kekasih Om?" tanya seorang anak asuhnya yang bernama Andini.


"Tidak sayang, Om tidak mempunyai kekasih. Dia itu hanyalah teman Om!" sahut Hans sembari melirik kearah Sela.


"Tapi sepertinya dia menyukai Om. Apa Om tidak menyukai wanita itu?" tanya Andini dengan polosnya.


Pertanyaan itu seketika membuat jantung Hans berdegup dengan kencang. Dia sama sekali tidak menyangka, anak yang masih berusia 8 tahun bisa menanyakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Om sangat menyukai wanita itu, sayang. Tapi perasaan itu tidak berbalas sedikitpun!" batin Hans sembari memeluk Andini penuh kehangatan.


Andini dan beberapa orang temannya berlari kearah Sela. Gadis kecil itu menarik tangan Sela dan mengajaknya bermain bersama.


Sela yang saat itu tengah duduk di bangku taman, tidak bisa menolak permintaan bocah-bocah itu. Dia langsung berdiri dan mengikuti langkah Andini yang menarik tangannya kearah Hans.


"Om, Tante, bisakah kalian ikut bermain bersama kami!" pinta Andini sembari menggenggam tangan Sela dan Hans secara bersamaan.

__ADS_1


"Mau main apa, sayang?" tanya Sela dengan manisnya.


"Main petak umpet saja. Om dan Tante yang bertugas berjaga. Kalian berdua harus menemukan kami!" ucap Andini yang sangat senang dengan kedatangan mereka berdua.


Andini berlari ke dalam panti. Dia mengambil dua helai kain berwarna hitam, untuk menutup mata Sela dan Hans.


"Ayo kita mulai!" ucap Andini dengan nafas terengah-engah usai berlari.


Andini membantu menutup mata Sela. Sementara, temannya yang lain membantu menutup mata Hans.


"Kenapa mata Tante ditutup, sayang?" tanya Sela mencari tau.


"Ini peraturan permainan ini. Ayo, tangkap kami!" ucap Andini sembari berlari menjauh dari mereka berdua.


Sela mulai meraba-raba mencari keberadaan Andini dan temannya. Begitupun dengan Hans yang juga ikut mencari mereka.


Tidak di sangka, ternyata Andini bukannya ingin bermain. Tapi dia hanya ingin mengerjai Hans dan Sela saja.


"Ayo, tangkap kami!" teriak Andini yang sudah berlari kearah sebuah ruangan kosong.


Sela dan Hans masih saja berputar-putar mencari keberadaan bocah-bocah lucu itu. Namun, belum ada satupun yang berhasil mereka tangkap.


Andini dan temannya pun masuk kedalam ruangan dan berteriak memanggil dua orang yang masih kesulitan menangkap salah satu diantara mereka itu.


"Kami disini, ayo tangkap!" teriak Andini dengan lantang.


"Jangan jauh-jauh larinya, sayang! Om kesulitan menangkap kalian!" ucap Hans yang sudah ingin menyerah dalam permainan itu.


"Tidak jauh, kami didepan kalian!" sahut Andini sembari menutup mulutnya menahan gelak tawanya.


Mendengar suara Andini yang begitu dekat, Hans pun segera melangkahkan kakinya. Begitu juga dengan Sela yang sepertinya hampir berhasil menemukan mereka.


Karena Sela dan Hans sudah berada di dalam ruangan yang sama. Andini dan temannya mulai mengendap-ngendap meninggalkan ruangan. Dia juga menutup pintu dengan pelan, agar tidak terdengar oleh Sela dan Hans.


Sela dan Hans terus saja mencari hingga tangan mereka bertemu satu sama lain.


"Yes, kalian tertangkap!" teriak Hans dan Sela secara bersamaan.


Saking senangnya, Hans dan Sela mulai membuka penutup mata mereka. Namun senyuman mereka tiba-tiba menghilang, saat menyadari kalau yang mereka tangkap itu bukanlah bocah-bocah tadi. Melainkan tangan mereka satu sama lain.


"Ma... Maafkan aku. Aku tidak sengaja!" ucap Sela sembari menarik tangannya dari genggaman Hans.


Seketika, raut wajah Hans kembali diselimuti oleh kesedihan. Pikirannya mengatakan kalau Sela benar-benar tidak menginginkan dirinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku yang salah. Tidak seharusnya aku menyentuh tanganmu dengan tangan kotorku ini!" sahut Hans dengan tatapan penuh kekecewaan.


__ADS_2