Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 47. Kepergian Cika


__ADS_3

Dengan langkah kaki terburu-buru, Cika berlari masuk kedalam ruangan disusul oleh Aldo dibelakangnya.


"Cklek"


Cika terkejut melihat seorang wanita yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Selamat pagi, Nyonya Aldo yang terhormat!" sapa Melia dengan senyuman sinis nya kearah Cika dan Aldo.


"Kamu??? Ada keperluan apa kamu datang mencari ku?" tanya Cika dengan tatapan penasaran.


"Aku tidak mencari mu, tapi aku mencari kalian berdua." ucap Melia sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Untuk apa kamu mencari kami?" sambung Aldo yang tidak senang melihat kedatangan Melia.


Namun, sesaat Cika melotot menatap kearah perut Melia yang terlihat membesar, tidak seperti perut wanita pada umumnya.


Tatapan Cika pun kemudian beralih kearah Aldo seakan-akan menunggu penjelasan dari suaminya. Aldo pun ikut menatap Cika dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


"Kenapa kalian saling menatap?" tanya Melia yang kembali tersenyum dengan licik.


"Katakan! Apa tujuanmu datang kesini?" tanya Cika yang mulai merasa curiga dengan niat Melia.


"Jangan terburu-buru Cika! Aku masih ingin berlama-lama disini." ucap Melia yang membuat Aldo mulai merasa geram.


"Tidak perlu bertele-tele! Kalau tidak ada kepentingan, lebih baik tinggalkan tempat ini!" bentak Aldo yang mulai muak melihat wajah Melia.


"Tenang, sayang! Kenapa mengusirku? Bukankah malam itu kamu begitu bersemangat berada di pelukanku." ucap Melia yang membuat Cika meradang seketika.


"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!" teriak Cika yang semakin berapi-api ketika Melia memanggil sayang kepada suaminya.


"Aldo, katakan padaku! Apa yang sudah terjadi diantara kalian?" tanya Cika sambil menarik kerah suaminya dengan kasar.


"Tenang, sayang! Aku juga tidak mengerti dengan apa yang dia katakan?" sahut Aldo yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


Cika mulai meneteskan air matanya, perasaannya mulai gelisah melihat perut Melia seperti sedang mengandung.


"Aku kesini ingin meminta pertanggung jawaban dari suamimu." ucap Melia yang membuat Cika langsung lemas tak berdaya.


"Apa kau sudah gila? Aku tidak pernah menyentuhmu! Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?" sambung Aldo yang merasa yakin tidak pernah menyentuh wanita licik itu.


"Jangan mengelak, Aldo! Ini anakmu, darah daging mu. Kau sendiri tau itu." ucap Melia sembari melangkah mendekati Aldo.

__ADS_1


"Cika, percayalah kepadaku! Aku tidak pernah mengkhianati cinta kita. Dia telah menjebak ku." ucap Aldo sembari memegang kedua tangan istrinya.


"Lepaskan aku! Hiks,,, hiks,,, hiks." teriak Cika sembari menangis penuh kekecewaan.


"Jangan percaya dengan wanita licik ini, sayang! Aku bersumpah, aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu! Dia hanya ingin menghancurkan hubungan kita." ucap Aldo meyakinkan istrinya.


"Dasar laki-laki pembohong! Aku membencimu, Aldo!" teriak Cika dengan sangat lantang.


Melihat drama yang sedang terjadi antara Aldo dan Cika, Melia kembali tersenyum sangat licik. Dia merasa telah menang karena telah membuat Cika membenci suaminya.


"Kalau kamu tidak percaya, ini semua bukti-buktinya!" ucap Melia sembari melemparkan beberapa lembar foto kearah Cika.


Sesaat Cika terdiam, hatinya merasa hancur berantakan. Foto yang saat ini dia lihat, memang benar merupakan foto suaminya bersama wanita murahan itu.


"Kalian benar-benar menjijikkan!" teriak Cika sembari mendorong kuat tubuh suaminya hingga tersungkur di atas lantai.


Cika tak kuasa menahan kesakitan yang benar-benar menyayat hatinya.


Dengan berderaian air mata, Cika berlari meninggalkan butik dan segera memberhentikan sebuah taksi yang lewat di tengah jalan.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" batin Putri yang melihat Cika menangis meninggalkan butik.


"Puas kau wanita ******! Dasar tidak tau malu!" bentak Aldo sembari berlari menyusul istrinya.


"Ada apa, Pak Aldo?" tanya Putri yang melihat kekhawatiran di wajah putra bosnya itu.


"Kamu melihat Cika, Put?" tanya Aldo yang sedang mencari keberadaan istrinya.


"Buk Cika baru saja keluar dari butik, Pak!" sahut Putri yang semakin kebingungan.


Aldo berlari mengejar Cika ke jalanan didepan butik, namun batang hidung Cika tidak tampak sama sekali.


"Kemana kamu, sayang? Kenapa kamu tidak mencoba mendengar penjelasan dariku terlebih dahulu?" gumam Aldo sembari mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Aldo kemudian bergegas mengambil mobilnya dan menyusuri setiap jalan untuk mencari keberadaan Cika.


"Aku harus menelpon Cika!" gumam Aldo sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.


("Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi")


"Aish,,, bahkan ponselmu tidak bisa dihubungi. Kemana kamu pergi, Cika?" gumam Aldo yang semakin merasa khawatir memikirkan istrinya.

__ADS_1


Sudah ke sana kemari Aldo mencari istrinya, tapi Cika sama sekali tidak tampak dimana pun yang membuat Aldo sedikit frustasi.


Aldo memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Dia berpikir mungkin saja Cika tengah berada dirumahnya untuk menenangkan diri.


"Aldo! Kenapa kamu kembali? Kamu tidak ke kantor?" tanya Ara yang bingung melihat raut wajah putra bungsunya.


"Cika ada di rumah gak, Ma?" tanya Aldo tanpa menghiraukan pertanyaan mamanya.


"Nah,,, bukannya Cika tadi berangkat sama kamu?" Ara sama sekali tidak mengerti kenapa Aldo malah menanyakan Cika kepadanya.


"Cika lari dari butik, Ma! Aldo tidak tau harus mencari Cika kemana lagi? Tolongin Aldo, Ma! Aldo tidak bisa hidup tanpa Cika." ucap Aldo sembari menangis di pelukan mamanya.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Ara sambil mengusap kepala putra bungsunya.


"Tidak, Ma! Cika salah paham. Tiba-tiba saja wanita siluman itu datang ke butik. Dia memanfaatkan kehamilannya untuk memanasi Cika. Cika termakan oleh ucapannya dan pergi meninggalkan Aldo."


Aldo menjelaskan kepada mamanya dengan suara yang mulai terdengar serak karena tangisannya.


"Sudah, kamu tenang dulu! Mama akan menghubungi Cika." ucap Ara sembari mengambil ponselnya.


"Ponsel Cika mati, Ma!" ucap Aldo dengan nada sangat gelisah.


Ara yang mulai khawatir memikirkan menantunya itu, juga kebingungan mencari jalan keluar untuk mencari keberadaan Cika.


Sementara di sebuah taman, Cika terlihat sedang menangis meratapi nasibnya. Hatinya benar-benar terasa hancur berkeping-keping. Laki-laki yang selama ini dia harapkan untuk menjaga dan melindunginya, justru telah menyakitinya sesakit-sakitnya.


"Tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di kota ini. Laki-laki yang paling aku cintai sudah tega mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan selama ini. Bahkan wanita itu tengah mengandung, sesuatu yang tidak pernah bisa aku berikan selama ini kepadanya dan kedua orang tuanya." batin Cika sembari memikirkan langkah yang akan dia tempuh selanjutnya.


Cika berjalan mengikuti langkah kakinya yang tidak tau arah tujuan. Dengan raut wajah yang semakin terlihat letih, Cika mengikuti arah angin yang tidak jelas kemana akan membawanya.


Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar begitu jelas ditelinganya.


"Beep... Beep..."


"Brak..."


Seketika Cika kehilangan kesadaran setelah sebuah mobil menabrak trotoar tepat di sampingnya.


Seorang laki-laki tampan turun dari sebuah mobil setelah melihat kejadian yang mengerikan itu.


"Nona, Nona, bangun!"

__ADS_1


Laki-laki itu dengan cepat mengangkat tubuh Cika dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Bertahanlah, Nona! Aku akan membawamu ke rumah sakit." ucap laki-laki yang belum diketahui identitasnya itu.


__ADS_2