
Hans menatap wajah Sela dengan intens. Dia kemudian bangkit dari jongkoknya dan mengangkat tubuh Sela hingga berdiri dari tempat duduknya.
Hans meraih tangan gadis cantik itu dan menciumnya dengan penuh rasa haru. Air matanya mulai berguguran, saking bahagianya mendengar jawaban dari mulut wanita yang sangat dia cintai itu.
"Hans, kenapa kamu menangis? Apa aku salah bicara?" tanya Sela dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Tidak Sela, ini adalah air mata kebahagiaan. Terimakasih karena kamu sudah mau memberiku kesempatan untuk bersamamu!" ucap Hans sembari menyeka air matanya yang masih berjatuhan di pipinya.
Hans menyentuh pinggang Sela dan menarik tubuh gadis cantik itu ke dalam pelukannya. Dada Sela pun terlihat jelas, menempel dengan dada laki-laki gagah itu.
"Lepaskan aku Hans, jangan seperti ini!" pinta Sela dengan raut wajah terlihat begitu panik.
"Bukankah kamu sudah menerimaku sebagai calon suamimu? Kenapa kamu masih kaku seperti ini, Sela?" tanya Hans yang semakin mengencangkan pelukannya.
Sela yang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki itupun terlihat malu-malu sembari menundukkan kepalanya. Dia hanya bisa tersenyum dengan tipis tanpa berani menatap wajah Hans sama sekali.
Hans mengangkat dagu Sela dengan jarinya dan mulai mendekatkan bibirnya kearah bibir manis gadis itu. Disaat Hans ingin mencicipi bibir kecil mungil itu, tiba-tiba saja ponsel Sela berdering.
Raut wajah Hans pun terlihat sedikit kesal saat Sela dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah meja makan. Gadis itu kemudian mendorong tubuh Hans dan bergegas meraih ponselnya.
"Halo Cika, apa kabar?" ucap Sela dari balik telepon yang sudah tersambung.
"Halo Sela, aku baik-baik saja! Bagaimana denganmu?" tanya Cika yang saat itu tengah duduk di ruang keluarga bersama yang lainnya.
"Nyalain speakernya sayang!" bisik Aldo yang juga kangen, ingin mendengar suara sepupunya.
Cika menyalakan speaker ponselnya dan menaruh ponsel itu di atas meja. Aldo, Ara dan Mila pun ikut mendengarkan percakapan dua orang sahabat itu.
"Ramai sekali, apa semuanya sedang mendengarkan kita bicara?" tanya Sela mencari tau.
"Hehe, iya Sela. Kami semua sangat merindukan kamu!" sahut Cika dengan sedikit tawanya.
"Kami akan kembali besok lusa, apa kalian ingin menitip oleh-oleh?" ucap Sela dengan polosnya.
"Hahahaha... Kami tidak perlu oleh-oleh sayang. Bawa saja calon menantu tante pulang secepatnya!" teriak Ara yang sudah tidak tahan ingin menggoda Sela.
__ADS_1
"Tante, jangan bicara seperti itu. Ada orangnya disini, Sela kan jadi malu!" bisik Sela sembari menjauh dari Hans.
"Hahahaha... Gadis sepertimu apakah masih punya malu?" sambung Aldo yang sudah lama tidak menggoda sepupunya itu.
"Aldo, jangan mulai sayang!" ucap Cika kepada suaminya.
"Biarkan saja Cika, dia bisa kesurupan kalau tidak menggodaku sekali saja! Hahahaha..." sahut Sela yang tidak mau kalah menggoda sepupunya itu.
"Apanya yang kesurupan? Kamu aja kali, ditinggal pergi sama Hans malah mewek 7 hari 7 malam!" sahut Aldo yang membuat Sela tersipu malu.
"Sssttt... Jangan sembarangan bicara! Sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi!" ucap Sela yang mulai gugup lantaran ada Hans yang masih mendengar percakapan mereka.
"Iya Sela, kamu baik-baik ya. Semoga kalian bisa kembali bersama!" sahut Cika yang kemudian langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
Sela kemudian melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dia mulai membereskan meja yang masih berantakan usai sarapan tadi.
"Kamu lagi ngapain Sela?" tanya Hans sembari memeluk tubuh wanitanya dari belakang.
"Jangan Hans, lepaskan aku!" sahut Sela sembari melepaskan tangan Hans yang melingkar di perutnya.
"Bukan begitu Hans, aku hanya belum terbiasa seperti ini. Aku harap kamu bisa memahaminya!" sahut Sela memohon pengertian dari laki-lakinya itu.
"Tidak apa-apa Sela, aku bisa mengerti. Ayo ganti pakaianmu, aku ingin mengajakmu menikmati pemandangan kota ini sebelum kita kembali ke Jakarta!" ajak Hans.
"Benarkah? Kalau begitu aku siap-siap dulu!
Saking senangnya dengan ajakan Hans, Sela langsung berlari ke dalam kamarnya. Dia bergegas mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan riasan seadanya.
Begitupun dengan Hans yang kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian.
Hans mengenakan baju santai karena tidak suka keluar dengan pakaian kantor. Dia mengenakan baju kaos berwarna navy dan memakai celana jeans hitam yang membuat kegagahannya semakin terpancar dengan nyata.
Setelah selesai bersiap-siap, Sela keluar dan menunggu Hans di sofa ruang tamu. Tidak berselang lama, Hans pun keluar dan melangkah menghampiri Sela yang sudah menunggunya.
"Ayo jalan sekarang!" ucap Hans yang sudah berdiri di samping Sela.
__ADS_1
Sela meraih tangan Hans dan bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua kemudian melangkah meninggalkan apartemen sembari berpegangan tangan.
"Kita mau kemana Hans?" tanya Sela yang mulai penasaran dengan rencana laki-lakinya itu.
"Kemana saja, yang penting bisa berduaan dengan kamu." sahut Hans sembari tersenyum.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan apartemen. Hans mulai fokus menyetir mobilnya sembari sesekali menoleh kearah wanita cantiknya itu.
Hans mengarahkan mobilnya ke pusat kota. Dia berniat untuk mengajak Sela berbelanja terlebih dahulu dan membelikan oleh-oleh untuk keluarga mereka di Jakarta.
Hans memarkirkan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di kota Zurich. Mereka bahkan sampai menghabiskan waktu setengah hari untuk mencari barang-barang unik yang tidak di temukan di Jakarta.
Mereka juga berkeliling di Kota Tua dan menikmati pemandangan indah di sana. Sela terlihat begitu bahagia menghabiskan waktunya bersama Hans.
Meskipun merasa sedikit lelah berputar-putar, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjelajahi daerah itu.
Puas menjelajahi kota Zurich, mereka akhirnya kembali ke dalam mobil dan melaju menyusuri jalanan.
Sela mulai membuka ponselnya dan mencari tempat wisata yang ada di daerah itu melalui goggle.
"Hans, Interlaken itu dimana sih?" tanya Sela yang penasaran dengan tempat itu.
"Butuh waktu kurang lebih 2 jam agar sampai di sana. Kamu ingin ke sana?" sahut Hans sembari menoleh kearah Sela.
"Sepertinya tempat itu menyenangkan. Katanya ada gunung dan danau juga di sana." ucap Sela yang melihat datanya melalui bantuan mbak goggle.
"Tempat itu memang indah. Aku juga ingin mengajakmu ke sana, tapi hari ini sudah terlalu sore. Bagaimana kalau besok?" ajak Hans.
"Tidak usah Hans, kapan-kapan saja! Lagian besok kamu harus ke kantor kan?" ucap Sela sembari mematikan layar ponselnya.
"Urusan pekerjaan biar Papa saja yang urus. Kita masih punya waktu sehari besok." sahut Hans.
"Terserah kamu saja kalau begitu!" ucap Sela.
Hans kembali memarkirkan mobilnya di depan FIFA World Cup Museum. Mereka mulai melangkah memasuki Museum tersebut dan mengabadikannya di dalam ponsel mereka masing-masing.
__ADS_1