Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 15. Memasak Di Dapur


__ADS_3

Pagi telah datang menghilangkan segala kegundahan di dalam hati.


Aldo terbangun, pancaran sinar matahari yang menyelinap ke dalam kamarnya, tak bisa lagi menahan matanya untuk tetap terlelap. Sungguh pagi yang begitu indah.


Di saat Aldo membuka matanya pertama kali, yang terlihat adalah sosok wanita cantik yang masih terlelap di pelukan nya.


Ciuman selamat pagi pun mendarat di kening Cika dengan sangat lembut.


Cika terperanjat karena kaget mendapatkan sentuhan dari laki-laki tampan itu.


"Kamu sudah bangun?" ucap Cika sambil mengucek kedua matanya.


Aldo hanya tersenyum melihat muka bantal wanita yang dicintainya itu.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Cika heran sambil beranjak dari pelukan Aldo.


"Kamu terlihat sangat cantik dengan wajah seperti ini." sanjung Aldo yang seketika membuat Cika merasa malu.


"Dasar gombal!" jawab Cika sambil mencubit belahan dada bidang Aldo.


"Ahhkk, sakit sayang!" ucap Aldo sambil memegang dada nya.


Cika segera bangkit dari atas ranjang, dia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Aldo hanya tersenyum memandangi setiap langkah wanita yang dicintainya itu.


Tidak berselang lama, Cika keluar dari kamar mandi sambil menyeka wajahnya dengan handuk kecil. Aldo pun segera bangkit dan melangkah mendekati Cika.


"Kenapa gak mandi?" tanya Aldo sambil memeluk Cika dari belakang.


"Nanti saja, aku gak punya pakaian ganti." jawab Cika sambil melepaskan pelukan Aldo.


"Ya sudah, aku mandi dulu!" ucap Aldo sambil mengecup bibir Cika dan berlalu pergi. Seketika Cika merasa malu, dan melempar Aldo dengan handuk yang ada di tangannya. Aldo hanya berlari sambil tersenyum ke arah Cika.


"Dasar laki-laki aneh!" ucap Cika sambil tersenyum melihat tingkah laku Aldo.


Cika membersihkan dan merapikan kembali kasur yang semalam dia tiduri bersama Aldo. Cika memang sudah terbiasa untuk melakukan pekerjaan rumah sendiri. Jadi, sedikitpun dia tidak pernah merasa canggung untuk melakukannya.


Cika ingin sekali turun ke lantai bawah, tapi dia merasa malu dengan kedua orang tua Aldo dan juga Sela. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Aldo, agar bisa turun bersamaan.


Aldo keluar dari kamar mandi. Cika terkejut melihatnya, Aldo hanya menutupi sebagian tubuh nya dengan handuk. Cika merasa malu melihat pemandangan itu. Dia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Aldo sedikit bingung.


"Cepat pakai pakaian mu!" jawab Cika yang masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


Aldo hanya tersenyum melihat Cika yang masih saja tidak mau melihat ke arahnya, dia pun melangkah menghampiri Cika.


"Ini semua akan menjadi milikmu, jadi gak perlu malu untuk melihatnya." ucap Aldo berbisik di telinga Cika dan memberi sedikit kecupan di sana yang membuat Cika merasa semakin malu mendengar ucapan Aldo.


"Siapa juga yang mau sama kamu?" balas Cika dengan nada sedikit datar.


"Oh, jadi kamu gak mau? Apa kamu mau aku berikan kepada wanita lain?" ucap Aldo sambil menggoda Cika dan berjalan untuk mengambil pakaian di dalam lemari.


"Aldo!" teriak Cika sambil melemparkan sisir yang ada di depannya ke arah Aldo.


"Ahhkk, sakit sayang!" ucap Aldo sambil tersenyum dan memegangi punggung nya yang terkena lemparan Cika. Cika hanya tersenyum sambil menatap Aldo yang meringis kesakitan.


Aldo selesai mengenakan pakaiannya dan mengajak Cika untuk turun ke bawah bersamanya.


"Ayo, kita turun!" ucap Aldo sambil menggenggam tangan Cika.


"Tapi, aku malu Aldo." jawab Cika sedikit memanyunkan bibir nya.


"Gak perlu malu, ada aku!" tambah Aldo lagi sambil melangkah keluar menarik tangan Cika.


Cika pun akhirnya menurut dan mengikuti langkah kaki Aldo yang berada di sampingnya. Aldo tidak melepaskan tangan Cika sampai mereka berdua berada di dapur.


"Aldo, kamu sudah bangun sayang?" sapa Ara yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


Cika dengan segera menarik tangannya dari genggaman Aldo. Dia merasa malu karena mama Aldo sedang memperhatikannya.


"Kamu sudah baikan?" tanya Ara kepada Cika yang masih terlihat gugup.


"Sudah Tante," jawab Cika singkat sambil menundukkan kepalanya.


Ara hanya tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya.


Aldo mengajak Cika untuk duduk bersamanya, menunggu sarapan yang sedang di siapkan oleh mamanya. Namun, Cika menolak dan melangkah meninggalkan Aldo. Cika berjalan memasuki dapur.


"Aku bantu ya Tante," ucap Cika yang masih merasa gugup berhadapan dengan Ara mamanya Aldo.


"Gak usah Nak, kamu duduk saja bersama Aldo! Kamu kan masih sakit." ucap Ara dengan nada yang sangat lembut.


"Gak apa-apa Tante, aku sudah merasa baikan." balas Cika sambil mulai membantu pekerjaan Ara.


"Ya sudah kalau itu mau kamu." ucap Ara sambil tersenyum lagi ke arah Cika.


Cika dengan sigap membantu menyiapkan sarapan. Tante Ara pun merasa sedikit kagum melihat kelihaian gadis itu memasak makanan yang akan mereka hidangkan. Sementara Aldo hanya tersenyum melihat dari meja makan.

__ADS_1


"Kamu tinggal dimana?" tanya Ara sedikit mencari tau.


"Aku tinggal bersama Sela, Tante!" jawab Cika singkat.


Cika hanya fokus dengan pekerjaannya. Sementara Ara sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena semua sudah di kerjakan oleh Cika.


Ara kembali tersenyum melihat ke arah Cika. Dia merasa bingung dan juga senang melihat gadis lincah itu. Ara pun meninggalkan Cika dan melangkah menuju meja makan menghampiri Aldo.


"Kenapa Ma?" tanya Aldo singkat sambil melirik ke arah mamanya.


"Cantik dan juga rajin." jawab Ara yang masih menatap ke arah Cika.


"Siapa?" tanya Aldo dengan nada sedikit bingung.


"Tuh, gadis yang ada di hadapan kita." jawab Ara sambil memajukan bibirnya.


"Mama suka?" ucap Aldo yang mulai penasaran dengan raut wajah mama nya.


"Memangnya kenapa?" tanya Ara dan menoleh ke arah putranya.


"Aku mau dia jadi menantu Mama!" ucap Aldo dengan tatapan serius.


"Kamu yakin?" balas Ara.


"100% Ma!" jawab Aldo dan Ara pun kembali tersenyum melihat keseriusan putra bungsunya itu.


Cika sudah hampir menyelesaikan semua pekerjaannya. Sementara Sela juga sudah turun ke bawah menuju meja makan.


"Maaf ya Tan, aku kesiangan." ucap Sela yang melangkah terburu-buru.


"Gak apa-apa sayang!" ucap Ara sambil kembali memasuki dapur.


"Cika dimana Do? Apa dia sudah bangun?" tanya Sela tanpa melihat sekelilingnya.


"Tuh," jawab Aldo sambil memajukan bibirnya ke arah dapur.


Sela menoleh, dia pun tersenyum karena merasa senang melihat Cika sudah baik-baik saja. Diapun dengan segera melangkah menghampiri Cika.


"Cika, apa kamu sudah enakan?" tanya Sela dan mulai membantu pekerjaan Cika.


"Sudah Sel, aku baik-baik saja! Tidak perlu khawatir!" jawab Cika sambil menata makanan ke dalam piring.


"Sudah sayang, sahabatmu akan baik-baik saja jika bersama Aldo." tambah Ara yang membuat wajah Cika memerah seketika karena merasa malu.

__ADS_1


Cika sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat sempurna. Dia pun dengan segera menyajikannya di atas meja makan, di bantu oleh Sela.


__ADS_2