Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 42. Hasrat Yang Tertunda


__ADS_3

Selesai mandi, Cika segera mengganti pakaiannya. Dia pun bergegas turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.


Sesampainya di dapur, Cika hanya melihat bi Wati yang tengah asyik memotong sayuran.


"Selamat pagi, Bi!" sapa Cika dengan senyuman yang sangat manis.


"Selamat pagi, Non! Non Cika sudah bangun?" sahut bi Wati sambil menatap wanita cantik itu.


"Sudah, Bi! Mama mana? Kok gak kelihatan?" tanya Cika sambil melihat sekelilingnya.


"Nyonya belum keluar dari kamar, Non! Mungkin masih lelah." sahut bi Wati sembari melanjutkan pekerjaannya.


Cika hanya tersenyum dan segera masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kemampuan istri Aldo itu memang sudah tidak diragukan lagi kalau urusan dapur.


Sementara itu didalam kamar Ilham, Mila merasa sedang tidak enak badan. Beberapa kali Mila bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mual yang begitu mengganggunya.


"Uweeek,,"


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ilham yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Gak tau, sepertinya masuk angin." jawab Mila yang sudah mulai terlihat lesu.


"Apa kemaren kamu telat makan?" tanya Ilham yang mulai khawatir dengan keadaan istrinya.


"Tidak!" jawab Mila dengan sangat yakin.


"Ya sudah, aku mandi dulu! Nanti setelah sarapan kita ke dokter ya!" ucap Ilham sambil bergegas masuk ke kamar mandi.


Diluar, Sela sedang melangkah menuju ruang makan. Dia sedikit kaget melihat Cika tengah asyik menyiapkan sarapan di dapur.


"Cika! Kamu sudah bangun?" tanya Sela dengan tatapan tajam kearah sahabatnya.


"Sudah, Sela! Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Cika yang heran dengan tatapan Sela.


"Setau aku yang namanya pengantin baru, pasti lebih betah di dalam kamar. Kamu kok sudah ke dapur?Apa gak sakit?" bisik Sela tepat di telinga sahabatnya.


"Apaan sih, Sela? Sok tau deh kamu." sahut Cika sambil menempelkan tepung yang ada di tangannya ke wajah Sela.


"Iiih, jangan Cika!" teriak Sela sambil berlari menjauh dan membentur tubuh Ara yang sedang melangkah menuju dapur.


"Sela! Kenapa berlari di dalam rumah? Kalau mau olahraga tuh diluar." ucap Ara yang heran melihat ponakan nya itu.


"A,, aku gak lagi olahraga, Tan!" sahut Sela sambil menundukkan kepalanya.


"Terus kamu lagi ngapain?" tanya Ara yang semakin heran melihat raut wajah Sela.


"A,, aku,,,"

__ADS_1


"Ma, udah siap sarapannya?" tanya Ilham yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


" Belum, sayang! Ini mama baru mau ke dapur," ucap Ara sambil melangkah ke dalam dapur.


Seketika Ara terkejut melihat menantu barunya tengah memasak di dapur tanpa bantuan dari yang lain kecuali bi Wati.


"Cika, sayang! Kamu kok malah di dapur? Kamu itu pengantin baru sayang, gak boleh ke dapur dulu!" ucap Ara yang mulai bingung melihat menantunya itu.


"Gak apa-apa, Ma! Cika senang kok melakukan ini semua." jawab Cika sambil tersenyum lebar kearah mama mertuanya.


Cika sudah selesai memasak beberapa masakan, semuanya juga sudah terhidang di atas meja. Mereka semua tinggal menikmatinya saja.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan, hanya Aldo yang belum turun karena masih tidur di kamarnya.


"Ma, Pa, Kak, Sela, kalian makan duluan saja ya! Cika mau ke kamar dulu bangunin Aldo." ucap Cika sambil melangkah meninggalkan mereka semua.


Cika masuk ke kamar dan segera membangunkan suami tercintanya.


"Aldo, bangun!" ucap Cika sambil mengecup pipi suaminya.


Aldo bukannya bangun, tapi malah menarik tangan istrinya ke dalam pelukannya. Tanpa bersuara Aldo ******* bibir merah jambu istrinya dengan begitu semangat.


"Hmmmm, hmmmm,,,"


Cika sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena bibirnya sudah tertutup oleh bibir suaminya. Dengan sekuat tenaga, Cika mencoba mendorong suaminya sampai terpental di atas kasur.


Aldo bangkit dari tempat tidur dan segera mendekati istri cantiknya itu.


"Maafkan aku, sayang! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kamu bisa lihat itu kan?" Aldo meminta maaf kepada istrinya sambil menunjuk kearah pesawatnya yang lagi on.


Cika pun seketika melotot menyaksikan pesawat suaminya yang sudah siap untuk bertempur itu.


"Kenapa sampai sebesar itu?" ucap Cika dengan sangat polosnya.


"Jangan pikirkan itu, sayang! Ayo, bantu suamimu ini menidurkannya kembali!" pinta Aldo yang sudah tidak sanggup untuk menahannya lagi.


"Tapi Aldo, semua orang sedang menunggu kita di bawah untuk sarapan. Nanti saja ya, kamu mandi dulu!" ucap Cika yang merasa tidak enak berlama-lama di dalam kamar.


"Janji ya!" ucap Aldo yang sebenarnya merasa sedikit kecewa.


"Iya, aku janji!" sahut Cika sambil tersenyum manis kepada suaminya.


Aldo melangkah ke kamar mandi. Lagi-lagi dia harus menahan dan mengendalikan dirinya.


Cika dengan sigap menyiapkan pakaian untuk Aldo dan membersihkan kembali kasur yang sudah berantakan ulah suaminya itu.


Sementara di ruang makan, belum ada satupun yang menyentuh makanan yang sudah dimasak oleh Cika. Mereka tidak mau memulai sarapan sebelum anggota keluarga mereka berkumpul semuanya.

__ADS_1


"Siapa yang masak, Ma? Menunya beda lagi." tanya Alvin pada istrinya.


"Semua ini masakan Cika, Om!" jawab Sela.


"Apa dia kuat masak sebanyak ini? Dia kan,,,,,," Belum sempat Alvin menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Ara memberikan kode kepada suaminya agar segera diam.


Alvin pun terdiam melihat kearah putra bungsu dan menantunya yang sedang berjalan kearah mereka semua.


"Selamat pagi, Ma, Pa! Kenapa kalian belum sarapan?" tanya Aldo yang melihat makanan masih utuh di atas meja makan.


"Kami menunggu kalian berdua, sayang!" jawab Ara.


Setelah semua berkumpul, mereka pun segera menyantap makanan yang sudah ada di hadapan mereka semua.


"Kak Mila kenapa? Kakak gak suka ya sama masakan Cika?" Cika bertanya kepada Mila yang seperti tidak bernafsu melihat makanan yang sudah dimasaknya.


"Bukan begitu, uweeeek,,," Mila tiba-tiba merasa mual dan segera berlari ke kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa?" ucap Ilham sambil menyusul istrinya.


"Uweeek,,, uweeek,,"


Ilham mengusap usap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kita ke rumah sakit saja ya!" ajak Ilham yang mulai khawatir melihat kondisi istrinya.


Ilham keluar dari kamar mandi sambil memapah istrinya yang sudah sangat lesu dan wajah yang terlihat pucat.


"Istrimu kenapa Ilham?" tanya Alvin sedikit mencemaskan menantunya.


"Tidak tau, Pa! Sejak bangun tidur, Mila sudah seperti ini." sahut Ilham sambil kembali duduk di meja makan.


"Apa mama akan punya cucu?" tanya Ara yang sangat mengerti dengan gejala yang dialami menantunya.


"Apa? Maksud mama Mila sedang mengandung?" tanya Ilham yang kaget dengan perkataan mamanya.


"Bisa jadi, sayang!" balas Ara sambil tersenyum kearah Ilham.


"Berarti sebentar lagi Sela akan jadi tante dong," tambah Sela yang juga berharap kalau kakak iparnya itu sedang mengandung.


"Hahahaha,,," Mereka semua tertawa mendengar ucapan Sela yang begitu polosnya.


"Ayo, habiskan dulu sarapan kalian! Nanti kita akan ke dokter biar semua semakin jelas." ucap Ara sambil menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Selesai sarapan, mereka semua bersiap-siap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Ara, Ilham, dan Mila akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Mila.

__ADS_1


Sementara Alvin dan Cika harus berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Apalagi untuk beberapa hari ini Aldo akan beristirahat karena ingin menghabiskan waktunya berdua dengan istrinya.


__ADS_2