
Pagi datang diiringi mentari yang bersinar cerah, secerah hati sepasang calon pengantin yang sudah tidak sabar mengikat janji dalam suatu ikatan yang sangat sakral.
Aldo tengah bersiap-siap didalam kamarnya di dampingi kedua orang tuanya.
"Putra mama tampan sekali," sanjung Ara yang melihat aura kebahagiaan pada raut wajah putra bungsunya itu.
"Ah, mama bisa saja." sahut Aldo yang merasa malu dengan sanjungan mamanya.
"Tentu saja putraku sangat tampan, siapa dulu papanya? Hahahaha,,," tambah Alvin yang merasa ketampanan Aldo itu menurun darinya.
"Hahahaha,,," Ara hanya tertawa mendengar pengakuan dari suaminya itu.
Sementara di apartemen, Mila sudah datang membawa dua orang mua dan baju pengantin yang akan dipakai oleh Cika.
"Mbak, aku mau make up nya yang natural saja ya! Aku tidak suka dandanan yang berlebihan." pinta Cika kepada dua orang mua yang akan merias wajahnya.
"Iya, baiklah!" sahut salah satu mua yang sudah mulai memakaikan foundation di wajah Cika.
Kedua mua itupun mulai fokus dengan pekerjaan mereka.
Setelah kurang lebih 1 jam, mua yang bertugas mendandani Cika pun keluar dari kamar menemui Sela dan Mila yang menunggu di ruang tamu.
Sela dan Mila sudah selesai berdandan lebih dulu dan menggunakan baju seragam yang sudah disediakan Ara untuk semua anggota keluarga mereka.
"Sudah selesai, Mbak?" tanya Mila yang melihat kedatangan mua tadi berjalan kearah mereka.
"Sudah, Mbak Mila! Kami pamit dulu!" ucap salah seorang mua.
"Baiklah, terimakasih!" ucap Mila sambil mengantarkan mereka berdua ke pintu apartemen.
Mila dan Sela masuk ke dalam kamar untuk melihat Cika yang sudah selesai didandani. Mereka berdua saling menatap karena kagum melihat Cika yang sudah seperti bidadari yang turun dari kayangan.
"Ya Tuhan, ini beneran kamu Cika?" ucap Sela yang pangling melihat kecantikan sahabatnya itu.
"Aldo benar-benar beruntung mendapatkan calon istri yang sangat cantik seperti kamu." tambah Mila yang juga kagum dengan kecantikan calon adik iparnya.
"Terimakasih, Sela! Terimakasih, Kak Mila!" sahut Cika dengan wajah tertunduk malu.
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" ucap Mila yang sudah tidak sabar membawa calon adik iparnya ke sisi Aldo.
"Iya, boleh!" sahut Sela.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan apartemen dan menaiki mobil yang sudah dihiasi bunga-bunga.
Mila duduk didepan, di samping sopir yang mengendarai mobil mereka. Sementara Sela dan Cika duduk di bangku belakang.
"Kita jalan sekarang ya, Non?" ucap pak sopir dan mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Mila berdering. Ada panggilan masuk dari mertuanya.
"Halo, Ma!" ucap Mila dari balik telepon.
"Halo, sayang! Kalian sudah dimana? Para tamu sudah datang, begitupun penghulu sudah menunggu kalian disini." ucap Ara yang sedikit gelisah menunggu kedatangan mereka.
"Iya, Ma! Sebentar lagi kami sampai. Ini sudah dijalan." sahut Mila.
"Baiklah, kalian hati-hati ya!" balas Ara dan segera mematikan sambungan telepon.
Cika mulai gelisah, raut wajahnya pun berubah seketika menahan ketegangan di hatinya.
"Kamu kenapa, Cika?" tanya Sela yang melihat keanehan dari wajah Cika.
"Aku takut, Sela!" ucap Cika sambil meremas jari jarinya.
"Gak usah takut! Ini hal yang lumrah untuk calon mempelai yang akan melakukan ijab." ucap Mila yang tidak sengaja mendengar percakapan Sela dan Cika.
"Tapi tubuhku terasa bergetar, Kak!" balas Cika yang semakin tegang sebelum sampai di rumah calon suaminya.
"Ketegangan ini tidak akan lama, nanti juga hilang sendiri setelah selesai ijab." ucap Mila yang mencoba menenangkan Cika.
Cika berusaha menenangkan dirinya. Dia mencoba mengatur nafasnya kembali. Perlahan dia menarik nafas dan membuang nya dengan pelan untuk mengurangi rasa tegangnya.
Mobil mewah itu telah memasuki gerbang rumah Aldo. Ara dan Alvin menyambut kedatangan keponakan, menantu, dan calon menantu baru mereka dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Terimakasih, Ma!" ucap Cika sambil memeluk calon mertuanya itu.
Mereka semua masuk kedalam ruangan tempat ijab qabul yang akan dilaksanakan. Semua tamu undangan juga sudah berkumpul di ruangan itu untuk menjadi saksi bersatunya cinta Aldo dan Cika.
Aldo melotot tanpa bisa berkedip melihat kedatangan wanita yang sangat dia cintai. Cika benar-benar membuat Aldo terpukau dengan kecantikan yang tiada duanya.
Mila dan Sela berjalan mengantarkan Cika untuk duduk di samping Aldo. Sejenak Cika dan Aldo hanya bisa saling menatap satu sama lain. Ketegangan di antara mereka pun kembali terasa setelah penghulu memulai membuka acara.
Cika yang merupakan anak yatim, dibantu oleh wali hakim yang akan menikahkan mereka berdua.
Tidak lama, kata sah pun bergema di dalam ruangan setelah wali hakim dan Aldo saling mengucapkan ijab qabul dengan lantang.
"Sah,,,"
Dua orang saksi yang sudah di tunjuk mengucap kata sah dengan lantang, diikuti tamu undangan yang berada di ruangan itu.
Cika tertunduk menahan rasa haru yang bersemayam didalam hatinya.
Tidak ada satu kata pun yang bisa terucap, hanya air mata yang tumpah membasahi riasan di wajahnya.
Setelah ijab selesai, merekapun menyelesaikan surat-surat yang harus mereka tanda tangani sebelum penghulu pergi meninggalkan acara itu.
__ADS_1
Cika mencium tangan Aldo yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Aldo pun segera mengecup kening wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.
Mereka berdua mulai beranjak dari tempat ijab mereka dan segera melakukan sungkeman kepada seluruh anggota keluarga.
"Berbahagialah, sayang!" ucap Ara sambil mencium kening anak dan menantunya bergantian.
"Selamat datang, menantu cantik papa!" ucap Alvin kepada menantu barunya.
"Kalian memang pasangan yang serasi." ucap Ilham dan Mila bersamaan.
Setelah acara sungkeman selesai, mereka berdua beranjak ke kursi pelaminan yang sudah tersedia.
Sela yang sudah tidak tahan menahan rasa haru nya, segera berlari dan memeluk mereka berdua.
"Selamat untuk kalian berdua! Aku benar-benar bahagia untuk kalian." seru Sela yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Malu ih, Sela!" ketus Aldo yang sedikit risih melihat kelakuan Sela.
"Apaan sih, Aldo?" ucap Sela yang segera mengabadikan momen mereka bertiga di ponselnya.
Semua anggota keluarga naik ke pelaminan untuk melakukan foto bersama. Termasuk ayah dan ibu Sela yang baru saja sampai di acara itu.
Sesi pemotretan keluarga besar telah selesai. Semua turun untuk memberikan kesempatan kepada tamu undangan memberikan selamat kepada raja dan ratu sehari itu.
Sela menyapa kedua orang tuanya yang datang bersama pasangan mereka masing-masing. Meskipun hatinya terasa sedih, tapi dia mencoba tegar agar tidak merusak hari bahagia Aldo dan Cika.
"Ayah, Tante!" sapa Cika sambil memeluk ayahnya.
"Iya, sayang! Ayah sangat merindukanmu." ucap Ardi ayahnya Sela.
"Aku juga." balas Sela.
Setelah menyapa ayah dan ibu tirinya. Sela beranjak kearah ibu dan ayah tirinya.
"Ibu, Om!" sapa Sela dan langsung memeluk ibunya.
"Iya, sayang! Kamu semakin cantik saja." ucap Reni ibunya Sela.
"Terimakasih, Bu!" sahut Sela.
Semua keluarga dan tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan di tengah acara yang meriah itu. Ada yang masih mengantri untuk memberi selamat, ada juga yang tengah menikmati hidangan yang sudah tersedia di pesta itu.
Semua berjalan sangat baik dan sempurna dari awal sampai pesta berakhir.
__ADS_1