
Sejenak suasana kamar menjadi begitu hening dan mencekam. Cika sudah tidak mampu untuk berkata-kata lagi setelah mendengar ungkapan isi hati Aldo. Dia sangat bingung dengan posisinya saat ini.
"Aldo, bangun!"
"Hei Aldo, ayo bangun. Tolong jangan seperti ini!" ucap Cika menepuk-nepuk pipi Aldo dengan pelan.
"Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan pergi meninggalkanku sendiri!" pinta Aldo menahan air mata yang hampir saja menetes di pipinya.
"Aku tidak bisa berjanji Aldo, ayo bangunlah!" ucap Cika dengan raut wajah kebingungan melihat tingkah Aldo yang sudah seperti anak kecil itu.
"Aku mencintaimu Cika, kenapa kau tak bisa mengerti perasaanku?" sahut Aldo sambil memegang tangan Cika dan meletakkannya di dada bidangnya.
"Aku tidak pantas untukmu Aldo, tolong biarkan aku pergi dari sini!" pinta Cika sambil menarik tangannya dari dada Aldo dan melangkah memasuki kamar mandi.
Aldo hanya tertunduk dengan posisi bersimpuh di atas lantai. Dia merasa begitu terpuruk atas penolakan Cika terhadap dirinya. Seketika air matanya pun jatuh tak terbendung lagi.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Cika tengah menumpahkan semua air matanya yang sudah dari tadi dia tahan. Batinnya pun tersiksa melihat kesedihan di mata Aldo. Tapi dia tidak punya pilihan lain, dia menyadari kalau diantara mereka begitu banyak perbedaan. Batu karang tidak akan mampu bersanding dengan emas permata. Cika tidak ingin berharap banyak dengan hubungan mereka.
"Maafkan aku Aldo. Aku juga mencintaimu, tapi kita tidak mungkin bisa bersatu. Banyak jurang diantara kita berdua, aku tidak pantas untuk memiliki laki-laki sesempurna dirimu, aku menyadari siapa diriku." batin Cika menahan isak tangis di hatinya.
Di dalam kamar Aldo berusaha untuk terlihat tegar. Dia mencoba bangkit dari lantai dan berjalan menuju lemari. Dia segera mengambil pakaian dan menggantinya sebelum Cika keluar dari kamar mandi.
Cika keluar dengan mata yang sedikit sembab setelah menumpahkan air matanya. Dia berjalan tanpa menoleh ke arah Aldo sedikitpun dan kembali duduk di atas ranjang dengan wajah tertunduk lesu.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang ke apartemen Sela!" ajak Aldo dengan suara yang terdengar sedikit berat. Aldo kembali bersikap tenang di depan Cika, dia tidak ingin Cika merasa kasihan terhadap dirinya.
Cika menatap ke arah Aldo, dia mulai mengikuti laki-laki yang sedang membuka pintu kamar tanpa bersuara itu. Aldo terus saja berjalan dan diikuti oleh Cika dibelakangnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua.
Aldo membukakan pintu mobilnya untuk Cika. Cika segera masuk dan duduk di sebelah Aldo. Dengan cepat mobil yang dikemudikan Aldo itupun melaju menuju apartemen Sela.
Sesampainya di depan apartemen Sela, Cika bergegas turun dari mobil Aldo. Belum sempat Cika mengucapkan terima kasih, Aldo sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi meninggalkan Cika yang terdiam menatap ke arah mobilnya.
"Tok...Tok...Tok..."
Sela bergegas membukakan pintu apartemennya sesaat setelah mendengar suara ketukan.
__ADS_1
"Cika, kamu sudah pulang?" sambut Sela dengan senyum di wajahnya.
"Maaf ya Sela, aku sudah membuatmu khawatir!" ucap Cika yang kemudian memeluk tubuh Sela dan kembali meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa, kok malah nangis, mana Aldo, apa dia menyakitimu?" tanya Sela dengan tampang sedikit bingung melihat keadaan Cika.
"Aldo orang yang baik Sela, dia tidak menyakitiku sedikitpun. Malah dia telah menyelamatkan masa depanku!" jawab Cika sambil melepaskan pelukannya dari Sela.
"Lalu apa yang terjadi, kenapa kamu jadi seperti ini? Cerita saja semuanya sama aku, aku pasti akan membantumu!" balas Sela sambil menarik tangan Cika dan membantunya duduk di sofa ruang tamu.
Cika kembali menangis dengan sedu-sedan, dia menjelaskan semua yang telah terjadi terhadap dirinya kepada Sela. Dia juga menjelaskan kelakuan Wahyu terhadap dirinya. Begitupun dengan perlakuan Aldo yang sangat baik kepadanya.
"Apa, Wahyu melakukan itu semua kepadamu?" tanya Sela melotot kan mata saking kagetnya mendengar penjelasan Cika.
Sela tak pernah menyangka kalau teman semasa SMA nya itu berani melakukan hal keji seperti itu terhadap sahabatnya sendiri.
"Untung saja Aldo datang disaat yang tepat. Kalau tidak, aku mungkin sudah kehilangan kesucian ku gara-gara bajingan itu!" isak Cika kembali meneteskan air matanya.
Sela tidak menyangka kejadian buruk telah menimpa Cika, dia kembali memeluk sahabatnya itu dan berusaha untuk menenangkannya.
"Bukan salah kamu Sela, tidak usah meminta maaf. Ini sudah takdir hidupku!" sahut Cika dengan wajah terlihat lesu.
"Lalu Aldo dimana, kenapa dia tidak mengantarkan mu sampai kesini?" tanya Sela lagi mencari tau apa yang terjadi antara Cika dan sepupunya itu.
"Dia sudah pergi." balas Cika singkat.
Cika merasa sedikit lelah, dia kemudian melangkahkan kaki menuju kamar untuk beristirahat. Sementara itu, Sela terus mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kamar, Cika segera berbaring di atas ranjang. Sela pun segera mendekatinya.
"Apa kamu sakit, kita ke Dokter ya?" ajak Sela yang sedikit bingung melihat raut wajah Cika.
"Aku gak apa-apa kok Sela, aku hanya butuh istirahat sebentar!" jawab Cika sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Kalau ada apa-apa panggil aku ya!" ucap Sela yang sangat perhatian terhadap Cika.
__ADS_1
Sela melangkah meninggalkan kamar, dia memilih untuk duduk di ruang tamu. Namun perasaannya semakin gelisah memikirkan Cika. Dia mencoba untuk menghubungi Aldo, tapi Aldo sama sekali tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Sela semakin merasa curiga, dia tidak bisa lagi untuk menahan diri. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah Aldo detik itu juga.
Dengan cepat Sela mengambil kunci mobil dan berlalu meninggalkan apartemen.
Sesampainya di rumah Aldo, Sela bergegas untuk masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sela memang sudah terbiasa keluar masuk sesuka hatinya ke dalam rumah Aldo karena rumah itu memang rumah om nya, adik dari ayah Sela sendiri.
"Sore Tan," sapa Sela sambil mencium tangan tantenya dengan sopan.
"Hai sayang," jawab Ara mamanya Aldo yang terkejut dengan kedatangan Sela.
"Kamu kemana aja sayang, kok sudah lama gak main ke sini?" tanya Ara dengan lemah lembut.
"Biasa Tan, banyak kesibukan." jawab Sela sambil tersenyum ke arah tantenya itu.
Sela merasa sedikit bingung melihat tantenya yang sedang memasak banyak makanan di dapur. Tanpa ragu-ragu sela dengan cepat melontarkan pertanyaan kepada tantenya itu.
"Mau kedatangan tamu penting ya Tan, banyak sekali masaknya?" tanya Sela.
"Iya sayang, nanti malam kamu ke sini ya. Kita akan membahas rencana perjodohan Aldo sama Melia. Mereka semua nanti malam akan berkunjung ke sini!" jelas Ara yang membuat Sela terkejut bukan main.
"Kok bisa Tan, bukannya Aldo sudah menolak perjodohan itu. Kenapa mereka tetap mau datang ke sini?" tanya Sela lagi sedikit mencari tau.
"Aldo sudah setuju sayang. Kalau dia gak mau, Tante dan Om juga gak akan memaksanya." ucap Ara sambil menghias meja makan dengan bunga-bunga yang sangat indah.
Mendengar penjelasan dari Ara, Sela menjadi semakin curiga dengan Aldo. Di benaknya berpikir kalau Aldo tidak akan mungkin mau menikah dengan orang yang tidak dia cintai.
Apalagi Aldo juga sudah tau kalau Melia itu bukanlah wanita baik-baik. Tapi kenapa Aldo malah memutuskan menerima perjodohan ini. Sela pun cepat-cepat ingin bertemu dengan Aldo.
"Sela ke atas dulu ya Tan, ada perlu sama Aldo sebentar!" ucap Sela sambil berlalu menaiki anak tangga menuju kamar Aldo.
Entah apa yang ada di benak Sela saat itu. Dia sama sekali tidak memahami jalan pikiran Aldo yang tiba-tiba bertentangan dengan hatinya. Raut wajah kekecewaan pun terpancar jelas dari wajah cantik itu.
__ADS_1