
Selesai menikmati makan malam, mereka semua melangkahkan kaki meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang keluarga.
Ara dan Alvin duduk berdampingan di atas sofa. Begitupun Ilham dan Mila yang juga duduk berdampingan tepat di hadapan kedua orang tua mereka. Sementara Aldo, Cika dan Sela duduk di atas lantai yang beralaskan karpet permadani.
Suasana malam ini benar-benar terasa begitu hangat. Semua keluarga sudah berada dibawah satu atap yang sama. Hal itulah yang membuat Ara tersenyum sembari meneteskan air mata kebahagiannya.
"Ma, kenapa Mama menangis?" tanya Alvin sembari memeluk tubuh istrinya dari arah samping.
Mendengar ucapan Alvin, semua orangpun langsung menoleh kearah Ara dengan tatapan sedikit kebingungan.
"Tidak apa-apa Pa, ini adalah air mata kebahagiaan! Mama senang melihat anak-anak dan menantu Mama berkumpul lagi seperti ini. Kalian semua adalah sumber kebahagiaan untuk Mama. Mama tidak ingin ada pertengkaran dan perpisahan lagi diantara kalian semua!" jelas Ara kepada semua anggota keluarganya.
Aldo yang mendengar ucapan Mamanya itu hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Maafkan Aldo ya Ma, Aldo janji tidak akan menyakiti Cika lagi!" ucap Aldo dengan penuh penyesalan.
"Cika juga minta maaf ya Ma, Cika sudah membuat Mama sedih!" tambah Cika dengan mata yang mulai mengkilat menahan air matanya.
"Tidak sayang, kalian tidak perlu minta maaf! Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, sebentar lagi kalian juga akan menjadi orang tua seperti kami. Mama hanya ingin melihat kalian hidup rukun dan bahagia. Yang namanya rumah tangga itu pasti ada saja gonjang-ganjing nya, tergantung kalian bagaimana cara menyikapinya. Kalau kalian masih menuruti ego masing-masing, semua masalah tidak akan selesai dengan sendirinya. Makanya, diperlukan komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa menghancurkan hubungan kalian!" jelas Ara panjang kali lebar kepada putra bungsu dan menantunya itu.
"Iya Ma, Aldo mengerti!" ucap Aldo sembari memeluk istrinya.
"Maafkan suamimu ini ya, sayang!" ucap Aldo yang mulai menyadari kesalahannya. Cika hanya bisa tersenyum sembari mengusap rambut suaminya.
"Nah begitu dong, Papa kan juga senang melihat kalian seperti ini." sambung Alvin sembari mengedipkan matanya kearah Ara.
Melihat kelakuan genit suaminya, Ara pun merasa malu karena di tonton oleh anak dan menantunya.
"Papa apa-apaan sih, ingat umur! Udah jadi Kakek, genitnya masih gak hilang-hilang." ketus Ara sembari mencubit perut suaminya. Alvin pun akhirnya tertawa melihat ekspresi istrinya itu.
__ADS_1
"Cie,,, cie,,, yang jomblo tolong tutup mata dulu ya!" ucap Aldo yang ingin menggoda Sela yang belum memiliki pasangan.
Sela yang merasa tersindir dengan ucapan Aldo, hanya bisa menundukkan kepalanya sembari memainkan ponselnya.
"Aldo, kamu apa-apaan sih. Jangan mulai lagi!" ketus Cika dengan tatapan menakutkan kearah suaminya.
"Tidak apa-apa Cika, gak usah marah! Yang dibilang Aldo itu kan memang benar adanya." tambah Sela yang membuat Cika merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
Dengan spontan, Cika memeluk Sela dan mengacuhkan suaminya yang tidak bisa menghargai perasaan sahabatnya itu.
Melihat pemandangan yang mulai mendingin itu, Alvin pun segera menengahinya.
"Sela, apa kamu benar-benar belum mempunyai pacar?" tanya Alvin yang mulai terlihat serius dengan ucapannya.
"Tidak ada Om, Sela mana punya waktu untuk memikirkan hal itu." sahut Sela dengan tampang datarnya.
"Jangan Om, Sela tidak mau menikah karena dijodohkan! Sela ingin mempunyai suami yang mencintai Sela apa adanya." ucap Sela menolak permintaan Alvin dengan halus.
"Tidak sayang, ini bukanlah perjodohan! Om hanya ingin mengenalkan kalian berdua. Selebihnya terserah kalian saja! Kalau cocok lanjut, kalau gak ya gak usah dipaksakan." ucap Alvin memberi penjelasan.
"Terserah Om saja kalau begitu!" sahut Sela yang sudah pasrah dengan nasibnya ke depan.
Sela hanya bisa pasrah menerima permintaan Om nya itu. Gadis cantik itu memilih untuk mencoba, dia juga takut menjadi perawan tua karena belum memiliki pasangan hingga saat ini.
"Pa, siapa laki-laki yang Papa maksud?" tanya Ilham yang ingin tau siapa laki-laki yang ingin dikenalkan Papanya kepada Sela.
"Hanafi, anaknya Om Lukman! Kamu masih ingat kan? Dulu kamu dan dia sering bertengkar memperebutkan mobil-mobilan yang sudah tidak ada rodanya." ucap Alvin mengingatkan Ilham kepada teman masa kecilnya.
Sesaat Ilham termenung sembari mengingat kembali masa kecilnya. Pelan-pelan ingatan itupun mulai muncul di benak suami Mila itu.
__ADS_1
"Pa, apa laki-laki yang Papa maksud itu adalah Hans?" tanya Ilham mencari tau.
"Iya Ilham, benar sekali." sahut Alvin yang membenarkan ucapan putra sulungnya itu.
"Ya Tuhan, sudah lama sekali Ilham tidak bertemu dengannya. Bagaimana bentuknya sekarang Pa? Seingat Ilham, dulu Hans itu gendut dan hitam. Apa sekarang masih sama?" tanya Ilham yang membuat Sela langsung menganga saking kagetnya.
"Apa Kak, laki-laki itu gendut dan hitam? Sela gak mau ah, Om!" ketus Sela yang mulai ketakutan memikirkan sosok Hans yang baru saja dikatakan oleh kakak sepupunya itu.
"Tidak sayang, itu kan dulu. Sekarang Hans sudah berubah, dia sangat tampan, dan bertubuh tinggi besar. Kamu pasti langsung suka jika bertemu dengannya." tambah Alvin meyakinkan keponakannya.
Mendengar ucapan papa mertuanya, Cika pun sejenak teringat dengan sosok laki-laki yang sudah membantunya dari kecelakaan tempo hari.
"Tunggu dulu Pa, sepertinya Cika mengenali laki-laki yang Papa maksud!" tambah Cika kepada papa mertuanya.
Mendengar ucapan Cika, Aldo pun langsung menatap istrinya dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Cika, kamu mengenali laki-laki itu darimana? Dimana kalian bertemu? Seberapa dekat kamu dengannya?" ucap Aldo yang mulai cemburu buta tak menentu.
"Tenang dulu Aldo, dengar dulu penjelasan ku!" sahut Cika yang mengerti dengan ketakutan suaminya.
"Waktu kita bertengkar tempo hari, aku mengalami kecelakaan. Aku baru sadar setelah sampai di rumah sakit. Dan laki-laki yang menolong aku itu namanya juga Hans. Aku tidak tau apakah itu Hans yang Papa maksud atau bukan. Tapi laki-laki yang menolong aku itu memang tampan. Tidak gendut dan juga tidak hitam. Badannya juga tinggi besar." jelas Cika kepada suaminya.
"Apa? Kamu berani mengatakan laki-laki lain tampan di depan suamimu sendiri." ketus Aldo yang merasa kesal terhadap istrinya itu.
"Bukan begitu Aldo, dia memang tampan. Tapi dimata istrimu ini tentu saja kamu yang paling tampan." ucap Cika menenangkan hati suaminya.
Mendengar ucapan istrinya, Aldo pun langsung tersenyum sembari memeluk Cika dengan hangat.
Semua orang pun hanya bisa tertawa melihat kekonyolan Aldo yang begitu ketakutan mendengar istrinya dekat dengan laki-laki lain.
__ADS_1