Hati Berdarah

Hati Berdarah
Keberanian Sela


__ADS_3

Sela mulai memejamkan matanya karena sudah tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya yang sudah semakin menyiksa.


Belum sempat Hans pergi meninggalkan kamarnya, Sela sudah lebih dulu terkapar dan masuk ke alam bawah sadarnya.


Melihat Sela yang sudah terlelap, Hans kembali mendekatinya dan duduk di samping gadis itu sembari mengusap kepala Sela dengan pelan.


Senyuman di wajah Hans pun terlihat mengambang memandangi wajah cantik yang sangat dia cintai itu. Hans mengecup kening Sela dan menyentuh bibir tipis gadis itu dengan jarinya.


Mata Hans mulai terasa berat. Dia bahkan sampai menguap berulang-ulang kali saking tak sanggupnya menahan rasa kantuk di matanya.


Karena tidak kuat lagi melangkahkan kakinya, Hans pun akhirnya membaringkan tubuhnya tepat di samping Sela. Dia kemudian memeluk tubuh gadis itu dari belakang hingga benar-benar terlelap.


*****


Pukul 19.00 malam, Alvin dan Lukman pulang setelah menghabiskan waktu mereka di luar sana. Mereka bahkan tidak menyadari kalau Sela dan Hans sudah berada di apartemen sebelum mereka tiba. Mereka memilih untuk masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri.


Selesai mandi dan mengganti pakaian, Alvin kembali ke luar dan duduk di sofa menunggu Lukman yang masih berada di dalam kamarnya.


Selang beberapa menit, akhirnya Lukman datang dan ikut duduk di samping Alvin.


"Mereka belum pulang juga?" tanya Lukman mencari tau.


"Belum, kemana ya mereka jam segini belum pulang juga?" ucap Alvin yang mulai mengkhawatirkan keadaan keponakannya itu.


"Biarkan saja, mereka itu sudah sama-sama dewasa!" sahut Lukman dengan santainya.


Alvin hanya bisa menghela nafasnya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Permisi Pak, makan malamnya sudah siap. Silahkan makan terlebih dahulu sebelum makanannya dingin!" ucap Bibi yang bekerja di apartemen Hans dengan ramah.


"Baiklah, terima kasih ya Bi." sahut Lukman.


Setelah pekerjaannya selesai, Bibi itu bergegas meninggalkan apartemen karena dia memang tidak tinggal di apartemen itu.


Alvin dan Lukman mulai bangkit dari tempat duduk mereka dan melangkah ke arah meja makan.


Selesai menikmati makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang.

__ADS_1


Malam itu adalah malam terakhir bagi mereka berada di kota Zurich karena besok siang mereka sudah akan kembali ke Indonesia.


Hari sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sela terbangun dari tidurnya saat merasa ingin buang air kecil.


Tanpa melihat sekelilingnya, dia bergegas melangkah ke dalam kamar mandi dengan mata yang belum terbuka sempurna. Dia pun segera membuang apa yang seharusnya dia buang.


Setelah semuanya terbuang, Sela kembali menuju tempat tidurnya. Tatapan matanya mulai terganggu saat melihat Hans yang tengah tertidur lelap di atas tempat tidurnya.


"Hans, kenapa kamu bisa tidur di sini?" bentak Sela sembari mengguncang tubuh laki-laki itu dengan kasar.


Hans membuka matanya saat merasakan guncangan yang begitu keras seperti gempa bumi yang melanda.


"Ehm, Sela. Ada apa?" tanya Hans sembari menutup kembali matanya yang masih terasa berat.


"Bangun Hans, kenapa kamu malah tidur di sini?" tanya Sela sembari menepuk-nepuk pipi Hans.


Kesal karena diganggu terus oleh Sela, Hans pun dengan cepat menarik tangan wanitanya itu hingga tersungkur di atas tempat tidur.


Hans melingkarkan tangannya di perut Sela dan memeluknya dengan sangat erat.


"Lepaskan aku Hans, apa yang kamu lakukan?" teriak Sela dengan lantang.


"Uhm..."


Hans menahan kedua tangan Sela, dia melahap bibir tipis itu dan meluma*nya dengan penuh perasaan. Dia bahkan tidak memberikan ruang sedikitpun untuk Sela mengambil nafas.


Sela hanya terdiam seperti patung saat menikmati ciuman yang dilayangkan oleh laki-lakinya itu.


Karena tidak ada respon dari Sela, Hans pun kembali melepaskan bibir gadis itu dengan raut wajah penuh kekecewaan. Dia kemudian membelakangi tubuh Sela tanpa berucap sepatah katapun.


"Apa yang kamu lakukan di sini Hans?" tanya Sela mencari tau.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu!" sahut Hans sembari memejamkan matanya kembali.


"Mana mungkin aku bisa melakukan apa-apa padamu, untuk sekadar berciuman saja bahkan kamu tidak bisa!" batin Hans sembari mengepalkan kedua tangannya.


Sela kembali membaringkan tubuhnya dan menjaga jarak dengan Hans. Mereka tidur dari ujung ke ujung seperti orang yang sedang bermusuhan satu sama lain.

__ADS_1


"Hans, apa kamu marah padaku?" tanya Sela yang masih memunggungi Hans.


"Untuk apa aku marah padamu? Aku ini bukanlah siapa-siapa bagimu, punya hak apa aku?" sahut Hans yang masih kesal terhadap Sela.


Sela membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Hans yang masih membelakanginya.


Pelan-pelan, Sela mulai bergeser dan mendekati Hans yang masih merajuk seperti anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan itu.


"Hans, maafkan aku. Jangan marah!" ucap Sela sembari menyentuh lengan Hans dengan tangannya.


"Sudahlah Sela, lebih baik kamu tidur saja!" sahut Hans yang masih enggan menoleh ke arah Sela.


"Tapi aku tidak bisa tidur kalau kamu seperti ini padaku!" rengek Sela yang mulai meneteskan air matanya.


Hans membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara Sela yang mulai terdengar aneh di telinganya. Sontak saja Hans langsung terkejut melihat Sela yang sudah berderaian air mata.


"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Hans sembari menyapu air mata Sela dengan jarinya.


Sela melingkarkan tangannya di pinggang Hans. Isak tangisnya semakin terdengar nyata saat dia semakin mendekatkan wajahnya di dada laki-laki yang dia cintai itu.


"Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Aku yang salah!" ucap Hans menenangkan Sela yang masih terisak.


Hans mendekap tubuh Sela ke dalam pelukannya. Dia kemudian membelai rambut Sela dan menempelkan hidungnya di kepala gadis itu.


"Maafkan aku, aku yang salah. Aku terlalu egois dan tidak pernah mengerti dengan ketidaknyamanan mu bersamaku!" ucap Hans menyadari kesalahannya.


"Tidak Hans, aku yang salah. Aku selalu saja menghindar darimu dan tidak pernah memberimu kesempatan untuk menyentuhku!" sahut Sela yang juga menyadari kesalahannya.


"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi. Tidurlah, aku akan kembali ke kamarku!" ucap Hans sembari melepaskan tangan Sela yang masih melingkar di pinggangnya.


Hans mencoba bangkit dari tidurnya. Tapi Sela dengan cepat menahan tubuh Hans dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Hans.


"Jangan pergi, tidur saja di sini!" pinta Sela yang masih ingin tidur di dalam pelukan Hans.


Sela mengangkat kepalanya dan menatap wajah Hans dengan mata yang masih berkaca-kaca.


Sela mulai memberanikan diri mendekati dan mengecup bibir Hans sembari menutup matanya menahan rasa malu yang sedang menggerogoti hatinya. Dia kemudian belajar mel*mat bibir Hans seperti yang Hans lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Hans melotot kan mata saking kagetnya menerima ciuman dadakan dari Sela yang tak pernah dia sangka itu. Dia kemudian membalas l*matan Sela hingga mereka berdua asyik menikmatinya tanpa canggung sedikitpun.


__ADS_2