Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 18. Bakat Yang Terpendam


__ADS_3

Ara berusaha untuk tenang, meskipun pikiran nya sedang tidak bisa di ajak kompromi. Di benak nya berpikir kalau membuat desain baju pengantin itu tidak lah gampang. Butuh waktu untuk menyelesaikan itu semua, tidak bisa terburu-buru.


Namun, demi kepuasan customer, mau tidak mau Ara harus segera membuat desain baru. Dia kembali bermain dengan komputer yang ada di atas meja.


"Tante! Boleh Cika pinjam pensil sama kertas?" ucap Cika yang ingin sekali membantu Ara.


"Untuk apa sayang?" tanya Ara sambil membuka laci mejanya.


"Cika mau mencoba membantu, Tante!" jawab Cika yang membuat Ara sedikit heran.


Setelah mendapatkan kertas dan pensil, Cika kembali melangkah menuju sofa. Perlahan Cika mulai mencoret-coret kertas putih itu sesuai imajinasi yang ada di dalam otaknya.


Cika memang bukan anak yang terlalu pintar semasa sekolah. Tapi dia mempunyai banyak prestasi di bidang seni lukis dan menggambar. Hobinya itu mulai terlihat sejak dia masih duduk di bangku TK. Cita-cita masa kecil nya ingin menjadi desainer, namun semua keinginannya itu kandas seiring kepergian ayah tercintanya.


Ini merupakan kali pertama bagi Cika kembali membuat desain pakaian setelah kepergian ayahnya.


Tidak memakan waktu lama untuk Cika membuat desain baju pengantin. Hanya dalam waktu satu jam Cika berhasil membuat dua rancangan yang begitu indah.


Tok..Tok..Tok(suara ketukan pintu)


"Masuk saja!" ucap Ara yang masih asik dengan layar komputernya.


"Permisi Buk, calon pengantin kita sudah berada di luar, dia ingin bertemu sama Ibu." ucap Putri yang seketika membuat Ara terlihat tegang.


"Ya sudah, suruh masuk saja!" balas Ara yang sebenarnya masih belum menyelesaikan desain bajunya. Putri pun berlalu meninggalkan ruangan.


Mau tidak mau Ara harus menghadapi customernya itu. Ara sudah tidak mau ambil pusing dengan semua itu. Dia berusaha untuk terlihat lebih tenang.


Putri kembali ke ruangan Ara membawa seorang gadis, tepat nya calon pengantin mereka yang bernama Lia.


"Silahkan duduk!" ucap Ara yang sudah mulai terlihat santai.


Putri dan Lia pun duduk di hadapan Ara.


"Maaf Buk, kedatangan saya kesini mau melihat desain yang di janjikan karyawan Ibu. Apa saya bisa melihat nya?" tanya Lia tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Mohon maaf karena permintaan kamu terlalu mendadak, saya belum bisa untuk menyelesaikannya. Tapi,,,"


"Tante!" panggil Cika yang memotong pembicaraan Ara. Semua orang pun menoleh ke arah Cika.


Cika melangkah kearah meja kerja Ara. Tanpa ragu Cika menyerahkan desain yang sudah di buatnya kepada Ara.


"Ini apa sayang?" tanya Ara sedikit bingung. Cika hanya tersenyum melihat ekspresi calon mertuanya itu.


Mata Ara seketika melotot setelah melihat kertas yang sudah ada di tangannya itu. Dua buah desain baju pengantin yang begitu indah. Bahkan Ara sendiri belum pernah membuat desain sebagus itu.


Tanpa berpikir panjang Ara segera memperlihatkan desain itu ke calon pengantin yang ada di hadapannya.


"Ini, silahkan dilihat!" ucap Ara sambil tersenyum ke arah Cika.


"Ini bagus sekali Buk, keduanya sangat cantik, sesuai keinginan saya." ucap Lia sambil tersenyum sangat puas.


"Jadi kamu suka?" tanya Ara memastikan.


"Iya Buk, suka banget." jawab Lia dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Baik lah kalau begitu, saya akan pindahkan dulu ke komputer. Nanti hasilnya, akan saya kirim lewat email kamu." ucap Ara dengan senyum merekah di wajahnya.


Ara tersenyum puas karena begitu senang melihat customernya yang sangat menyukai desain yang di buat oleh Cika.


Ara sama sekali tidak menyangka kalau wanita cantik yang ada di sampingnya itu punya kemampuan yang sangat luar biasa.


"Sayang, terimakasih! Tante benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan semua ini." ucap Ara sambil memeluk Cika.


"Sama-sama, Tante!" ucap Cika sambil membalas pelukan Ara.


"Kenapa kamu tidak pernah bicara sama tante, kalau kamu mempunyai kemampuan mendesain pakaian seperti ini?" tanya Ara sambil melepaskan pelukannya dari Cika.


"Ini cuma hobi Cika dari kecil Tante, Cika juga tidak menyangka kalau Cika bisa melakukan ini lagi. Setelah kepergian ayah, Cika sudah tidak pernah lagi menyalurkan hobi Cika ini." ucap Cika memberi penjelasan kepada Ara dengan raut wajah sedikit pilu.


Cika mengingat kembali kenangan bersama ayah tercintanya. Dukungan dari ayahnya lah yang membuat dia selalu menjadi yang terbaik di bidang seni lukis dan menggambar. Sampai-sampai piala yang pernah di peroleh nya pun sudah tidak bisa di hitung dengan jari.

__ADS_1


"Tante benar-benar kagum sama kamu sayang. Kamu gak hanya cantik, tapi juga rajin dan pintar." puji Ara sambil mencium kening Cika.


"Terimakasih Tante!" ucap Cika sambil kembali memeluk tubuh Ara.


Cika merasa nyaman berada di dalam pelukan Ara, dia merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini dia dambakan.


Seketika air matanya menetes karena bahagia bisa bertemu orang sebaik Ara.


"Sudah sayang, gak usah nangis lagi! Tante ada di sini bersama kamu." ucap Ara menenangkan gadis malang itu.


Waktu terus berjalan, hari pun sudah mulai sore. Ara sudah selesai mengedit desain yang tadi di buat Cika dan sudah mengirimnya ke email Lia customernya.


"Sayang, semua nya sudah beres. Tante sudah mengirim foto nya ke email Lia. Dia juga sudah memilih salah satu dari desain kamu. Sampai-sampai dia bingung lo." ucap Ara sambil tertawa bahagia. Cika pun ikut tertawa mendengar penjelasan Ara.


Karena semua pekerjaan sudah selesai, Ara memutuskan untuk pulang lebih cepat ke rumahnya.


Mereka meninggalkan butik dan melaju menuju rumah. Di dalam perjalanan pulang, Cika hanya terdiam, dia sedikit kepikiran dengan Aldo.


Cika yang tadinya sudah terlihat ceria dan bersemangat. Sekarang kembali murung memikirkan Aldo yang sama sekali tidak memberinya kabar. Pikirannya sudah mulai berlayar kemana-mana.


Cika bahkan tidak sadar kalau Ara sedang memperhatikannya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ara sedikit bingung melihat ekspresi wajah Cika.


"Gak apa-apa tante!" jawab Cika singkat saja sambil melihat keluar dari kaca mobil.


"Apa yang telah mengganggu pikiran nya? kenapa dia tiba-tiba murung seperti ini?" batin Ara merasa penasaran.


Kring,,kring,,kring(nada panggilan masuk)


Ara bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


"Halo, sayang!" ucap Ara yang menerima panggilan masuk dari Aldo.


"Halo Ma! Mama dimana?" tanya Aldo dari balik ponsel.

__ADS_1


"Mama lagi di jalan sayang, ini sudah mau sampai di rumah" jawab Ara.


"Oh,, ya udah Ma. Aldo juga sebentar lagi sampai di rumah. Udah dulu ya ma, Aldo lagi nyetir nih." ucap Aldo sambil mematikan panggilan sambungan teleponnya.


__ADS_2