Hati Berdarah

Hati Berdarah
Cemburu


__ADS_3

Sela melangkah kearah sofa dan meletakkan minuman beserta cemilan di atas meja. Gadis cantik itupun kembali duduk diantara sahabat dan sepupunya di atas permadani.


Melihat Ilham yang masih terpaku menatap laki-laki gagah yang tengah duduk di depan papanya, Alvin pun langsung memanggil putra sulungnya itu.


"Ilham, kemari lah Nak!"


Dengan raut wajah yang masih bingung, Ilham pun segera bangkit dan melangkah menghampiri papanya yang tengah duduk di atas sofa.


"Ada apa, Pa?" tanya Ilham yang kemudian ikut duduk di samping papanya.


"Kenapa tatapan mu terlihat begitu aneh? Kamu tidak mengenali laki-laki ini." tanya Alvin sembari mengusap punggung Ilham dengan lembut.


"Tidak, Pa! Memangnya siapa dia?" tanya Ilham sembari menatap laki-laki yang duduk di depannya itu dengan tajam.


"Ilham, kamu benar-benar tidak mengenaliku?" sambung Hans yang sudah dari tadi memperhatikan Ilham.


"Tidak, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ilham sembari menatap Hans dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tanpa ragu sedikitpun, Hans langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah maju kearah Ilham.


"Aku ini Hans, sahabat masa kecilmu!" ucap Hans dengan sangat jelas.


"Tidak mungkin, Hans yang ku kenal dulu tidak setampan dirimu!" sahut Ilham dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya.


"Hahahaha, tapi kenyataannya aku ini Hans!" ucap Hans sembari tertawa cekikikan.


"Benarkah?"


Tanpa berpikir panjang, Ilham pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan membentangkan kedua tangannya. Dengan cepat, Hans pun langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Kamu benar-benar Hans, anak nakal itu?" tanya Ilham yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat.


"Tentu saja! Kamu kaget melihat ketampanan ku ini?" sahut Hans begitu percaya diri.


Perkataan Hans yang begitu membanggakan ketampanannya itu, seketika membuat Aldo merasa ingin muntah. Suami Cika itu benar-benar kesal melihat laki-laki gagah yang pernah menolong istrinya itu. Entah apa yang ada dibenak Aldo saat ini, rasa cemburunya bahkan semakin menjadi-jadi sejak pertama Hans muncul di tengah-tengah mereka.


Setelah puas melepaskan kerinduan mereka, Ilham dan Hans kembali duduk di tempat mereka masing-masing.


Kehangatan keluarga Alvin pun semakin bertambah dengan kehadiran Hans yang ternyata adalah sosok laki-laki yang gampang bergaul.


"Kenapa kamu tiba-tiba ada disini, Hans? Angin apa yang membawamu kemari?" tanya Ilham yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Aku menemukan bunga yang sedang mekar di rumah ini. Aku ingin memetiknya dan membawanya pulang!" ucap Hans sembari melirik kearah Sela yang tengah duduk di samping Cika.


Lagi-lagi Aldo merasa kesal mendengar ucapan Hans. Apalagi Aldo sempat melihat, tatapan laki-laki gagah itu terus saja melirik kearah istrinya.


"Apa maksudmu?" tanya Ilham yang tidak mengerti maksud ungkapan yang keluar dari mulut laki-laki itu.


"Sudahlah Ilham, jangan terlalu banyak bertanya!" sambung Alvin menghentikan rasa kepo pada diri putra sulungnya itu.


"Tapi, Pa..."


"Kalian masih bisa membicarakan itu lain kali! Jangan membuat tamu kita merasa tidak nyaman!" ucap Alvin yang membuat Ilham langsung terdiam.


Merasa sudah tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarganya sendiri, Aldo pun memilih untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan semua orang.


"Sayang, ayo kita ke kamar!" ucap Aldo sembari menggenggam tangan istrinya.


"Tunggu dulu, masih ada tamu!" sahut Cika menolak ajakan suaminya.


Melihat keanehan pada raut wajah Aldo, Hans pun merasa tidak enak hati.


"Maaf, kamu suaminya Cika ya!" tanya Hans dengan santainya.


"Iya, ada masalah?" ketus Aldo yang masih tidak senang dengan kehadiran Hans.


"Apa maksudmu?" tanya Aldo dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Kecelakaan waktu itu, sepertinya ada yang sengaja melakukannya. Aku tidak terlalu yakin juga, tapi tetaplah waspada. Demi keselamatan anak dan istrimu!" ucap Hans yang membuat semua orang terkejut bukan main.


Setelah mendengar penjelasan dari Hans, Aldo akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar. Perlahan, Aldo melangkah kearah sofa dan duduk di samping kakaknya.


"Maafkan aku Aldo, sepertinya Cika sudah menjelaskan semuanya padamu. Perasaanku mengatakan kalau kamu tidak suka melihatku berada disini!" ucap Hans yang bisa membaca ekspresi wajah Aldo.


"Kamu benar, aku memang tidak suka padamu! Kenapa kamu sampai mengikuti istriku tempo hari?" tanya Aldo mencari tau.


"Kamu jangan salah paham dulu padaku! Aku melakukan semua itu hanya untuk memastikan keselamatan istri dan calon anakmu. Aku tidak punya maksud lain." ucap Hans meyakinkan Aldo.


Dengan begitu yakin, Hans mulai menjelaskan semua yang sudah terjadi pada waktu itu. Hans juga meyakinkan Aldo, kalau dirinya tidak menyukai Cika sama sekali. Semua itu Hans lakukan hanya demi rasa kemanusiaan yang begitu besar didalam dirinya.


Sedikit demi sedikit, Aldo mulai memahami maksud ucapan Hans. Aldo akhirnya tertunduk malu karena sempat berpikiran jelek, kepada laki-laki yang sudah menyelamatkan dua nyawa yang sangat dia cintai itu.


"Maafkan aku, aku sudah salah menilai kebaikanmu itu! Aku pikir kamu menyukai istriku." ucap Aldo dengan perasaan bersalahnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, wajar jika kamu berpikir seperti itu! Aku juga akan melakukan hal yang sama, jika itu terjadi pada istriku." sahut Hans sembari melirik kearah Sela.


"Terimakasih!" ucap Aldo sembari mengulurkan tangannya kearah Hans. Laki-laki gagah itupun dengan senang hati menyambut uluran tangan Aldo.


Melihat raut wajah suaminya yang sudah tidak marah lagi, Cika pun langsung tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya Om! Sudah larut, tidak enak dilihat tetangga." ucap Hans sembari melihat kearah jam tangannya.


"Iya, Hans. Sering-seringlah main kesini!" sahut Alvin dengan senyuman yang masih terlihat tampan meskipun umurnya sudah tidak muda lagi.


"Tentu saja, Om. Bungaku masih tertinggal disini!" ucap Hans yang membuat Sela jadi salah tingkah.


Hans mulai bangkit dari tempat duduknya. Laki-laki gagah itu tanpa sungkan menyalami dan mencium tangan Alvin dan Ara secara bergantian.


"Sela, antar Hans ke depan!" pinta Alvin kepada keponakan cantiknya yang masih terlihat malu-malu.


"I... Iya Om!" sahut Sela terbata-bata.


Sela mulai melangkah kearah pintu utama, begitupun dengan Hans yang ikut berjalan di sampingnya. Gadis cantik itu bahkan tidak berucap sepatah katapun kepada laki-laki yang berjalan sangat dekat dengannya itu.


Sesampainya di halaman rumah, Sela dengan cepat menghentikan langkahnya dan berdiri mematung membiarkan Hans melangkah sendirian.


"Sela, kenapa diam saja? Bukannya Om Alvin menyuruhmu mengantarku ke depan?" tanya Hans yang ikut menghentikan langkahnya.


"Kita sudah di depan, Hans. Pulanglah, aku masuk dulu!" sahut Sela sembari memutar balik tubuhnya kearah pintu masuk.


"Begitu saja?" tanya Hans yang membuat langkah kaki Sela langsung tertahan.


"Selamat malam, hati-hati!" ucap Sela tanpa menoleh kearah Hans.


Melihat Sela yang begitu kaku, Hans pun dengan sigap menarik dress yang di gunakannya hingga gadis cantik itu tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


Sesaat tubuh Sela terasa sedikit oleng, namun Hans dengan cepat menangkapnya. Tanpa sadar, Sela langsung memeluk tubuh Hans dengan erat karena takut tubuhnya terhempas ke lantai.


Reaksi Sela itupun membuat Hans tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Hans membalas pelukan Sela dengan erat. Laki-laki gagah itu kemudian menenggelamkan wajahnya di pundak Sela dan menikmati aroma tubuh gadis cantik itu dengan sangat leluasa.


"Wangi sekali!" ucap Hans yang enggan sekali melepaskan tubuh Sela dari dekapannya.


Ucapan Hans itu akhirnya menyadarkan Sela yang segera mendorong tubuh laki-laki itu dengan kuat.


"Berani-beraninya kau menyentuhku!" ketus Sela dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


Melihat ekspresi Sela yang tak biasa, Hans hanya tersenyum dan berjalan kearah mobilnya. Sela pun akhirnya masuk kedalam rumah dengan penuh kekesalan karena Hans tidak memberi penjelasan sama sekali.


__ADS_2