Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bagian Cika


__ADS_3

Keesokan harinya, Hans menepati janjinya untuk membawa Sela jalan-jalan ke Interlaken. Mereka berdua menghabiskan waktu seharian penuh menikmati pemandangan alam yang begitu indah di sana.


Sementara itu, Lukman dan Alvin tengah berada di perusahaan. Lukman memberikan kuasa kembali kepada orang kepercayaannya untuk mengelola perusahaan karena Hans akan kembali ke Indonesia bersama dirinya.


Di tengah-tengah waktu luangnya, Alvin menyempatkan diri menghubungi istrinya yang sudah sangat dia rindukan. Meskipun tergolong sudah tua, tapi hubungan mereka berdua tidak kalah dengan anak-anak mereka.


"Halo Ma, bagaimana kabar kalian di sana?" tanya Alvin dari balik telepon.


"Kami semua baik-baik saja Pa, tidak perlu khawatir!" sahut Ara yang saat itu tengah bermain bersama Mikaila.


"Bukannya khawatir, tapi Papa sudah sangat merindukan Mama. Bagaimana dengan Mama?" tanya Alvin kepada istrinya.


"Apa-apaan sih Pa, ingat umur. Jangan seperti anak muda gitu, malu sama cucu!" sahut Ara yang merasa geli mendengar ucapan suaminya.


"Hahahaha... Papa ini masih muda Ma, jangan di bilang tua terus!" sahut Alvin sembari tertawa cekikikan.


"Iya, iya, terserah Papa saja lah kalau begitu!" sahut Ara.


"Oh iya Ma, Mama bisa kan membuatkan baju pengantin untuk Sela?" tanya Alvin.


"Apa mereka sudah baikan Pa?" tanya Ara balik.


"Sudah Ma, sekarang mereka berdua sedang pergi jalan-jalan!" sahut Alvin.


"Baiklah Pa, nanti biar Mama diskusikan dengan Cika!" ucap Ara.


"Ya sudah, kalau begitu Papa tutup dulu ya. Papa masih di perusahaan Lukman, gak enak lama-lama!" ucap Alvin sembari mematikan sambungan telepon mereka.


Siang itu Ara bergegas mendatangi kamar Cika setelah mendapatkan telepon dari suaminya. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin memberitahukan berita bahagia itu kepada anak menantunya.


"Tok...Tok...Tok..."


Ara mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar Cika yang tidak di kunci itu.


"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Ara yang melihat Cika tengah berbaring di atas tempat tidur.


"Mama, silahkan masuk Ma!" sahut Cika sembari bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.


"Tidak apa-apa sayang, berbaring saja!" ucap Ara sembari melangkah dan duduk di samping menantunya itu.

__ADS_1


Ara mengusap perut menantunya dengan lembut. Pancaran sinar pada raut wajahnya jelas sekali memperlihatkan kalau dia tengah berbahagia saat ini.


"Ada apa Ma? Sepertinya Mama terlihat bahagia sekali." ucap Cika mencari tau.


"Kamu benar sekali sayang, Mama memang sedang bahagia. Kamu tau gak apa yang ingin Mama sampaikan?" ucap Ara sembari tersenyum dengan leluasa.


"Ada apa sih Ma? Jangan bikin penasaran gini dong!" tanya Cika dengan tatapan menyelidik.


"Papa barusan menghubungi Mama sayang. Papa meminta Mama membuatkan baju pengantin untuk Sela!" ucap Ara yang membuat Cika menganga seakan tidak percaya.


"Mama tidak bercanda kan? Ya Tuhan, Cika senang banget loh Ma. Akhirnya Sela mendapatkan cintanya kembali!" sahut Cika sembari tersenyum penuh kebahagiaan.


"Iya sayang, Mama juga senang sekali!" ucap Ara sembari menggenggam tangan menantunya itu.


"Mama tenang saja, biar Cika yang buat desainnya. Cika ingin Sela tampil cantik di hari bahagianya nanti!" pinta Cika kepada mama mertuanya.


"Baiklah kalau begitu. Kamu istirahat lagi saja, Mama mau turun dulu!" ucap Ara sembari membantu Cika membaringkan tubuhnya kembali.


Cika mulai memejamkan matanya kembali. Usia kandungan yang sudah memasuki 6 bulan, membuatnya semakin sering kelelahan dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.


Sementara itu, Aldo mulai sedikit kewalahan mengurus perusahaan sendirian. Pekerjaan yang begitu banyak membuat Aldo selalu terlambat pulang ke rumahnya.


Malam harinya, mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu setelah selesai menikmati makan malam.


Di tengah-tengah pembicaraan mereka yang masih sibuk membahas tentang Sela, tiba-tiba Mila keluar dari kamarnya dan memberikan beberapa map yang berisi surat berharga kepada Cika.


"Apa ini Kak?" tanya Cika yang tampak kebingungan di depan semua orang.


"Tidak perlu banyak tanya, tanda tangani saja!" sahut Mila sembari tersenyum.


Cika membuka satu persatu map yang ada di tangannya itu. Dia benar-benar terkejut setelah membaca isi dari surat-surat itu.


"Kak Mila, apa maksud semua ini? Cika tidak membutuhkan ini semua Kak!" ucap Cika menolak menandatangani surat-surat berharga itu.


"Terima saja Cika, itu adalah hak kamu. Semua sudah diurus oleh pengacara kami. Kamu tinggal menandatangani semua itu!" tambah Ilham yang sudah sejak sebulan lalu membantu mengurus pengalihan beberapa aset milik istrinya.


"Tapi Kak,..."


"Sudahlah sayang. Kalau kamu masih menganggap Kakak sebagai Kakak kamu, maka tandatangani saja!" ucap Mila memaksa Cika menerima sebagian dari aset keluarga mereka.

__ADS_1


Mau tidak mau, akhirnya Cika menerimanya dan menandatangani surat-surat penting itu.


Setelah Cika menandatangani semua surat-surat itu, Mila kemudian memberikan beberapa kartu ke tangan Cika.


"Apa lagi ini Kak?" tanya Cika sembari mengernyitkan keningnya.


"Semua sudah lengkap di sana. Kamu bisa menggunakannya sesuka hati kamu!" ucap Mila.


"Tapi Kak, ini sudah terlalu berlebihan!" sahut Cika yang merasa tidak enak hati dengan kakaknya itu.


"Tidak ada yang berlebihan sayang, simpan saja kartu itu!" ucap Mila yang kembali memaksa Cika menerimanya.


Lagi-lagi Cika harus mengalah agar tidak menyakiti hati kakak sepupunya. Dia bahkan tidak menyangka akan mendapatkan semua yang tidak pernah terpikirkan olehnya itu.


Malam itu tepat pukul 22.00 wib. Semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Berbeda dengan di Zurich yang saat itu masih menunjukkan pukul 16.00 sore.


Sela dan Hans kembali ke apartemen setelah hampir seharian menghabiskan waktu mereka berdua.


Pemandangan gunung dan danau yang mereka kunjungi tadi menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka yang baru saja di mulai.


Sesampainya di depan gedung apartemen, Hans dan Sela turun dari mobil mereka. Perjalanan yang begitu melelahkan membuat kaki Sela benar-benar letih hingga kesulitan untuk berjalan.


"Ayo naik!" Hans menekuk kakinya dan menyuruh Sela naik ke punggungnya.


"Tidak usah Hans, aku masih bisa jalan kok!" sahut Sela yang tidak ingin merepotkan Hans.


"Kaki kamu sudah sembab Sela, jangan ngeyel. Ayo cepat naik, atau mau aku paksa!" ucap Hans memaksa ingin menggendong Sela.


Mau tidak mau, Sela akhirnya terpaksa mengikuti permintaan Hans. Dia mulai naik ke punggung laki-lakinya itu dan mengalungkan tangannya di leher Hans.


Sesampainya di dalam apartemen, Hans langsung membawa Sela ke kamarnya. Dia kemudian menurunkan wanitanya itu tepat di atas tempat tidur.


"Terima kasih sudah membantu!" ucap Sela sembari mengunjurkan kakinya di atas kasur.


"Aku tidak butuh ucapan terima kasih!" ucap Hans sembari duduk di samping Sela.


"Lalu aku harus bagaimana Hans?" tanya Sela yang bingung melihat ekspresi Hans.


Hans mulai mendekati bibir Sela dan mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku lebih suka jika kamu berterima kasih seperti ini!" ucap Hans.


Sela hanya terdiam sembari menundukkan wajahnya. Gadis itu masih saja malu-malu berhadapan dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


__ADS_2