
Cika melangkahkan kakinya menuju kamar Sela. Sementara Aldo sibuk mencari pakaian yang akan dikenakannya.
"Saking kesalnya, dia bahkan tidak membantu mengambilkan pakaian suaminya sendiri!" batin Aldo sembari menggaruk kepalanya.
"Tok... Tok... Tok..."
Terdengar suara ketukan pintu dari depan kamar Sela. Sahabat Cika itupun dengan cepat membuka pintu kamarnya dan langsung tersenyum melihat Cika yang sudah berdiri tegak didepan pintu.
"Kamu Cika, ayo masuk!" ucap Sela sembari menarik tangan sahabatnya itu dan membawanya ke atas tempat tidur. Mereka berdua akhirnya bernostalgia sembari berbaring di atas kasur.
"Sela, maafkan Aldo ya! Aku kadang suka kesal mendengar dia berbicara kasar seperti tadi kepadamu." ucap Cika yang merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu.
"Loh, kenapa kamu minta maaf? Aku tidak apa-apa, Cika! Aldo mah dari dulu memang begitu sama aku. Aku sama sekali tidak pernah ambil pusing dengan ucapannya, karena aku tau dia cuma bercanda. Sebenarnya dia tuh baik dan sayang sama aku, hanya saja caranya itu memang sedikit aneh. Beda sama Kak Ilham yang selalu lembut sama siapapun." jelas Sela agar Cika tidak salah paham terhadap suaminya.
"Iya sih, tapi tetap saja aku tidak suka melihatnya seperti tadi sama kamu!" sahut Cika.
"Sudahlah Cika, tidak perlu dipikirkan lagi! Kita bahas hal yang lain saja ya!" ucap Sela yang tidak ingin membuat Cika memikirkan hal-hal yang aneh. Cika akhirnya tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
"Bagaimana statusmu sekarang, Sel? Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Cika yang mulai kepo dengan masalah percintaan sahabatnya itu.
"Boro boro punya pacar, punya waktu luang saja gak pernah!" ucap Sela dengan tatapan yang tidak biasa.
"Kok gitu sih, apa kamu sesibuk itu hingga tidak punya waktu sedikitpun untuk memikirkan masa depanmu?" tanya Cika tanpa ragu.
"Aku juga ingin memikirkan tentang itu, Cika. Tapi sejak kepergian mu dari rumah ini, si Aldo tuh sudah seperti orang gila saja. Datang ke kantor cuma melamun, lalu pergi. Semua pekerjaannya aku yang urus. Setiap hari harus lembur, mana ada waktu luang? Bahkan di hari Minggu pun aku harus tetap bekerja dari rumah." jelas Sela yang secara tidak langsung menyalahkan sepupunya.
"Kasihan sekali kamu, Sela! Maafkan aku ya, semua ini terjadi gara-gara aku!" sahut Cika menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri! Semuanya sudah terjadi. Oh ya, bagaimana keadaan keponakanku? Apa kamu sudah tau jenis kelaminnya?" tanya Sela yang mulai kepo dengan kehamilan Cika.
Sela meletakkan tangannya di atas perut Cika. Wanita cantik yang masih jomblo itupun mengusap-usap perut sahabatnya sembari tersenyum geli.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, pengen hamil juga?" ucap Cika menggoda Sela.
"Aish, apa kamu sudah gila? Nikah saja belum, masa' aku pengen hamil." sahut Sela tersipu malu.
__ADS_1
Kehebohan diantara mereka berdua pun terus berlanjut tanpa mengenal waktu.
Pukul 19.00 malam, Aldo turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan istrinya.
Diruang keluarga hanya ada Ilham, Mila dan Mikaila gadis kecil yang sedang tertidur lelap di pangkuan Ilham.
"Kak, apa kakak melihat Cika?" tanya Aldo sembari melangkah kearah Ilham.
"Tidak, kakak baru saja keluar dari kamar!" sahut Ilham yang memang belum melihat Cika sejak pulang dari kantor sore tadi.
"Kakak juga tidak melihat Cika sejak tadi!" tambah Mila kepada adik iparnya.
Aldo kemudian mendekati Ilham dan mencium pipi keponakannya yang terlihat sangat menggemaskan itu.
"Aldo boleh gendong gak Kak?" tanya Aldo yang memang belum sempat menggendong keponakannya itu sejak pulang siang tadi.
"Tentu saja boleh! Tapi apa kamu bisa?" tanya Ilham yang meragukan adik semata wayangnya itu.
"Bisa dong! Kalaupun gak bisa, Aldo kan harus belajar. Sebentar lagi Aldo juga akan menjadi seorang ayah." ucap Aldo dengan keyakinan yang begitu besar.
Dengan sangat hati-hati, Aldo belajar sebaik mungkin mengangkat tubuh kecil mungil itu dan mendekapnya kedalam pelukannya.
Ilham dan Mila pun hanya bisa tersenyum melihat raut wajah Aldo yang begitu senang bisa menggendong keponakannya.
Tidak lama, Ara pun muncul diantara mereka setelah selesai menyiapkan makan malam untuk semua keluarga tercintanya.
"Aldo, kamu ada disini? Istri kamu mana?" tanya Ara yang tidak melihat batang hidung menantu bungsunya.
"Cika mungkin sedang bersama Sela, Ma!" ucap Aldo sedikit ragu.
"Kamu yakin Cika sedang bersama Sela? Istri kamu itu sedang hamil muda Aldo, kamu harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan! Apalagi kamar kamu itu berada di lantai atas, Cika harus turun naik tangga sendirian!" ucap Ara yang membuat Aldo termenung seketika.
Tanpa berkata-kata, Aldo memberikan Mikaila kembali ke tangan kakaknya. Dengan raut wajah cemas, Aldo meninggalkan ruang keluarga dan berlari menaiki anak tangga.
Sesampainya dilantai atas, Aldo pun kembali berlari kearah pintu kamar Sela.
__ADS_1
"Tok... Tok... Tok..."
Aldo mengetuk pintu kamar Sela. Tidak lama, Cika pun terlihat berdiri dibalik pintu setelah membukakannya untuk Aldo.
"Cika, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aldo dengan raut wajah cemas.
"Aku baik-baik saja, Aldo! Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat panik seperti ini?" tanya Cika yang kebingungan melihat raut wajah suaminya.
"Tidak sayang, tidak ada apa-apa!" sahut Aldo menyembunyikan kepanikannya.
"Ada apa Cika, Aldo?" tanya Sela yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku hanya ingin memanggil kalian berdua, makan malam sudah siap. Ayo turun!" ajak Aldo kepada istri dan sepupunya itu.
"Kalian berdua duluan saja, sebentar lagi aku menyusul!" ucap Sela yang masih mengenakan handuk kimono.
Tanpa berlama-lama, Aldo menggenggam tangan istrinya dan menggandengnya menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Malam Ma, Kak Ilham, Kak Mila," sapa Cika kepada keluarganya yang tengah bersantai di ruangan itu.
"Malam sayang," sahut Ara yang sedang duduk memangku cucu pertamanya.
"Malam Cika, sini duduk dekat kakak!" ajak Mila kepada adik sepupunya itu dengan lembut.
Tanpa mempedulikan Aldo yang masih berdiri di sebelahnya, Cika pun melangkah kearah Mila dan segera duduk di samping kakak sepupunya itu.
"Kamu baik-baik saja kan, Cika?" tanya Mila sembari mengusap kepala adiknya itu.
"Cika baik-baik saja kok Kak? Kenapa kalian jadi aneh begini?" tanya Cika sedikit kebingungan.
"Tidak apa-apa sayang, kami hanya mengkhawatirkan keadaan kamu saja!" sambung Ara yang tidak ingin menambah beban pikiran untuk menantu bungsunya yang tengah berbadan dua itu.
Tidak lama, Sela menyusul turun dari lantai atas. Begitu juga dengan Alvin yang baru saja keluar dari kamarnya.
Karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka semua pun melangkah menuju ruang makan untuk menikmati makan malam yang sudah terhidang di atas meja makan.
__ADS_1