Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 31. Terluka


__ADS_3

Aldo tersungkur di lantai dengan darah yang sudah mengalir di area pinggangnya. Penglihatannya pun mulai berkunang kunang melihat darah segar yang sudah menetes di atas lantai.


"Awww,"


Aldo menjerit menahan rasa sakit di pinggangnya sembari menutup luka itu dengan telapak tangannya.


Cika pun seketika panik melihat kondisi laki-laki yang dicintainya itu yang sudah terkulai lemah. Air matanya pun jatuh berlinangan menatap kearah laki-laki tampannya itu.


"Aldo!"


Cika berlari kearah Aldo yang sudah tersandar di dinding kamar. Air matanya pun tak henti-hentinya mengalir di wajah cantiknya itu.


Melihat Aldo yang sudah semakin lemas, Cika pun dengan segera berlari keluar mengambil kotak P3K.


Dengan sigap Cika membersihkan luka Aldo dan segera membalutnya dengan perban.


"Maafkan aku! Aku memang tidak pantas untukmu." Aldo bergumam sembari mencari dinding untuk bersandar.


"Tidak usah banyak bicara! Kita ke rumah sakit ya! Aku akan menelepon Sela," ucap Cika yang semakin panik melihat darah di pakaian Aldo.


Cika hendak beranjak untuk mengambil ponselnya. Namun, Aldo dengan cepat menahan tangannya.


"Tidak perlu! Ini cuma luka kecil, besok juga sembuh." ucap Aldo sembari merintih menahan perih.


"Tapi Aldo!"


"Ssttt,,,! Luka ini tidak sebanding dengan apa yang telah aku lakukan kepadamu, aku pantas menerima semua ini." ucap Aldo dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Perkataan Aldo membuat Cika semakin merasa bersalah akan kecelakaan yang baru saja menimpa Aldo. Kalau saja dirinya tidak terlalu egois, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Cika kemudian segera duduk di samping Aldo. Aldo hanya terdiam sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Cika.


"Maafkan aku! Semua ini terjadi karena kesalahan ku." ucap Cika yang kembali meneteskan air matanya.


"Ssttt,,,! Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi! Aku yang salah, aku memang laki-laki bodoh." ucap Aldo terbata-bata sembari mencoba untuk berdiri.


"Awww," Aldo kembali merintih kesakitan karena merasakan perih yang luar biasa ketika mencoba untuk melangkah keluar kamar.


"Aldo!" Cika segera menahan tubuh Aldo yang sudah mulai sempoyongan.


"Kamu mau kemana? Biar aku bantu!" ucap Cika sambil memapah Aldo dan membawanya ke sofa yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Terimakasih!" ucap Aldo sambil menatap dalam kearah Cika.


"Kamu tunggu di sini dulu ya! Aku akan membersihkan darah yang berceceran di lantai kamar." ucap Cika sambil berlari ke dalam kamar dan segera membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di lantai.


Aldo kembali mencoba untuk berdiri dan melangkah keluar dari apartemen Sela. Dengan langkah tertatih-tatih, Aldo mencoba untuk berjalan menuju parkiran. Dia berniat untuk pulang ke apartemen miliknya.


Cika yang sudah selesai membersihkan lantai kamar, kembali keluar untuk melihat keadaan laki-laki yang sangat dia cintai itu. Namun betapa kagetnya Cika ketika melihat Aldo yang sudah tidak ada lagi di sofa ruang tamu itu.


Tanpa berpikir panjang, Cika berlari mencari Aldo keluar apartemen. Benar saja, Aldo sudah berada di parkiran hendak menuju mobilnya.


"Aldo!" Cika berteriak sekencang-kencangnya yang membuat langkah kaki Aldo terhenti seketika.


Cika berlari kearah Aldo dan memeluk tubuh Aldo seerat eratnya.


"Awww," Aldo kembali merintih kesakitan karena tangan Cika tidak sengaja menyentuh lukanya.


"Maaf,,,. Kamu mau kemana? Kamu masih sakit," ucap Cika penuh kekhawatiran.


"Aku ingin pulang ke apartemen. Aku tidak mau ketika Sela pulang, dia melihat kondisi ku seperti ini. Mereka semua tidak boleh tau keadaanku." ucap Aldo sambil kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku akan ikut bersamamu!" tegas Cika.


"Tidak usah! Aku baik-baik saja! Jangan pikirkan aku lagi! Aku akan mengobatinya sendiri." ucap Aldo sambil berlinangan air mata.


Cika bersikeras untuk tetap bersama Aldo. Dia pun ikut masuk ke dalam mobil mewah itu.


"Apa kamu kuat untuk menyetir?" tanya Cika.


"Entahlah," balas Aldo sambil mulai melajukan mobilnya.


Sesampainya di apartemen miliknya, Aldo meminta bantuan kepada penjaga apartemen untuk memarkirkan mobilnya. Cika pun kembali memapah Aldo untuk masuk kedalam apartemen.


Setelah mereka masuk ke kamar, Cika pun membantu Aldo untuk naik ke atas kasur.


"Kamu tunggu disini ya!"


Cika berjalan kearah lemari dan mengambil baju ganti untuk Aldo, setelah itu Cika mengambil kain dan membasahinya dengan air. Tidak lupa juga Cika mengambil kotak P3K untuk mengganti perban Aldo.


Cika membantu Aldo melepaskan pakaian Aldo. Dengan sangat hati-hati Cika mengelap tubuh Aldo dengan kain yang tadi sudah dia basahi, begitupun dengan luka di pinggang Aldo. Setelah itu Cika mengeringkan tubuh Aldo dengan handuk kecil dan memakaikan perban baru di luka Aldo. Setelah semua selesai Cika juga membantu memakaikan pakaian baru untuk Aldo.


"Sudah, berbaringlah!" ucap Cika sambil membantu merebahkan tubuh Aldo di atas kasur.

__ADS_1


"Tolong ambilkan celana pendek untukku! Aku tidak bisa tidur menggunakan celana panjang seperti ini." pinta Aldo.


Cika pun bergegas membuka kembali pintu lemari dan mengambilkan celana pendek untuk Aldo.


"Kamu bisa kan menggantinya sendiri." ucap Cika sambil memberikan celana pendek yang diminta Aldo.


Cika beranjak meninggalkan Aldo yang hendak mengganti celananya.


Selesai mengganti celananya, Cika kembali masuk ke dalam kamar.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Cika dan Aldo hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku akan memasak untukmu. Tunggu sebentar ya!" ucap Cika.


"Tidak usah! Aku pesan makanan saja. Aku tidak ingin merepotkan mu lagi."


Aldo meraih ponselnya dan memesan beberapa makanan lewat aplikasi yang ada di ponselnya.


Setelah makanan yang dipesan datang, Cika pun segera membantu menyuapi Aldo.


"Apa kamu ada persediaan obat?" tanya Cika sambil memberi segelas air kepada Aldo.


"Ada di dalam lemari sebelah pinggir." balas Aldo.


Cika segera mengambil kotak obat yang diberitahukan Aldo. Dia mencari obat pereda nyeri dan antibiotik.


"Ini, minumlah!" ucap Cika sambil memberikan beberapa pil dan segelas air kepada Aldo.


Hari sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ponsel Aldo berdering tanda ada panggilan masuk.


"Halo Ma!" ucap Aldo.


"Sayang, kamu dimana? Bukannya hari ini kamu dan Cika akan fitting baju, apa kamu lupa?" tanya Ara.


"Maaf Ma, Aldo ada urusan mendadak di luar kota." ucap Aldo berbohong kepada mamanya. Aldo tidak ingin mamanya mengetahui keadaannya saat ini. Dia tidak mau membuat mamanya khawatir.


"Sudah ya Ma, Aldo mau ada rapat nih." tambah Aldo sembari mematikan ponselnya.


Cika yang mendengar pembicaraan Aldo dengan Ara itu, kembali merasa bersalah terhadap Aldo. Jika saja Cika tidak menuruti keegoisan nya, Aldo mungkin tidak akan seperti ini.


"Maafkan aku! Ini terjadi karena keegoisan ku." batin Cika dan diapun kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Cika, kamu kenapa?" tanya Aldo yang melihat kesedihan dari raut wajah Cika.


Cika hanya terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya merasa sangat sedih melihat laki-laki yang dia cintai itu terbaring lemah di atas kasur.


__ADS_2