Hati Berdarah

Hati Berdarah
Salah Paham


__ADS_3

"Sela, apa kamu serius dengan ucapan mu itu? Atau, apakah aku sedang bermimpi?" tanya Hans yang masih terlihat seperti orang kebingungan.


"Tidak Hans, kamu tidak sedang bermimpi. Aku disini, aku benar-benar mencintaimu Hans. Tolong, jangan melakukan hal konyol seperti tadi lagi. Aku sangat takut, Hans! Hiks... Hiks."


Sela kembali meneteskan air matanya di hadapan Hans. Dia juga menggenggam kedua tangan laki-lakinya itu dan menciumnya dengan berderaian air mata.


"Maafkan aku Sela, jangan menangis lagi!"


Hans menyeka air mata yang masih berjatuhan di pipi Sela. Dia menarik tubuh Sela ke pangkuannya dan meletakkan kepala gadis cantiknya itu tepat di dadanya.


Hans membelai rambut wanitanya itu dengan lembut. Sesekali dia mengecup kepala Sela dengan penuh kasih sayang.


"Aku janji, aku tidak akan minum lagi. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya!" ucap Hans sembari menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


Untuk sesaat, mereka berdua terlihat begitu bahagia. Hans membiarkan bibirnya menempel di kepala Sela sembari terus membelai rambut wanitanya itu.


Sela sudah tidak memiliki kecanggungan sedikitpun didalam dekapan laki-lakinya itu. Dia melingkarkan tangannya di atas perut Hans dan menempelkan bibirnya tepat di bawah ketiak laki-lakinya yang sedang bertelanjang dada itu.


"Hans, kamu sudah enakan kan?" tanya Sela sembari menengadahkan kepalanya.


"Sudah lumayan, terimakasih sudah menemaniku!" ucap Hans sembari menatap dalam ke wajah Sela.


"Aku mau kembali ke kamarku. Kamu tidak apa-apa kan, aku tinggal sendirian?" tanya Sela sembari menyentuh pipi Hans dengan tangan kirinya.


"Jangan pergi, tetaplah disini!" pinta Hans sembari mengencangkan pelukannya.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini, Hans. Kita ini tidak punya hubungan apa-apa. Aku takut jika Papa kamu dan Om Alvin pulang, mereka akan salah paham terhadap kita!" ucap Sela dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Biarkan saja mereka melihat kita seperti ini. Palingan, mereka akan menikahkan kita secepatnya!" ucap Hans dengan santainya.


"Ih, itu mah maunya kamu!" sahut Sela sembari memanyunkan bibirnya.


"Memangnya kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Hans sembari mengernyitkan keningnya.


Sela melepaskan tangannya dari tubuh Hans. Dia mulai bangkit dari tempat tidur dan berdiri di samping ranjang.


Sela membantu Hans memperbaiki posisi tidurnya dan kembali menyelimuti tubuh laki-lakinya itu dengan selimut.


"Tidurlah, besok kita bicarakan lagi!" ucap Sela sembari mengecup pipi Hans dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi aku ingin tidur bersamamu, Sela!" sahut Hans dengan tatapan menuntut.


"Kita pasti akan tidur bersama, tapi bukan hari ini!" ucap Sela sembari tersenyum dan mencubit hidung Hans hingga memerah.


Sela kemudian berlari kearah pintu dan melambaikan tangannya sembari menoleh kearah Hans. Dia juga memajukan bibirnya dan tersenyum dengan manja.


"Selamat malam, mimpi yang indah!" ucap Sela yang mulai menghilang dari pandangan Hans.


*****


Pagi harinya, Sela bangun lebih awal dan bergegas membantu Bibi menyiapkan sarapan di dapur.


Tidak lama, Alvin dan Lukman pun keluar dari kamar. Mereka duduk di meja makan sembari menatap kearah Sela yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Sela, dimana Hans?" tanya Lukman dengan tatapan mencari tau.


"Mungkin masih di kamarnya Om. Sela juga belum melihat Hans dari tadi!" ucap Sela sembari menatap kearah meja makan.


Mendengar jawaban Sela, Lukman pun segera melirik kearah Alvin sembari mengerutkan keningnya. Begitupun dengan Alvin yang langsung membuka matanya dengan lebar.


"Lukman, sepertinya matamu sudah bermasalah. Sebaiknya periksakan ke Dokter, dari pada semakin parah!" ucap Alvin dengan nada bicara yang terdengar sedikit pelan.


"Kamu tidak dengar ucapan Sela barusan? Sela belum melihat Hans dari tadi, itu artinya mereka berdua tidak tidur bersama tadi malam!" ucap Alvin mengambil kesimpulan.


"Tapi aku melihatnya dengan jelas, Alvin. Sela duduk di lantai sambil menggenggam tangan Hans!" sahut Lukman yang begitu yakin dengan penglihatannya.


"Apa kamu melihat wajah Sela dengan jelas?" tanya Alvin yang mulai merasa sedikit curiga.


"Tidak jelas sih, soalnya saat itu dia tengah membelakangi pintu!" sahut Lukman sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Tuh kan, patut dicurigai kalau begitu. Jika Sela tidak tidur di kamar Hans, berarti Hans sudah membawa wanita lain ke apartemen ini!" ucap Alvin dengan tatapan yang terlihat sedikit aneh.


Mendengar ucapan Alvin, tatapan Lukman pun berubah menjadi menakutkan. Dia bergegas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah kearah kamar Hans.


"Braaak"


Lukman mendorong pintu dengan kasar, yang membuat Hans terkejut bukan main.


"Ada apa, Pa?" tanya Hans yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Anak sialan! Dimana wanita itu?" ucap Lukman dengan nada suara begitu tinggi.


"Apa maksud Papa? Wanita siapa?" tanya Hans yang terlihat begitu kebingungan.


"Jika kamu tidak mau menikah dengan Sela, tidak masalah. Tapi, jangan coba-coba bermain kotor di belakang Papa!" bentak Lukman yang semakin tersulut emosi.


Mendengar keributan yang terjadi di dalam kamar Hans, Alvin pun bergegas menyusul Lukman karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Apa yang terjadi, Lukman? Kenapa kamu memarahi Hans?" tanya Alvin penuh tanda tanya.


Lukman mengayunkan kakinya kearah pintu. Dia meninggalkan kamar Hans dan duduk di sofa ruang tamu. Raut wajahnya pun terlihat begitu penuh dengan kekesalan.


Sementara itu, Alvin mendekat kearah Hans dan menatapnya dengan intens.


"Apa yang terjadi, Hans?" tanya Alvin dengan tatapan mencari tau.


"Hans juga tidak tau, Om. Tiba-tiba saja Papa menanyakan tentang seorang wanita, wanita siapa? Hans juga tidak mengerti!" sahut Hans sembari mengacak-acak rambutnya.


"Apa tadi malam kamu membawa seorang wanita ke kamar ini?" tanya Alvin yang juga penasaran.


"Tidak, Hans tidak pernah membawa wanita manapun masuk ke dalam apartemen ini!" sahut Hans dengan gamblangnya.


"Kalau kamu tidak membawa wanita, lalu siapa yang tidur bersamamu tadi malam?" tanya Alvin dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Oh, itu. Om jangan marah dulu, Hans bisa menjelaskannya!" ucap Hans sembari melangkah kearah sofa.


Hans menekuk kakinya dan duduk di atas sofa. Begitupun dengan Alvin, yang ingin mendengarkan penjelasan dari laki-laki itu.


Hans mulai menceritakan semuanya dari A sampai Z kepada Alvin, tanpa ada yang di tutup-tutupi sedikitpun. Hans juga mengatakan kalau dirinya dan Sela sudah berbaikan.


Setelah mendengar penjelasan dari Hans, Alvin pun keluar dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia. Alvin bergegas menghampiri Lukman yang masih terdiam di ruang tamu.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Semua ini hanyalah kesalahpahaman semata!" ucap Alvin sembari menepuk-nepuk pundak Lukman dari belakang.


"Apanya yang salah paham?" ketus Lukman yang masih kesal kepada putranya itu.


"Putramu sudah menjelaskannya, wanita itu adalah Sela. Mereka juga tidak melakukan apa-apa. Sela hanya membantu Hans yang pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri!" ucap Alvin memberi penjelasan kepada Lukman.


"Benarkah? Aku pikir anak itu sudah mulai berubah!" sahut Lukman sembari tersenyum lega.

__ADS_1


Lukman menarik nafasnya dan membuangnya dengan pelan. Laki-laki paruh baya itu kembali tersenyum dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


__ADS_2