
Putri kembali menyelesaikan pekerjaannya, dia tengah asik merapikan pakaian yang baru saja selesai di jahit.
"Apa boleh aku bantu?" tanya Cika yang sedikit merasa bosan menunggu di sofa.
"Gak usah Mbak, ini sudah tugasku." jawab Putri yang merasa tidak enak hati mendapat bantuan dari Cika.
"Jangan panggil Mbak, panggil Cika saja!" ucap Cika yang mulai membantu pekerjaan Putri.
"Baik Mbak, eh, maaf! Maksudku Cika." ucap Putri sambil tersenyum ke arah Cika.
Cika dan Putri pun dengan semangat melakukan pekerjaan yang sudah menumpuk di bantu karyawan yang lain.
Cika tengah asik mengganti pakaian yang ada di patung. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Ara yang di antar oleh Aldo.
Aldo dan Ara hanya tersenyum melihat semangat wanita cantik itu dalam bekerja, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan mereka.
"Selamat pagi, Buk! Selamat pagi, Pak Aldo." ucap Putri kepada bos nya itu.
"Selamat pagi, Put!" jawab Ara.
"Ssttt,,,"
Aldo memberi kode kepada Putri dan Mamanya, agar bicara sedikit lebih pelan.
"Maaf, Pak Aldo!" ucap Putri.
"Gak apa-apa!" balas Aldo.
Ara hanya tersenyum melihat tingkah putranya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Ma, Aldo mau bicara sama Cika dulu ya. Mama masuk saja ke ruangan! Nanti Aldo nyusul." ucap Aldo.
"Baiklah," jawab Ara sambil melangkah memasuki ruangannya.
Aldo berjalan menghampiri Cika, dia benar-benar sudah sangat merindukan wanita cantik itu. Satu malam adalah waktu yang sangat lama baginya untuk menahan rasa rindu terhadap Cika.
"Lagi ngapain sayang?" ucap Aldo berbisik di telinga Cika.
Sontak saja Cika merasa kaget dan tidak sengaja menarik patung yang ada di depannya. Patung itupun oleng dan hendak menimpa Cika. Namun dengan cepat Aldo menarik tangan Cika dan mendekapnya di dalam pelukannya.
"Ahhh,,," teriak Cika saking kagetnya.
Semua karyawan yang berada di ruangan itupun terkejut dan berlari ke arah mereka berdua.
"Ada apa Pak Aldo?" tanya seorang karyawan yang bernama Dira.
"Cuma kecelakaan kecil, tidak apa-apa!" jawab Aldo yang masih memeluk Cika.
__ADS_1
Cika yang merasa malu di depan semua karyawan butik, segera mendorong tubuh Aldo. Dia tidak ingin membuat semua karyawan di sana berpikiran jelek tentang dirinya.
Tolong bereskan semua ini ya!" ucap Aldo sambil menggenggam tangan Cika.
"Baik, Pak!" jawab Dira yang dengan segera mengangkat patung itu kembali di bantu yang lainnya.
Aldo menarik tangan Cika agar mengikuti langkah kakinya, dia membawa Cika menaiki anak tangga menuju lantai atas. Cika hanya terdiam tanpa bersuara mengikuti setiap langkah Aldo.
Sesampainya di lantai atas, Aldo membawa Cika ke dalam sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu adalah sebuah kamar yang biasa di gunakan Ara untuk beristirahat.
"Ngapain kita ke sini?" ucap Cika yang sedikit trauma berduaan dengan Aldo di dalam sebuah ruangan.
"Aku mau bicara sebentar." ucap Aldo sambil mengunci pintu ruangan.
"Bicaranya di luar saja ya! aku takut." ucap Cika yang mulai merasa gelisah.
"Kamu takut sama siapa? Aku ada di sini bersamamu." ucap Aldo sambil memeluk mesra tubuh Cika.
"Aku takut sama kamu." ucap Cika dengan wajah polosnya.
"Hahahaha,,,"
Aldo seketika tertawa mendengar ucapan Cika. Cika yang merasa kesal kemudian mencubit perut Aldo.
"Auuh, sakit sayang!" ucap Aldo sambil melepaskan pelukannya dan memegangi perut kotaknya itu.
"Jangan menggoda ku, sayang! Nanti tau sendiri akibatnya." ucap Aldo yang membuat wajah Cika seketika berubah menjadi merah.
Cika sejenak terdiam, dia sangat mengerti apa yang di maksud oleh Aldo.
"Sini, ikut aku!" ucap Aldo sambil menarik tangan Cika ke arah ranjang yang ada di sudut ruangan.
Cika semakin merasa cemas, jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Pikirannya sudah terbayang akan hal-hal aneh yang bisa saja di lakukan oleh Aldo kepada dirinya. Namun, Cika mencoba untuk sedikit lebih tenang agar Aldo tidak melihat kecemasan yang terpancar pada raut wajahnya.
"Sayang, apa kamu mencintai ku?" tanya Aldo sambil menatap kedua bola mata indah Cika.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" ucap Cika sedikit bingung.
"Jawab saja!" ucap Aldo yang mulai serius dengan pembicaraan mereka.
"Aku,,,"
"Kamu mencintai ku atau tidak?" tanya Aldo lagi.
Cika hanya mengangguk. Dia tidak berani untuk mengatakan perasaan nya terhadap Aldo. Dia masih di bayang-bayangi oleh pemikiran akan penolakan dari kedua orang tua Aldo.
"Jangan hanya mengangguk! Aku ingin mendengarnya langsung dari bibir manismu itu." ucap Aldo.
__ADS_1
"A,, a,, aku mencintaimu Aldo, tapi,,,"
Aldo dengan cepat merangkul tubuh indah yang ada di sampingnya itu. Dia memeluknya dengan sangat erat.
"Sudah, tidak ada alasan lagi! Aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku?" ucap Aldo sambil mengusap kepala Cika.
"Aku memang mencintaimu Aldo, tapi aku tidak bisa menjadi istrimu. Keluarga mu pasti akan menentang semua ini." ucap Cika sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldo.
"Siapa bilang?" tanya Aldo.
"Tidak ada yang bilang, tapi aku sendiri yang merasakannya. Aku hanya wanita kampung yang tidak punya apa-apa. Masih banyak wanita lain yang lebih pantas hidup bersamamu." ucap Cika sambil menahan butiran kecil di kelopak matanya.
"Tapi aku hanya mau bersamamu sayang. Aku ingin hidup bahagia denganmu dan anak-anak kita nanti." ucap Aldo sambil memegang pipi Cika.
"Tapi, Aldo,,,"
"Minggu depan kita akan menikah, dan aku akan mengurus segalanya. Kamu tidak perlu berpikir macam-macam lagi!" ucap Aldo dengan tegas.
"Hah, apa kamu sudah gila?" ucap Cika dengan mata sedikit melotot ke arah Aldo.
"Iya, aku sudah gila karena kamu Cika." ucap Aldo.
"Tapi orang tuamu,,,"
"Semua nya baik-baik saja sayang. Papa sama mama sudah memberikan restunya untuk kita berdua. Jadi kamu tidak perlu khawatir dan berpikir yang aneh-aneh lagi. Kamu tinggal mempersiapkan diri untuk membuat suamimu senang. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya." ucap Aldo sambil mengedipkan matanya, dan seketika membuat Cika merasa malu dan kembali mencubit perutnya.
"Auuh, sakit sayang! Hobi banget sih nyubitin perut aku." ucap Aldo yang meringis kesakitan.
"Hahahaha,,,"
Cika hanya tertawa melihat raut wajah Aldo yang terlihat lucu di depannya.
Aldo yang merasa kesal karena ditertawakan, dengan cepat membungkam bibir manis Cika dan ******* nya tanpa ampun. Aldo tidak memberi celah sedikitpun untuk Cika bisa menghindar.
Kring...Kring...Kring(bunyi panggilan masuk)
Aldo segera menghentikan aksinya.
Dia mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya dan segera mengangkatnya.
"Halo Sel," ucap Aldo.
"Aldo, kamu dimana?" tanya Sela.
"Aku di butik, kenapa Sel?" tanya Aldo balik.
"Cepat ke kantor! Apa kamu lupa kita ada rapat? Orang-orang sudah menunggu kamu." ucap Sela yang seketika membuat Aldo menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
"Iya Sel, aku lupa. Suruh mereka menunggu sebentar, sepuluh menit lagi aku sampai." ucap Aldo sambil bergegas mematikan ponselnya.