Hati Berdarah

Hati Berdarah
Perubahan Hans


__ADS_3

Pagi harinya, semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk melepaskan keberangkatan Alvin dan Sela menuju bandara.


Selesai sarapan bersama, Sela berpamitan kepada semua anggota keluarganya.


Raut wajah gadis cantik itupun, masih terlihat begitu gusar. Dia masih saja memikirkan sebab dan akibat yang akan dia terima, setelah bertemu laki-laki yang dia cintai nantinya.


"Sudahlah sayang, ayo jalan sekarang! Om Lukman sudah menunggu kita di bandara!" ucap Alvin kepada Sela yang masih berdiri didalam pelukan Cika.


"Pergilah Sela, jangan terlalu dipikirkan! Semua pasti akan baik-baik saja!" ucap Cika mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.


Sela melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Cika. Dia mulai melangkah kearah mobil, yang sudah menunggu untuk mengantarnya ke bandara.


Sela pun melambaikan tangannya, sesaat setelah mobil yang dia tumpangi melaju meninggalkan kediamannya.


"Jangan khawatir sayang, kita ke sana hanya untuk perjalanan bisnis. Tidak ada hubungannya dengan Hans!" ucap Alvin yang ingin membuat keponakannya itu merasa nyaman.


"Iya Om, Sela mengerti. Tapi, Sela benar-benar takut bertemu dengan Hans!" sahut Sela dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Kenapa harus takut? Jika kalian tidak memiliki hubungan apa-apa, seharusnya biasa saja kan?" ucap Alvin seakan-akan tidak mengetahui perasaan Sela yang sebenarnya terhadap Hans.


"Iya, Om benar!" sahut Sela sembari menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


Sela mulai tertegun sembari menatap kearah jendela. Tidak ada senyuman sedikitpun yang terpancar dari raut wajah cantiknya itu.


Sesampainya di bandara, ternyata Lukman sudah menunggu mereka berdua. Senyuman itupun terlihat jelas di wajah laki-laki paruh baya itu, sembari menatap kearah calon menantunya yang terlihat begitu cantik.


"Maaf Lukman, kami sedikit terlambat!" ucap Alvin kepada sahabatnya itu.


"Tidak masalah, Alvin. Kalian datang tepat pada waktunya. Ayo, pesawat kita akan segera berangkat!" ucap Lukman sembari melangkah masuk kedalam bandara.


Lukman dan Alvin berjalan beriringan. Sementara, Sela mengikuti mereka dari arah belakang. Gadis cantik itu berusaha agar terlihat tenang, diantara dua orang laki-laki yang tidak muda lagi itu.


Sesampainya didalam pesawat, mereka bertiga duduk pada barisan yang sama. Alvin duduk bersama Lukman, sementara Sela duduk sendirian sembari menatap keluar jendela.


Pesawat yang mereka tumpangi itupun mulai lepas landas, yang membuat Sela menarik nafasnya dengan panjang. Sela kemudian memejamkan matanya, menikmati perjalanan yang cukup panjang itu.

__ADS_1


Tidak terasa, waktu dua puluh lima jam berlalu begitu cepat. Pesawat yang mereka tumpangi, sudah mendarat dengan selamat di bandara Swiss.


"Ayo, turunlah sayang!" ucap Alvin kepada keponakan tersayangnya itu.


Alvin dan Lukman mulai mengayunkan kaki mereka menuruni pesawat, yang sudah mengantarkan mereka menemui cinta gadis cantik itu. Sela pun mulai melangkah, menyusul mereka berdua turun dari pesawat.


Sesampainya di ruang tunggu, ternyata Hans sudah berdiri dengan gagah menanti kedatangan papanya. Hans sangat terkejut melihat kehadiran Alvin dan gadis yang dia cintai yang tengah berjalan di belakang papanya.


Hans sama sekali tidak menyangka kalau papanya akan datang bersama Alvin dan juga Sela.


Tatapan mata laki-laki itu sejenak membuatnya terpaku, tanpa bisa berucap sepatah katapun.


"Hans, kenapa bengong?" sapa Lukman yang membuat Hans langsung mengalihkan pandangannya.


"Tidak apa-apa Pa! Kenapa kalian bisa datang secara bersamaan?" tanya Hans mencari tau.


"Om Alvin dan Sela adalah rekan bisnis Papa! Ada yang salah jika kami datang bersama?" tanya Lukman sembari tersenyum kepada putranya itu.


"Ti... Tidak Pa. Selamat datang ya Om. Ayo ikut denganku, kalian pasti sudah sangat kelelahan!" ucap Hans sembari melangkah tanpa menyapa Sela sepatah katapun.


Bahkan didalam perjalanan menuju apartemen pun, laki-laki itu tak menatap kearah Sela sama sekali. Sikap Hans itu membuat Sela semakin merasa bersalah atas kejadian tempo hari.


Sesampainya di apartemen, Hans membantu membawakan koper Alvin dan papanya. Namun, Hans sama sekali tidak memandang Sela, yang sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Ayo Pa, Om, masuklah!" ucap Hans mempersilahkan dua laki-laki tampan itu masuk kedalam apartemennya.


Setelah mereka semua masuk kedalam apartemen, Hans kemudian menunjukkan kamar mereka masing-masing kepada tamu-tamunya itu.


"Disini cuma ada tiga kamar. Om tidur dikamar ini saja!" ucap Hans sembari membukakan pintu kamar itu untuk Alvin.


"Terimakasih, Hans!" sahut Alvin sembari masuk kedalam kamar tersebut.


"Om istirahat lah dulu, nanti Hans akan kembali lagi!" ucap Hans sembari berlalu meninggalkan Alvin di kamar itu.


Hans kembali berjalan menghampiri Sela. Dia sama sekali tidak mau banyak bicara di hadapan wanita yang sudah menolaknya mentah-mentah itu. Dia hanya berniat mengantarkan gadis itu, menuju kamar yang akan Sela tempati.

__ADS_1


"Ikutlah denganku!" ucap Hans dengan dinginnya.


Hans melangkah menuju kamar kosong lainnya, dengan gaya yang begitu cuek. Sela hanya terdiam, sembari mengikuti langkah kaki laki-lakinya itu.


"Masuklah, istirahatlah dikamar ini!" ucap Hans yang kemudian segera berlalu meninggalkan Sela sendirian.


Hans bahkan tidak memberikan kesempatan sedikitpun, untuk Sela mengucapkan terimakasih kepadanya.


Dengan raut wajah penuh kekecewaan, Sela melangkah masuk kedalam kamar itu. Sikap Hans kepadanya, benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.


Sela membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tatapan mata gadis itu jelas sekali menunjukkan, kalau dirinya sangat merindukan sosok Hans yang seperti sebelumnya.


Dikamar lain, Hans tengah duduk bersama papanya. Laki-laki itu mengungkapkan keterkejutannya atas kedatangan Sela yang begitu tiba-tiba.


"Pa, ada apa ini? Kenapa Papa membawa gadis itu kemari?" ucap Hans menuntut penjelasan dari papanya.


"Dia itu calon menantu Papa. Apa salahnya membawa Sela kesini?" sahut Lukman penuh percaya diri.


"Pa, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa. Hans sudah berjuang begitu keras melupakannya dalam sebulan ini. Kenapa Papa malah membuat Hans semakin sulit untuk melupakannya?" ucap Hans dengan binar bening yang sudah tergenang di kelopak matanya.


"Tidak ada yang namanya melupakan, kalian berdua akan bersatu!" sahut Lukman penuh keyakinan.


"Pa, tolong mengertilah. Dia tidak menyukai Hans. Jangan memperkeruh suasana seperti ini!" ucap Hans memohon kepada papanya.


"Kalian berdua itu sebenarnya saling mencintai. Hanya saja kalian terlalu keras kepala!" sahut Lukman yang tetap teguh dengan pendiriannya.


"Terserah Papa saja! Tapi, Hans sudah yakin dengan keputusan Hans. Hans sudah melupakan cinta itu. Tidak akan ada apa-apa diantara kami berdua!"


Hans berlalu meninggalkan kamarnya dan duduk menyendiri di ruang tamu. Laki-laki itu benar-benar marah dengan keputusan papanya, yang tidak memikirkan perasaannya sama sekali.


Siang harinya, semua orang keluar dari kamar masing-masing. Termasuk Sela yang saat itu baru saja selesai membersihkan dirinya.


"Kalian sudah bangun? Ayo, makan dulu. Bibi sudah menyiapkan makan siang untuk kita!" ucap Hans sembari melangkah kearah meja makan.


Suasana makan siang mereka pun terasa begitu hening. Hans bahkan tidak menatap Sela sedikitpun. Dia hanya fokus menikmati makanannya, tanpa berucap sepatah katapun.

__ADS_1


Selesai makan, Hans kembali kedalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya. Dia kemudian keluar menggunakan pakaian santai dan hendak pergi mencari angin segar diluar sana.


__ADS_2