
Tidak berselang lama, Sela pun mengayunkan kakinya kearah dua orang laki-laki tampan yang masih duduk di ruang tamu itu.
"Om Alvin, Om Lukman, ayo sarapan dulu!" ajak Sela dengan lemah lembut.
Alvin dan Lukman bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua melangkah kearah meja makan untuk menikmati sarapan pagi mereka.
"Sela, tolong panggil Hans di kamarnya ya Nak!" pinta Lukman.
"Baik Om!" sahut Sela sembari melangkah meninggalkan meja makan.
Dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup, pelan-pelan Sela mulai mengetuk pintu kamar Hans.
"Tok...Tok...Tok..."
"Siapa?" tanya Hans dari dalam kamar.
"Aku Hans." sahut Sela dari balik pintu.
"Masuklah, tidak di kunci!" ucap Hans yang tengah berdiri di depan cermin.
Dengan perasaan sedikit ragu-ragu, Sela kemudian mendorong pintu kamar dan maju beberapa langkah .
"Hans, Om Lukman menyuruhku memanggilmu untuk sarapan bersama!" ucap Sela yang terlihat sedikit gelisah.
"Baiklah, aku juga sudah selesai!" sahut Hans sembari mendekat kearah Sela.
"Aku tunggu di luar ya!"
Sela memutar kembali tubuhnya, hendak meninggalkan kamar Hans. Namun langkah Sela tiba-tiba terhenti, saat Hans menahan tangan gadis cantik itu.
"Kenapa terburu-buru Sela? Tunggu sebentar!" ucap Hans sembari tersenyum dan menggenggam tangan Sela dengan erat.
"Lepaskan aku, Hans! Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Ada apa lagi?" ucap Sela sembari menoleh kearah laki-lakinya itu.
"Aku sangat merindukanmu, Sela!"
Hans menyentuh wajah Sela dengan kedua tangannya. Dia semakin mendekat hingga hembusan nafasnya terasa begitu nyata di wajah Sela.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu, tiba-tiba saja Sela merasa begitu nyaman dan menutup kedua matanya dengan perlahan. Hembusan nafas mereka berdua pun saling beradu satu sama lain.
Hans mulai mengecup bibir Sela dan melahap bibir manis itu dengan penuh perasaan. Luma*an demi luma*an pun mulai terasa di bibir Sela yang masih tingting itu.
Pengalaman pertama berciuman bibir itupun membuat Sela hanya terdiam tanpa berani membalas luma*an Hans.
"Sela, kenapa kamu diam saja?" tanya Hans yang mulai melepaskan luma*annya dari bibir Sela.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana Hans? Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya!" sahut Sela dengan polosnya.
Melihat kepolosan di wajah wanitanya itu, Hans kemudian tersenyum sembari menyentuh wajah Sela dengan lembut.
"Ikuti saja caraku!" ucap Hans sembari mendekati bibir Sela kembali.
Hans kembali menautkan bibir mereka berdua. Pelan-pelan Hans mulai melahap bibir Sela dan menghisapnya dengan lembut. Begitupun dengan Sela yang mulai terpengaruh dan mengikuti permainan Hans.
Merasa aneh dengan permainannya sendiri, Sela pun bergegas memalingkan wajahnya dari hadapan Hans.
"Kenapa berhenti Sela?" tanya Hans sembari menempelkan hidungnya di pipi Sela.
"Sudahlah Hans, aku benar-benar tidak bisa!" sahut Sela sembari menundukkan kepalanya.
"Bukannya tidak bisa, tapi kamu tidak berani mencobanya!" ucap Hans dengan nafas yang terdengar masih memburu.
"Kamu sepertinya sudah sangat berpengalaman sekali, Hans!" ucap Sela dengan tatapan mencari tau.
"Tidak Sela, ini juga pertama kalinya bagiku!" sahut Hans dengan jujurnya.
"Sudahlah, ayo keluar. Tidak enak dengan Papa kamu, kalau kita lama-lama disini!" ajak Sela sembari melangkah kearah pintu.
Hans hanya bisa tersenyum menatap punggung Sela yang mulai menjauh dari pandangannya. Dia kemudian mengayunkan kakinya dan berjalan menyusul Sela yang sudah lebih dulu tiba di meja makan.
Sela dan Hans duduk bersebelahan di meja makan. Mereka semua mulai menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja.
"Ke kantor Pa, ada pekerjaan yang harus Hans selesaikan!" sahut Hans sembari melahap makanannya.
"Besok lusa kami sudah harus pulang ke Jakarta. Apa kamu benar-benar tidak mau kembali?" tanya Lukman mencari tau.
"Entah lah Pa, semuanya tergantung Sela!" sahut Hans sembari melirik kearah gadis cantik yang duduk di sebelahnya itu.
"Loh, apa hubungannya dengan aku?" sambung Sela dengan tatapan yang terlihat sedikit aneh.
"Tentu saja ada hubungannya. Om ingin kamu segera menikah. Kalau kalian tidak bisa mewujudkannya, tidak masalah. Om akan mencarikan calon suami untuk kamu setelah sampai di Jakarta nanti!" ucap Alvin dengan santainya.
Sebelum Sela dan Hans keluar dari kamar, Alvin dan Lukman sudah lebih dulu mengatur siasat untuk menyatukan mereka secepat mungkin. Tidak ada jalan lain lagi selain memanas-manasi mereka berdua.
Hans terlihat begitu marah setelah mendengar ucapan dari mulut Alvin. Mata laki-laki itu mulai terlihat memerah menahan kekesalan yang sedang menggerogoti jantungnya.
"Jangan Om, Sela tidak mau menikah dengan orang yang tidak Sela sukai!" ucap Sela menolak permintaan Alvin.
"Kamu itu kan tidak menyukai laki-laki manapun, jadi tidak ada salahnya menikah tanpa adanya cinta. Nanti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya!" ucap Alvin sembari melirik kearah Lukman.
"Terima saja Sela, lagian tidak ada juga laki-laki yang mencintai kamu kan?" tambah Lukman yang ikut-ikutan memanasi putranya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Papanya yang mendukung Sela menikah dengan orang lain, Hans pun terlihat semakin geram. Dia mulai mengepalkan kedua tangannya dan memukulkannya di permukaan meja dengan kuat.
"Cukup!" bentak Hans dengan tatapan penuh kemarahan.
"Hans, apa-apaan kamu ini? Jaga sikapmu itu!" ucap Lukman yang sebenarnya sangat senang melihat ekspresi putranya itu.
"Tidak ada seorang pun yang boleh menikah dengan Sela!" ketus Hans dengan sangat jelas.
"Kenapa tidak boleh? Memangnya kamu siapanya Sela, pakai acara melarang segala?" ucap Lukman dengan santainya.
"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh!" bentak Hans dengan lantangnya.
Melihat reaksi Hans yang begitu berlebihan, Alvin dan Lukman pun akhirnya tertawa terkekeh-kekeh.
"Hahahaha...Hahahaha..."
"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Hans dengan tatapan kebingungan.
"Kalau kamu tidak mau melihat Sela menikah dengan orang lain, kenapa tidak kamu saja yang menikahinya?" ucap Lukman yang mulai terlihat serius.
"Baiklah, aku akan ikut pulang dengan kalian. Aku akan menikahi Sela, lebih cepat lebih baik!" sahut Hans dengan begitu yakinnya.
Sela membulatkan matanya sesaat setelah mendengar ucapan Hans. Dia menoleh kearah Hans dan menatap wajah laki-lakinya itu dengan tatapan yang sulit di mengerti.
Sadar akan tatapan wanita yang duduk di sebelahnya itu, Hans pun membalas tatapan itu hingga mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Hans menggenggam tangan Sela dari bawah meja. Semakin Sela terlihat gelisah, semakin kencang pula Hans menggenggam tangan wanitanya itu.
"Semua tergantung kalian berdua. Ohya, kamu tidak perlu datang ke kantor, biar Papa sama Om Alvin saja yang pergi. Kalian pergilah jalan-jalan!" ucap Lukman sembari bangkit dari tempat duduknya.
Lukman dan Alvin melangkah meninggalkan apartemen. Raut wajah mereka berdua tampak begitu bahagia, setelah Hans mengungkapkan keyakinannya untuk menikahi Sela.
"Hans, apa yang kamu katakan tadi? Kamu bercanda kan?" tanya Sela yang menganggap ucapan Hans tadi hanyalah guyonan semata.
"Tidak Sela, aku serius. Kau adalah wanitaku, dan kau hanyalah milikku. Menikahlah denganku, aku mohon!" pinta Hans sembari berjongkok di bawah kaki Sela.
"Bangun Hans, jangan seperti ini!" ucap Sela.
Bukannya bangun, Hans malah melingkarkan tangannya di pinggang Sela yang masih terduduk di kursi. Dia juga merebahkan kepalanya tepat di atas paha gadis cantik itu.
"Apa kamu masih ingin menolak ku?" tanya Hans sekali lagi.
"Tidak Hans, aku sudah melakukan kesalahan waktu itu. Aku tidak akan mengulanginya lagi!" sahut Sela sembari mengusap kepala Hans dengan lembut.
"Apa itu artinya kamu mau menerimaku?" tanya Hans sembari menengadahkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya Hans, aku mau menikah dengan kamu!" sahut Sela sembari tersenyum lepas.