
Setelah memastikan sendiri kebenaran tentang adik ipar yang sekaligus adik sepupu dari istrinya itu, Ilham bertekad untuk membantu Aldo menemukan keberadaan Cika.
Ilham tidak tega melihat adiknya yang begitu terpuruk sepeninggal istrinya. Apalagi Mila juga sangat sedih setelah mengetahui kalau wanita yang jadi adik iparnya itu adalah wanita yang dia cari selama ini.
"Sayang, Cika itu adikku! Hanya dia keluargaku yang tersisa saat ini. Tolong, bantu aku untuk menemukannya! Dia juga berhak atas semua harta yang aku miliki ini! Hiks,,, hiks,,, hiks!" Mila menangis di pelukan suaminya.
"Kamu tidak perlu khawatir, sayang! Kita akan menemukannya! Kamu tidak boleh banyak pikiran dulu! Ingat, anak kita juga akan sedih jika kamu menangis seperti ini!" ucap Ilham sembari mengusap perut buncit istrinya.
"Iya, aku tidak akan menangis lagi! Tapi kamu janji ya, harus secepatnya menemukan Cika untukku!" ucap Mila yang sudah merasa sedikit tenang.
"Iya, aku janji! Cup,,, cup,,, cup." sahut Ilham sambil mencium kening dan pipi istrinya.
Ilham dan Mila kembali ke kediaman Alvin. Tidak lupa juga, mereka membawa beberapa foto ayah Cika yang mereka ambil didalam album yang mereka lihat tadi.
Setelah sampai di kediaman Alvin, mereka memilih untuk beristirahat didalam kamar sembari menunggu waktu makan malam tiba.
Pukul 19.00 malam, mereka semua keluar dari kamar masing-masing untuk makan malam bersama.
"Ma, Pa! Ada yang ingin Ilham sampaikan!" ucap Ilham yang memulai pembicaraan mereka.
"Ada apa, sayang?" tanya Ara kepada putra sulungnya.
"Masalah Cika, Ma!" tambah Mila yang mulai terlihat sedih.
Aldo yang terkejut mendengar nama istrinya, segera melirik kearah Mila dan Ilham secara bergantian.
"Ada apa dengan Cika, Nak? Apa kamu sudah mengetahui keberadaan adik ipar mu itu?" sambung Alvin yang mulai penasaran dengan apa yang akan dikatakan putra sulungnya.
"Tidak, Pa! Tapi ini mengenai siapa Cika sebenarnya?" ucap Ilham yang membuat semua orang menatap bingung ke arahnya.
"Apa maksud kakak? Tolong, bicara yang jelas!" tegas Aldo dengan tatapan menuntut penjelasan dari kakaknya.
"Kalian lihatlah foto ini!" ucap Ilham sembari meletakkan beberapa foto di atas meja makan.
Aldo yang sangat penasaran, segera mengambil foto itu dan seketika membulatkan kedua matanya.
"Ini, foto ayah Cika! Kenapa kakak memilikinya?" tanya Aldo yang begitu bingung dengan maksud Ilham sebenarnya.
"Iya, kamu benar! Itu foto ayahnya Cika. Namanya Om Benny, dia adalah adik dari papa mertua kakak." ucap Ilham yang membuat semua orang terbelalak saking kagetnya mendengar ucapan Ilham.
"Maksud Kak Ilham, Cika itu sepupunya Kak Mila?" tanya Sela yang seperti tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Kamu benar sekali, Dek!" ucap Ilham yang membenarkan perkataan Sela barusan.
Sejenak ruangan itu terasa begitu hening mencekam, tidak ada satu orangpun yang bersuara setelah mengetahui kebenaran tentang Cika. Agak sulit diterima, tapi memang begitu kenyataannya.
"Kamu jangan putus asa, Aldo! Kakak akan membantu mencari keberadaan Cika! Bila perlu, kakak akan mengutus beberapa orang untuk mencari keberadaan Cika secepatnya. Cika tidak hanya penting bagimu, tapi juga penting buat kakak ipar mu!" sambung Ilham yang sangat yakin bisa menemukan Cika.
"Kakak tenang saja! Sela juga akan membantu mencari Cika. Sela sangat merindukannya!" tambah Sela yang sangat sedih dengan kepergian Cika.
Setelah selesai makan malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Seminggu kemudian, tepat 3 bulan kehamilan Cika
Cika tengah berada di sebuah rumah sakit untuk mengecek kandungannya.
"Bagaimana, Dokter Hana? Apa janin saya baik-baik saja?" tanya Cika yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan.
"Janin Ibu Cika sehat, tidak ada yang perlu di khawatirkan! Ibu Cika hanya perlu menjaga janin ini dengan baik. Kurangi pekerjaan yang berat, dan tidak boleh banyak pikiran!" ucap Dokter Hana memberi penjelasan kepada Cika.
"Terimakasih, Dok!" sahut Cika yang merasa senang melihat perkembangan janin yang sedang tumbuh didalam kandungannya.
Disaat yang bersamaan, Ilham dan keluarganya tengah berada di rumah sakit yang sama untuk menunggu Mila yang akan segera melahirkan.
Mereka semua sedang menunggu didepan ruang bersalin menanti Mila yang tengah berjuang melahirkan anak pertamanya.
Dari kejauhan, Sela seperti melihat seseorang yang sangat dia kenal keluar dari ruangan Dokter kandungan.
"Cika...??? Benar sekali, itu Cika!" batin Sela sembari berlari mengejarnya kearah pintu keluar rumah sakit.
"Cika...!" teriak Sela yang sama sekali tidak sampai ke telinga Cika.
Setelah selesai konsultasi dengan Dokter Hana, Cika keluar meninggalkan rumah sakit dan masuk kedalam sebuah mobil. Tidak lama mobil itupun menghilang meninggalkan rumah sakit.
"Aish... Wanita itu benar-benar, Cika! Aku sangat mengenalinya, tidak mungkin salah lihat!" gumam Sela yang sedikit kecewa karena tidak berhasil menghentikan sahabatnya itu.
Dengan perasaan kecewa, Sela langsung berlari menuju ruang bersalin untuk menemui keluarganya.
"Tante, Aldo, Kak Ilham! Huh,,, huh," Sela hampir saja kehabisan nafas, dia harus berlari pontang panting untuk memberitahu keluarganya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ara yang heran melihat raut wajah ponakannya yang seperti dikejar hantu.
"A... Aku... Huft,"
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Aldo sembari mengerutkan keningnya.
"A... Ada Ci... Cika, a... aku melihatnya barusan!" Sela tidak bisa berucap dengan benar karena masih merasakan sesak di dadanya.
"Apa? Dimana? Cika dimana?" tanya Aldo yang merasa jantungnya seperti berhenti berdetak saking kagetnya.
"Sayang, dimana kamu melihat Cika?" tanya Ara sembari melotot tajam kearah Sela.
"Dia sudah pergi, Tan! Tadi Sela sudah berusaha mengejarnya, tapi Cika sudah lebih dulu pergi menaiki sebuah mobil." jelas Sela yang masih terengah-engah mengatur nafasnya.
Tanpa berpikir, Aldo berlari keluar rumah sakit untuk memastikan perkataan Sela. Aldo mencari keberadaan Cika ke sana kemari, tapi tidak menemukan jejak Cika sama sekali.
"Sayang, kamu dimana?" gumam Aldo yang terduduk lemas di gerbang rumah sakit.
Tidak lama, Aldo kembali menemui keluarganya dengan raut wajah lesu dan penuh kekecewaan.
"Bagaimana, sayang?" tanya Ara sembari memeluk putranya yang sudah terlihat lemas.
Aldo tidak menjawab pertanyaan mamanya, dia hanya menggelengkan kepalanya sembari terduduk lesu dilantai rumah sakit.
"Kamu harus kuat, Aldo! Kalau memang yang dilihat Sela itu adalah Cika, berarti kita masih ada harapan untuk menemukannya!" ucap Ilham menenangkan adiknya.
"Oh iya, Sela ingat! Sela tadi tidak sengaja melihat Cika keluar dari ruangan Dokter." ucap Sela dengan sangat yakin.
"Apa Cika sakit?" tanya Ara mencemaskan menantunya itu.
Mendengar perkataan Sela, Aldo kembali bangkit dari lantai dengan raut wajah sedikit bersemangat.
"Ruangan Dokter yang mana? Aku harus mencari tau sendiri!" ucap Aldo yang merasa memiliki secercah harapan untuk mengetahui keberadaan istrinya.
"Kayaknya ruangan Dokter kandungan." ucap Sela sedikit ragu.
"Kamu yakin, kenapa Cika menemui Dokter kandungan?" tanya Aldo yang mulai penasaran.
"Sepertinya." sahut Sela yang sebenarnya tidak terlalu yakin dengan ucapannya.
Dengan cepat Aldo menarik tangan Sela dan membawanya kearah ruangan Dokter yang baru saja dikatakan oleh Sela.
"Ruangan mana?" tanya Aldo yang sudah berada didepan beberapa pintu ruangan.
"Ini..." ucap Sela sambil menunjuk pintu sebuah ruangan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Aldo langsung masuk kedalam ruangan itu disusul oleh Sela di belakangnya.