Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 25. Tercium Bau Pelakor


__ADS_3

Aldo terlihat sedikit panik karena tidak sengaja melupakan jadwal rapat pagi ini di kantornya. Dia bergegas memasukkan ponsel ke saku celananya, dan berjalan menuju pintu.


"Sayang, aku akan segera ke kantor. Aku lupa kalau ada rapat hari ini." ucap Aldo sambil membuka pintu ruangan itu.


"Iya, ayo, cepat turun!" ucap Cika sambil mengikuti Aldo dari belakang.


Aldo menggenggam tangan Cika dan membimbingnya menuruni anak tangga sampai ke pintu masuk butik.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Nanti pulang dari kantor aku jemput." ucap Aldo sambil mencium kening Cika.


"Iya, hati-hati ya!" ucap Cika yang merasa sedikit malu di perhatikan oleh karyawan lain.


Aldo melangkah memasuki mobil dan melaju meninggalkan butik.


Cika pun kembali ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Cika, kamu di panggil Buk Ara." ucap Putri dengan wajah sedikit bingung.


"Ada apa?" tanya Cika yang mulai merasa takut.


"Gak tau," jawab Putri sambil mengangkat bahunya.


Cika mulai merasa gelisah, dia melangkah memasuki ruangan Ara dengan kaki yang sedikit bergetar.


"Tante memanggil Cika?" tanya Cika sedikit gugup.


"Iya sayang, sini duduk di sebelah tante!" ucap Ara yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa Tan?" tanya Cika lagi.


Cika duduk disebelah Ara, wajahnya terlihat pucat karena berpikir kalau Ara akan memarahinya karena berduaan dengan Aldo di lantai atas tadi.


"Sayang, ini ada contoh beberapa gaun pengantin. Kamu suka yang mana?" tanya Ara sambil memperlihatkan beberapa rancangan miliknya.


"Untuk siapa Tan? Kok tante nanya pendapat Cika?" tanya Cika balik yang merasa sedikit bingung.


"Untuk kamu sayang, memangnya siapa lagi?" ucap Ara sambil tersenyum ke arah Cika.


"Apa? Untuk Cika?" tanya Cika lagi sedikit tegang.


"Hahahaha, kamu kenapa sih sayang? Kok jadi tegang begini." ucap Ara sambil tertawa.

__ADS_1


"Tapi Tan,,,"


"Pilih saja! Nanti Tante yang akan mengurusnya." ucap Ara dengan santai.


"Tapi, ini semua terlalu mewah untuk Cika Tan." ucap Cika.


"Kamu akan menjadi istri Aldo, kamu harus tampil cantik di pesta pernikahan kalian nanti. Ini adalah momen penting untuk kalian berdua, cuma sekali seumur hidup sayang. Jadi kalian harus tampil seperti Raja dan Ratu di hari itu." ucap Ara memperjelas perkataan nya.


"Sesuai keinginan tante saja. Semuanya bagus, jadi Cika akan mengenakan gaun manapun yang tante pilihkan untuk Cika." ucap Cika yang merasa terharu.


"Baiklah, tante sudah punya beberapa gaun yang sedang di kerjakan oleh penjahit. Lusa kalian sudah bisa fitting dan sekalian melakukan foto prewed. Tapi mulai besok kamu tidak usah ke butik dulu, kamu harus mempersiapkan semuanya untuk hari bahagia kamu." ucap Ara.


"Iya Tante," ucap Cika.


"Satu lagi sayang, mulai sekarang kamu gak usah panggil Tante lagi. Belajar panggil Mama ya, seperti Aldo. Kamu akan menjadi bagian dari keluarga kita. Bukan hanya menantu, tapi kamu akan menjadi anak perempuan Mama." ucap Ara.


"Iya Tante, eh Mama." ucap Cika sambil berkaca-kaca.


Ara memeluk Cika dengan penuh kasih sayang. Cika membalasnya sambil meneteskan air mata.


"Sudah, gak usah nangis! Sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya Aldo, kamu harus berbahagia. Gak boleh ada air mata lagi!" ucap Ara sambil menyeka air mata di pipi gadis cantik itu.


"Iya Ma, terimakasih ya, Ma." ucap Cika.


Kepergiannya dari rumah, mengubah takdir hidupnya dalam waktu singkat.


Mendapatkan sahabat yang baik, calon suami yang tampan, dan orang-orang yang menyayanginya dengan sepenuh hati.


"Ma, Cika keluar dulu ya! Cika mau bantuin Putri dan yang lainnya. Ada banyak pengunjung di luar sana." ucap Cika.


"Iya sayang, tapi kamu jangan sampai kelelahan ya. Nanti kamu sama Aldo harus pergi ke rumah Ilham. Kalian harus meminta restu kepada Ilham dan istrinya." ucap Ara.


"Baik, Ma!" jawab Cika sambil berjalan meninggalkan ruangan Ara.


Ara kembali melakukan pekerjaannya, dia juga harus mengurus segala keperluan untuk persiapan pernikahan putra bungsunya.


Cika yang berada di luar, melayani semua pengunjung dengan ramah dan senyum yang sangat manis.


Semua karyawan butik pun kagum melihat sikap Cika termasuk Putri.


Sementara itu, di kantor Aldo sudah berada di ruang rapat bersama rekan-rekannya. Termasuk Melia yang sedang menggantikan posisi ayahnya yang sedang keluar kota.

__ADS_1


Karena mereka semua sudah berkumpul, rapat pun segera di mulai. Semua berjalan sesuai keinginan.


Namun di tengah-tengah rapat yang sedang berlangsung, Melia hanya menatap ke arah Aldo. Dia berpikir akan mendekati Aldo setelah rapat selesai.


Sela yang melihat Melia hanya memperhatikan Aldo merasa jijik dengan gadis itu. Dia sama sekali tidak suka dengan gadis yang duduk di depannya itu.


Rapat selesai, semua orang meninggalkan ruangan dengan wajah bahagia karena puas dengan hasil yang mereka terima. Tidak dengan Melia yang masih berada di ruangan itu bersama Aldo dan Sela.


Melia mulai mendekati Aldo, dia mencoba untuk meraih tangan Aldo. Namun dengan cepat Sela menghadangnya.


"Aldo! Pekerjaan kamu sudah selesai kan? Pergilah sekarang! Calon istrimu sedang menunggu." ucap Sela dengan suara sedikit lantang.


Melia yang mendengar perkataan Sela, merasa sedikit kesal dan bergegas melangkah meninggalkan mereka berdua.


"Dasar wanita tidak tau malu!" ucap Cika dengan nada sedikit tinggi.


"Kamu kenapa Sel?" tanya Aldo sedikit bingung.


"Aku jijik melihat wanita itu, dari tadi bukannya mengikuti rapat. Tapi dia malah asik memandangi kamu." ucap Sela.


"Biarkan saja! Aku bahkan tidak menanggapinya sama sekali." jawab Aldo.


"Kamu harus hati-hati dengan wanita itu, dia bisa saja menghancurkan hubungan mu dengan Cika." ucap Sela memperingatkan Aldo.


"Iya, aku mengerti." ucap Aldo dengan santai.


Tanpa mereka sadari, ternyata Melia menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Melia pun segera pergi sebelum di ketahui oleh Aldo dan Sela yang mulai melangkah meninggalkan ruangan.


"Cika siapa yang mereka maksud? Apa gadis yang berada di rumah Aldo malam itu?" batin Melia sambil berlalu meninggalkan kantor Aldo.


Sela kembali ke ruangannya. Sementara Aldo pergi meninggalkan kantor untuk kembali ke butik menjemput Cika.


Di dalam perjalanan menuju butik, Aldo hanya terdiam sambil fokus menyetir mobil yang di kemudikan nya.


Di butik, Cika masih saja dengan semangat melayani setiap pengunjung yang datang. Hari ini lumayan ramai sehingga Cika merasa sedikit kelelahan.


"Cika, kamu istirahat saja dulu! Biar aku yang melayani mereka." ucap Putri yang merasa kasihan melihat Cika yang dari tadi mondar-mandir melayani pelanggan.


"Gak apa-apa Put! Aku senang melakukan semua ini." ucap Cika yang tidak menyadari kalau Aldo sudah berada di belakangnya.


Putri kembali mendekati Cika sambil berbisik di telinga Cika.

__ADS_1


"Sudah Cika, biar aku saja! Ada Pak Aldo di belakangmu."


Cika merasa kaget dengan perkataan Putri, dia pun segera membalikkan tubuhnya. Cika kemudian tersenyum melihat Aldo yang sudah berdiri di hadapannya.


__ADS_2