
Aldo segera mengikuti langkah kaki petugas hotel itu menuju ruangan cctv. Dia bahkan sama sekali tidak bersuara. Tatapannya sudah sangat menakutkan seperti harimau yang siap menerkam mangsa yang ada di depannya.
"Ini Pak Aldo." ucap petugas hotel sambil memperlihatkan rekaman cctv bagian belakang.
"Wahyu?" gerutu Aldo yang dari tadi memang sudah menaruh rasa curiga padanya. Aldo semakin tersulut emosi setelah melihat rekaman cctv yang ada di hadapannya.
"Dasar bajingan, beraninya dia melakukan semua ini. Akan ku habisi kau jika terjadi sesuatu kepada Cika!" gerutu Aldo yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Sementara itu, petugas hotel kembali memeriksa cctv di ruangan lainnya. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat Wahyu membawa Cika dengan paksa memasuki sebuah kamar di lantai 3.
"Kamar 105 Pak Aldo." tegas petugas hotel sambil mengotak-atik komputer di ruangan itu.
Aldo yang sudah tidak mampu lagi mengontrol emosi dalam dirinya, segera berlari menuju lift untuk naik ke lantai atas. Namun sayangnya lift yang akan dia naiki tidak kunjung terbuka.
Tidak mau mengambil resiko, Aldo pun bergegas berlari menuju anak tangga. Dengan nafas yang sudah terengah engah Aldo berusaha untuk secepatnya sampai di lantai atas. Walau sebenarnya Aldo sendiri sudah merasa cukup lelah karena tadi dia sempat mengkonsumsi minuman beralkohol. Tapi Aldo tidak mau menyerah begitu saja. Dia harus kuat demi orang yang dia cintai.
Sementara itu, Cika yang sudah berada di dalam kamar hotel tidak berdaya untuk melawan Wahyu. Cika berusaha meronta ronta tapi kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki bejat itu. Cika hanya bisa menangis berteriak meminta pertolongan.
"Tolong lepaskan aku, aku mohon! Hiks...Hiks..." ucap Cika sambil terus menangis mengharap belas kasihan dari Wahyu.
"Jangan menangis sayang!" balas Wahyu sambil membuka pakaiannya.
"Kita akan bersenang-senang malam ini, jangan takut. Semuanya akan terasa nikmat kalau kamu tidak menolaknya!" tegas Wahyu sambil mendekat ke arah Cika.
"Tolong jangan lakukan ini!" ucap Cika yang mencoba menjauhkan dirinya dari Wahyu.
Wahyu yang sudah dikuasai nafsu bejatnya sama sekali tidak mau mendengarkan permintaan Cika. Di otaknya cuma memikirkan kesenangan sesaat yang akan didapatkannya dari Cika.
"Puaskan dulu aku malam ini, setelah itu kamu boleh pergi!" ucap Wahyu dengan senyum sinisnya sambil menarik tangan Cika.
"Aku bukan wanita seperti itu!" tegas Cika sambil melayangkan tangannya ke wajah Wahyu.
"Berani-beraninya kau menampar wajahku." teriak Wahyu yang semakin emosi dan menghempaskan tubuh Cika ke atas kasur.
Wahyu yang sudah semakin berhasrat ingin mencicipi tubuh indah Cika, bergegas menarik paksa pakaian yang Cika gunakan.
Pakaian Cika pun robek seketika yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang begitu menggoda di hadapan Wahyu.
__ADS_1
Wahyu yang sudah semakin berhasrat melihat tubuh Cika, dengan cepat menaiki tubuh indah wanita malang itu dan memaksa Cika untuk melayaninya.
"Tolong..."
"Braaak..."
Terdengar bunyi pintu yang sedang dibuka paksa dari arah luar. Aldo berusaha mendobrak pintu tersebut sekuat tenaganya.
Aldo bergegas berlari masuk ke dalam kamar. Hatinya begitu panas melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya itu.
Dia dengan cepat menghajar si bajingan Wahyu sejadi-jadinya. Aldo memukul Wahyu tanpa ampun sampai bajingan itu tersungkur di atas lantai.
Sementara itu, Cika bergerak ke arah sudut kamar dan menutup tubuhnya menggunakan tirai jendela.
Aldo bergegas mengambil vas bunga yang ada di atas lemari tv. Dia benar-benar seperti seekor harimau yang sudah lama tidak diberi makan dan berniat untuk menghabisi bajingan itu dengan tangannya sendiri.
Namun disaat Aldo ingin mengakhiri hidup si bajingan itu, tiba-tiba Cika berteriak dengan histeris.
"Jangaaaaaaan..."
"Tolong jangan lakukan itu Aldo, jangan korbankan masa depanmu karena bajingan itu!" teriak Cika kembali untuk menyadarkan Aldo.
"Tolong pastikan bajingan ini membusuk di dalam penjara!" tegas Aldo kepada petugas hotel yang melangkah meninggalkan mereka.
Aldo mengambil selimut dan berjalan mendekati Cika yang masih menangis di sudut kamar. Cika masih trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami. Dia terus saja menangis tanpa bisa berkata-kata.
Aldo duduk di sebelah Cika dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Melihat Cika yang masih menangis, Aldo pun segera mendekap tubuh wanita yang dia cintai itu dan menyandarkan kepala Cika ke dada bidangnya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ada aku disini!" ucap Aldo sambil membelai rambut Cika.
"Terima kasih," balas Cika yang merasa begitu nyaman berada di dalam pelukan Aldo.
Di ruangan lain, Sela sedang sibuk mencari keberadaan Cika. Raut wajahnya sudah mulai terlihat panik karena tidak menemukan sahabatnya itu dimana-mana.
"Drrrt... Drrrt..."
"Sela menelpon," ucap Aldo sambil melihat layar ponselnya.
__ADS_1
"Tolong jangan kasih tau Sela, aku mohon. Aku tidak mau Sela khawatir!" pinta Cika kepada Aldo dengan wajah memelas.
"Halo Sela, ada apa?" tanya Aldo dengan santai dibalik panggilan yang sedang terhubung.
"Kamu dimana Aldo? Cika gak ada disini, aku khawatir terjadi apa-apa sama Cika. Dia itu masih baru di sini!" jelas Sela dengan suara yang terdengar sedikit panik.
"Gak perlu khawatir Sela, Cika sedang bersamaku. Kamu pulang saja dulu ke apartemen, Cika aman bersamaku!" ucap Aldo meyakinkan Sela kalau Cika baik-baik saja bersamanya.
"Ya sudah, tolong jaga Cika baik-baik ya. Jangan sampai melakukan hal yang aneh-aneh. Ingat Cika itu sahabatku dan sudah aku anggap sebagai adikku sendiri!" ketus Sela sambil berjalan meninggalkan hotel.
"Iya, iya, dasar cerewet!" ucap Aldo sambil mematikan sambungan telepon mereka.
Aldo melepaskan jas yang ada di tubuhnya. Dengan penuh kasih sayang, dia segera menutup tubuh Cika yang hampir menampakkan sebagian aset-aset berharga yang ada di tubuhnya itu.
"Ayo, kita pulang!" ajak Aldo sambil berjalan memeluk Cika dari arah samping.
Mobil Aldo melaju dengan kecepatan sedang menuju apartemen miliknya. Aldo yang duduk di bangku kemudi, sesekali melirik ke arah Cika yang duduk di sebelahnya.
"Kita mau kemana Aldo?" tanya Cika yang hanya fokus menghadap ke arah depan.
"Pulang ke apartemen aku." jawab Aldo sambil memegang tangan Cika.
"Tapi,..."
"Ikut saja!" ucap Aldo memotong ucapan Cika.
Sesampainya di apartemen Aldo, mereka pun melangkah ke arah pintu.
"Ayo masuk!" ajak Aldo sambil membukakan pintu kamarnya.
"Bersihkan badan kamu dulu, setelah itu ambil pakaian ganti di dalam lemari. Disitu ada beberapa pakaian Mama!" ucap Aldo sambil berjalan menuju ruang tamu.
Aldo membuka bajunya dan berbaring di atas sofa. Sementara itu, Cika yang telah selesai membasuh badannya dan mengganti pakaiannya mencoba berbaring di atas ranjang.
Cika mencoba untuk tidur dan mulai memejamkan matanya karena tubuhnya terasa begitu lelah. Baru beberapa menit tertidur, tiba-tiba mimpi buruk itu datang menghantui tidur Cika.
"Aldo..." teriak Cika begitu lantangnya.
__ADS_1
Aldo yang baru saja memejamkan mata, seketika terkejut dan berlari ke arah kamarnya yang sedang Cika tempati.
Tubuh Cika mulai menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Bibirnya yg semula berwarna pink, kini sudah berubah menjadi putih. Cika terus saja menangis tanpa henti karena trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami.