
Setelah kepergian Hans, Lukman segera menghubungi sahabatnya. Lukman menceritakan semua yang dikatakan Hans, tanpa ada yang di tutup-tutupi sedikitpun kepada Alvin. Lukman juga mempertanyakan soal hubungan putranya dan Sela, yang menurutnya terasa sedikit janggal.
Perkataan Lukman itupun membuat Alvin mulai bertanya-tanya. Alvin juga merasa sedikit aneh, karena dalam seminggu terakhir dia tidak pernah melihat Hans bersama Sela.
Alvin berjalan meninggalkan ruangannya. Kakek dari Mikaila itu, dengan cepat melangkah menuju ruangan keponakannya.
"Tok... Tok... Tok..."
Alvin langsung mendorong pintu ruangan Sela, sesaat setelah mengetuk pintu.
"Om Alvin, ada apa Om?" tanya Sela sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Duduklah sayang, Om hanya ingin berbicara denganmu sebentar!" ucap Alvin sembari melangkah kearah meja kerja Sela.
Sela kembali duduk di kursinya, begitupun dengan Alvin yang ikut duduk tepat di hadapan keponakannya itu.
"Sela, bagaimana hubungan kamu dengan Hans?" Apa kalian baik-baik saja?" tanya Alvin yang langsung saja pada inti pembicaraan mereka.
"Kenapa Om menanyakan hal itu?" tanya Sela yang mulai terlihat gugup di hadapan Alvin.
"Jawab saja, sayang, tidak perlu bertele-tele!" ucap Alvin yang ingin mendengar penjelasan dari Sela.
"Maaf Om, kami tidak mempunyai hubungan apa-apa! Kami juga sudah seminggu tidak bertemu." sahut Sela sembari menundukkan kepalanya.
"Sudah Om duga." ucap Alvin sembari menarik nafas dan membuangnya dengan pelan.
"Ada apa Om? Kenapa Om menanyakan hal itu?" tanya Sela yang merasa aneh melihat ekspresi Alvin.
"Apa kamu tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepada laki-laki malang itu?" tanya Alvin dengan tatapan mencari tau.
"Hans itu laki-laki yang baik, Sela suka pada Hans. Tapi Sela takut menjalani hubungan ini!" sahut Sela dengan binar bening yang sudah tergenang di kelopak matanya.
"Sela... Sela... Hans itu sangat mencintai kamu, sayang! Apa lagi yang kamu takutkan?" ucap Alvin yang sudah kehabisan akal membujuk keponakannya itu.
"Maafkan Sela, Om! Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan Hans, Sela baru menyadari perasaan Sela yang sebenarnya!" sahut Sela yang mulai menyadari perasaannya terhadap Hans.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, sayang?" tanya Alvin yang belum puas mendengar jawaban Sela.
"Sela juga menyukai Hans, Om. Sela akan belajar membuka hati Sela untuk Hans!" sahut Sela yang mulai yakin dengan perasaannya sendiri.
"Tapi, sayangnya kamu sudah terlambat mengakui perasaan itu!" ucap Alvin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa maksud Om?" tanya Sela sembari membulatkan matanya lebar-lebar.
"Laki-laki itu sudah pergi membawa kesedihannya. Dia bahkan tidak menceritakan apapun kepada papanya. Dia menyembunyikan rasa sakitnya sendirian, berharap papanya tidak bersedih jika mengetahui semuanya." ucap Alvin sembari berlalu dari ruangan Sela.
Setelah mendengar ucapan Alvin, Sela tak kuasa menahan air matanya. Tangisan itupun pecah memenuhi seisi ruangan. Raut wajah penyesalan pun terlihat begitu jelas di wajah cantik gadis itu.
"Hans, kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Maafkan aku Hans, kembalilah! Aku juga mencintaimu!" gumam Sela berlinangan air mata.
Dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes di wajah cantiknya, Sela bergegas meraih ponselnya. Dengan cepat gadis itu menghubungi nomor Hans. Tapi apalah daya, nomor Hans masih saja tidak bisa dihubungi.
Alvin yang masih mengintip dari luar, benar-benar merasa kasihan melihat kekalutan keponakannya itu. Tidak terasa air mata Alvin pun ikut menetes, melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Sela.
"Sabarlah sayang, Om akan segera menyatukan kalian berdua!" batin Alvin sembari menjauh dari ruangan keponakannya.
*****
Sesampainya di rumah, Sela langsung berlari menuju lantai atas. Dia masuk kedalam kamar dan mengurung diri sendirian sembari meratapi kehilangannya.
Keanehan Sela itupun menjadi tanda tanya besar di benak Cika dan Mila saat itu tengah duduk di ruang keluarga.
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Mila dengan raut wajah kebingungan.
"Entahlah Kak, Cika juga tidak tau!" sahut Cika yang tengah menidurkan Mikaila di pangkuannya.
Satu jam berselang, Alvin dan Aldo juga pulang menyusul Sela yang sudah dari tadi meninggalkan kantor.
Didalam perjalanan menuju rumah, Alvin mulai menceritakan semua kejadian tadi kepada putra bungsunya. Sontak saja ucapan Alvin itu membuat Aldo terkejut bukan main.
Sesampainya di rumah, ayah dan anak itu melangkah masuk menuju ruang keluarga. Mereka berdua duduk di sofa sembari melepaskan kepenatan setelah seharian beraktivitas.
__ADS_1
Melihat suami dan papa mertuanya yang begitu kelelahan, Cika segera meletakkan Mikaila yang sudah tertidur lelap di pangkuannya kedalam box bayi.
Istri Aldo itu mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju dapur. Cika kemudian membuatkan minuman untuk dua orang laki-laki yang sangat dia sayangi itu.
Meskipun Alvin hanyalah papa mertuanya, tapi Cika sangat menyayangi laki-laki itu seperti ayahnya sendiri.
Selesai membuat minuman, Cika kembali melangkah ke ruang depan dan meletakkan dua cangkir teh manis yang sudah dia buat di atas meja.
"Minum dulu Pa, Aldo!" ucap Cika sembari menekuk kakinya dan duduk di sebelah suaminya.
"Terimakasih, sayang!" ucap Aldo sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
Alvin dan Aldo mulai meraih cangkir mereka masing-masing. Mereka berdua, meneguk teh manis itu secara bersamaan. Teh itu terasa benar-benar manis seperti orang yang sudah membuatnya.
Setelah Alvin dan Aldo meletakkan cangkir mereka kembali, Cika pun mulai menanyakan sesuatu yang sedari tadi sudah mengganjal di hatinya.
"Aldo, apa yang terjadi dengan Sela? Tadi dia pulang dengan wajah yang terlihat kusut!" tanya Cika kepada suaminya.
"Tanya Papa saja sayang, Papa yang lebih tau!" sahut Aldo yang melemparkan pertanyaan istrinya itu kepada Alvin.
"Pa, ada apa? Apa yang sudah terjadi dengan Sela?" tanya Cika sembari menatap wajah Alvin dan menuntut agar diberi penjelasan.
"Entahlah sayang, Papa juga bingung memikirkan gadis keras kepala itu!" sahut Alvin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sela kenapa Pa? Apa dia membuat masalah di kantor?" tanya Cika yang semakin bingung mendengar ucapan Alvin.
"Dia sudah membuat masalah untuk dirinya sendiri, sekarang baru menyesal!" ucap Alvin sembari meraih cangkirnya kembali.
"Apa maksud Papa? Cika tidak mengerti!" tanya Cika sembari menggaruk kepalanya saking bingungnya.
"Dia sudah menolak Hans dengan alasan yang tidak masuk akal. Laki-laki malang itu tak sanggup menahan kesedihannya, dia memilih untuk pergi meninggalkan kota ini! Bahkan, Om Lukman tidak mengetahui sama sekali alasan kepergian putranya itu. Hans hanya berdalih, kalau dia mempunyai urusan yang penting di luar negeri." ucap Alvin memberi penjelasan kepada menantu bungsunya itu.
"Ya Tuhan, lalu bagaimana dengan Sela Pa?" tanya Cika kembali.
"Bagaimana lagi sayang? Penyesalan itu selalu datang belakangan!" ucap Alvin dengan raut wajah penuh kekecewaan.
__ADS_1
Alvin mulai bangkit dari tempat duduknya. Kakek dari Mikaila itu, melangkah kearah cucunya yang sedang tertidur lelap didalam box bayinya.
Alvin mencium pipi cucu pertamanya itu dengan penuh kasih sayang. Wajah polos Mikaila membuat Alvin merasa sedikit tenang. Walaupun sebenarnya hati Alvin tengah gelisah memikirkan nasib keponakannya.