
Sesampainya didalam kamar, Aldo segera membawa Cika ke atas tempat tidur. Tatapan matanya sudah seperti macam yang sudah lama tidak diberi makan. Sungguh sangat menyeramkan dimata Cika.
"Kamu mau ngapain, Aldo?" tanya Cika yang mulai resah melihat tatapan lapar suaminya.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku ingin memakan mu!" sahut Aldo yang sudah mulai merasa panas di sekujur tubuhnya.
"Jangan, Aldo! Besok saja ya, please! Ini masih terasa perih loh." rengek Cika sambil bergeser sedikit menjauh dari suaminya.
"Aku yakin, tidak akan perih kalau mainnya dengan kelembutan, sayang!" bujuk Aldo sembari membuka pakaian dan membuangnya ke lantai.
"Tapi... Mm... Mm"
Belum selesai Cika berbicara, Aldo sudah lebih dulu mengunci bibir merah jambu Cika dengan bibirnya yang seksi. Dengan kebuasannya, Aldo pun ******* bibir istrinya tanpa ampun dan masuk semakin dalam.
Tidak berhenti disitu, Aldo mulai menarik kancing baju Cika hingga terlepas. Seketika pandangan Aldo pun tertuju pada gunung kembar milik istrinya yang terlihat sangat menggoda.
"Dag... Dig... Dug..."
Detak jantung yang semakin kencang dan deru nafas yang mulai berpacu, membuat Aldo dengan gila melahap gunung kembar istrinya dan menghisap biji kelengkeng yang terasa begitu manis di lidah Aldo.
"Akhh... Aldo!"
Cika yang tadinya menolak, akhirnya masuk dalam perangkap suaminya. Suhu tubuhnya mulai terasa panas seperti merasakan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya menegang seketika.
Setelah bermain-main cukup lama di atas sana. Aldo pun mulai turun dan bermain dipermukaan sawah yang akan dia garap. Dengan sangat hati-hati Aldo mulai menggali dan mengairi sawah itu agar proses penggarapannya berjalan dengan lancar.
"Akhh... Akhh..." Seketika Cika pun menggeliat merasakan panas yang berulang-ulang sembari meremas lengan suaminya.
Melihat Cika yang sudah mulai lemas, Aldo pun dengan sigap menjalankan pesawat tempurnya. Mencoba lepas landas dan memulai peperangan di atas udara.
"Akhh..." Aldo pun mengerang dan tumbang setelah menyemburkan lumpur panas dalam pertempurannya yang berlangsung kurang lebih satu jam lamanya.
Malam berlalu dengan sangat indah.
Mereka pun tertidur sambil memeluk satu sama lain.
Pagi harinya, Cika mencoba bangkit dari tempat tidur karena sudah tidak tahan kebelet ingin pipis.
__ADS_1
"Aw... Kenapa pinggangku sakit sekali? Rasanya seperti mau lepas???" gumam Cika sambil mengurut pinggangnya yang terasa sangat pegal.
"Cika! Apa yang terjadi, sayang?" tanya Aldo yang baru saja membuka kedua matanya.
"Pinggang ku, Aldo!" Cika merengek manja sambil meringis kesakitan didepan suami tampannya.
"Kenapa dengan pinggang kamu, sayang?" tanya Aldo sembari mengelus lembut bagian belakang istrinya.
"Sakit, Aldo! Lebih menyakitkan daripada yang kemaren." rengek Cika sambil menatap kearah suaminya.
"Ya sudah, cup,,, cup,,, cup. Sini, biar aku gendong istri manja ku ini!" sahut Aldo sembari mengecup pipi istrinya berulang kali dan mengangkatnya menuju kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi, Cika pun segera membuang apa yang dari tadi sudah dia tahan.
"Kenapa menyedihkan sekali nasib seorang wanita?" ucap Cika sambil menatap tajam kearah suaminya.
"Sabar ya, sayang! Mungkin ini akan sering terjadi menjelang kamu terbiasa." ucap Aldo sambil memeluk erat tubuh istri cantiknya.
Dengan kasih sayang yang begitu besar terhadap Cika, Aldo pun dengan sigap membantu memandikan istrinya yang sudah terlihat semakin lemas.
Dikamar lain, Ilham dan Mila tengah sibuk mengumpulkan barang-barang mereka. Pagi ini setelah sarapan bersama, mereka berdua berniat untuk pulang ke rumah mereka sendiri.
Sementara di dapur, Sela tengah asyik menyiapkan sarapan bersama Ara dan bibi. Sejak tinggal di rumah Ara, Sela memang sudah sangat jauh berubah. Sela yang dulu jarang sekali menginjak dapur, sekarang sudah mulai lihai memasak berbagai macam masakan.
"Selamat pagi, Ma!" sapa Aldo dan Cika secara bersamaan.
"Pagi, sayang!" jawab Ara yang sedang asyik membalik makanan yang ada di atas kompor.
Cika yang tadinya merasa kesakitan, mencoba menahan rasa sakitnya dan ingin segera membantu mertuanya menyiapkan sarapan. Hatinya merasa tidak enak jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.
"Mau ngapain, sayang?" tanya Ara yang mulai memperhatikan menantunya yang terlihat sedikit berbeda.
"Mau bantuin mama masak." sahut Cika dengan ekspresi wajah sedikit memaksa.
"Tidak usah, sayang! Mama sudah hampir selesai. Kamu duduk saja bersama Aldo!" ucap Ara yang tidak ingin melihat menantunya kecapean.
"Tapi, Ma...!"
__ADS_1
"Sudah sayang, biarkan mama sama Sela saja yang mengerjakannya! Sini, duduklah di sampingku! Kamu itu masih lemas, jangan banyak bergerak!" sambung Aldo dengan suara sedikit pelan namun masih terdengar di telinga Sela.
"Cie... Cie... Sok perhatian banget sama istrinya. Padahal kamu kan biang keroknya." tambah Sela yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menggoda sepupunya.
"Bocah ingusan, bisa diam gak!" ketus Aldo yang mulai kesal dengan sindiran Sela terhadap dirinya.
"Hahahaha... Marah ya? Makanya jangan terlalu buas jadi orang. Gak kasihan tuh liat istri kamu sampai begitu." ucap Sela yang semakin semangat menggoda Aldo.
"Ini bocah, makin hari makin ngelunjak ya!" gumam Aldo sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Tante, tolongin Sela! Ada macam ngamuk. Hahahaha..." teriak Sela sambil tertawa terbahak-bahak dan mencari perlindungan dibelakang tantenya.
"Cukup, Aldo! Jangan kekanak-kanakan begini, malu ih!" ucap Cika sambil menahan tangan suaminya.
Sesaat setelah mendengar ucapan Cika, Aldo pun terdiam dengan raut wajah menyimpan kekesalan. Diapun langsung berbisik ditelinga istrinya.
"Jadi, menurut kamu aku ini kekanak-kanakan ya? Apa membuat kamu lemas, mengerang, dan tak sanggup berjalan itu juga termasuk kekanak-kanakan? Kalau begitu, bersiap-siaplah! Aku akan perlihatkan ke kamu bagaimana aku yang sebenarnya."
Kata-kata Aldo itupun sejenak membuat nyali Cika menciut. Dia tidak menyangka kalau pemikiran suaminya sampai sejauh itu. Padahal yang dia maksud tidaklah seperti itu.
"Sudahlah, Aldo! Memang susah bicara sama kamu." ucap Cika sambil memalingkan wajahnya dari Aldo.
Tidak lama berselang, Alvin keluar dari kamar. Disusul oleh Mila dan Ilham yang tengah menarik koper kearah ruang tamu.
"Kamu mau kemana, Ilham?" tanya Alvin mencari tau.
"Ilham mau pulang ke rumah, Pa! Sudah seminggu kami disini. Pekerjaan Ilham pun sudah banyak yang terabaikan." sahut Ilham menjelaskan kepada papanya.
Selesai sarapan, Ilham meminta izin kepada mama dan papanya untuk kembali ke rumahnya.
"Pa, Ma! Ilham pulang dulu ya! Hari ini Ilham sudah mau masuk kantor." ucap Ilham sambil menyalami dan memeluk kedua orang tuanya dengan hangat.
"Mila juga pamit ya, Pa, Ma!" sambung Mila yang juga ikut mencium tangan mertuanya secara bergantian.
"Kalian hati-hati ya, sayang! Sering-sering main ke sini! Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami!" ucap Ara dengan raut wajah menahan kesedihan.
Ara merasa sangat sedih melepas kepergian putra sulung dan menantunya. Namun, bagaimanapun juga dia mencoba untuk tidak memperlihatkannya kepada yang lain.
__ADS_1