Hati Berdarah

Hati Berdarah
Ikatan Persaudaraan Yang Terkuak


__ADS_3

Ara meninggalkan mereka bertiga dan melangkah menuju dapur. Dia menyiapkan makanan untuk anak dan menantunya yang baru saja berbaikan itu.


Sementara, Cika duduk di samping Mila yang sedang menidurkan gadis kecilnya. Begitupun Aldo yang ikut duduk di hadapan mereka berdua.


Cika menatap malaikat kecil yang tengah tertidur pulas dipangkuan kakak iparnya, sembari menyentuh pipi gadis kecil itu dengan lembut.


"Kak Mila, apa Cika boleh menggendong gadis cantik ini?" tanya Cika kepada kakak iparnya yang dari tadi sudah berkaca-kaca menahan air matanya.


Dengan senang hati, Mila memberikan putri kecilnya ke tangan Cika. Istri Aldo itupun menggendong gadis kecil itu dan mencium pipinya yang sangat menggemaskan dengan penuh kasih sayang.


"Siapa nama gadis cantik ini Kak?" tanya Cika kepada kakak iparnya.


"Namanya Mikaila, dia sangat cantik kan? Mirip sama kamu tantenya!" sahut Mila yang sesaat mengingatkan Cika dengan ucapan suaminya sebelumnya.


"Iya Kak, mirip sekali dengan Cika waktu kecil. Tapi kenapa bisa mirip denganku ya Kak? Aldo tadi juga sempat berkata seperti itu." ucap Cika yang sedikit heran melihat wajah Mikaila yang memang memiliki kemiripan dengan dirinya.


Mila mengulurkan tangannya dan kembali mengambil Mikaila dari tangan Cika. Istri Ilham itu kemudian meletakkan gadis kecil itu di dalam ayunan dan menutupnya dengan kelambu.


"Kenapa kamu meninggalkan kami semua Cika? Ada hal yang telah kamu lewatkan setelah meninggalkan rumah ini." ucap Mila.


Mila mulai meneteskan air matanya dan memeluk tubuh adik iparnya itu dengan sangat erat.


"Apa maksud Kak Mila? Apa yang telah Cika lewatkan?" tanya Cika yang benar-benar tidak mengerti maksud perkataan kakak iparnya itu.


"Cika, apa ayahmu pernah berkata sesuatu sebelum dia meninggal?" tanya Mila sembari melepaskan pelukannya dari Cika.


"Tidak ada Kak, ayah tidak pernah berkata apa-apa sebelum dia meninggal. Ada apa sebenarnya Kak? Kenapa kakak membahas masalah ayah? Apa Kak Mila kenal dengan ayah Cika?"


Cika semakin kebingungan setelah mendengar kakak iparnya membahas tentang almarhum ayahnya.


"Aldo, ada apa sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti." tanya Cika kepada suaminya yang masih duduk di hadapannya.


Aldo sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, dia hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya seakan-akan tidak mengetahui apa yang sedang Mila bicarakan.


"Cika, nama ayah kamu Benny kan?" sambung Mila kembali.

__ADS_1


Mila sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya, air matanya kembali jatuh berguguran setelah menyebut nama orang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya itu.


"Kak Mila benar, kakak tau dari mana?" sahut Cika yang masih tidak mengerti arah pembicaraan kakak iparnya itu.


"Dasar anak bodoh, kenapa kamu tidak pernah menceritakan tentang ayahmu itu kepada kakak?"


Mila memukul lengan Cika dan kembali memeluk adik iparnya itu dengan penuh rasa haru.


Entah itu tangisan bahagia atau sedih, Mila bahkan sampai terisak didalam pelukan adiknya itu.


"Kak Mila, tolong katakan dengan jelas! Aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa sebenarnya Kak? Hiks... Hiks..."


Cika yang dari tadi sudah bersusah payah mengendalikan emosinya, akhirnya ikut menangis tanpa tau apa yang terjadi sesungguhnya.


Aldo sendiri bahkan tidak bisa berbicara sepatah katapun kepada istrinya. Dia hanya terdiam sembari menyaksikan ketegangan diantara istri dan kakak iparnya itu.


Tidak lama, Ara kembali ke ruang keluarga untuk menemui Aldo dan Cika. Namun, sejenak langkah kakinya tertahan setelah melihat pemandangan yang sangat mengharukan antara kedua menantunya itu.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua menangis?" tanya Ara sedikit kebingungan.


"Ma, apa yang terjadi setelah kepergian Cika? Apa yang kalian sembunyikan sebenarnya? Cika tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kak Mila? Aldo juga hanya diam seperti patung yang tidak berguna!" ucap Cika meminta penjelasan kepada mama mertuanya.


"Loh, kok jadi Aldo yang dibawa-bawa sih Ma? Memangnya Aldo salah apa?" sambung Aldo dengan tatapan yang terlihat sedikit kesal.


"Diamlah Aldo, pergilah ke kamarmu! Biang masalah, kami tidak membutuhkanmu disini!" ketus Ara kepada putra bungsunya yang selalu bikin rusuh itu.


Dengan raut wajah penuh kekesalan, akhirnya Aldo melangkahkan kakinya meninggalkan ruang keluarga dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ara kemudian mendekati kedua menantunya dan duduk di tengah-tengah kedua wanita kesayangannya itu sembari tersenyum penuh makna.


"Sayang, kalian berdua jangan menangis lagi!" ucap Ara kepada kedua menantu yang sangat dia sayangi itu.


Ara kemudian memeluk kedua menantunya itu dan mencoba menenangkan mereka berdua.


Setelah suasana mulai mencair, Ara akhirnya mencoba memberi penjelasan kepada Cika.

__ADS_1


"Cika sayang, ada satu hal yang perlu kamu ketahui. Setelah kamu pergi meninggalkan rumah ini, sebuah rahasia mulai terkuak tentang hubungan kalian berdua." ucap Ara kepada menantu bungsunya.


"Maksud mama apa?" tanya Cika yang semakin kebingungan.


"Mila sayang, kamu mau menjelaskannya sendiri atau mama yang akan menjelaskannya kepada Cika?" tanya Ara meminta persetujuan dari menantu sulungnya.


"Mama saja ya!" sahut Mila.


Setelah mendapatkan persetujuan dari menantu sulungnya, akhirnya Ara mulai menceritakan semuanya dengan tenang.


"Cika, kamu dengar mama ya! Apapun yang akan mama sampaikan, kamu harus bisa menerimanya dengan tenang ya! Jangan sampai membahayakan janin yang ada didalam kandungan kamu!" ucap Ara mewanti-wanti Cika agar tidak terkejut mendengar penjelasannya.


"Iya Ma, Cika mengerti." sahut Cika yang sudah siap mendengarkan penjelasan dari mama mertuanya.


"Jadi, sebenarnya kalian berdua itu tidak hanya mempunyai hubungan sebagai kakak dan adik ipar semata. Tapi, ada hubungan lain yang lebih kuat dari itu." ucap Ara yang membuat Cika melotot kan matanya seketika.


"Apa maksud mama? Hubungan apa itu Ma?" tanya Cika dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Sama seperti hubungan antara Sela dan Aldo." sahut Ara sembari menggenggam tangan kedua menantunya.


"Maksud mama, kami berdua itu sepupu?" tanya Cika yang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Benar sayang, ayah kamu itu ternyata adik dari papanya Mila. Ikatan darah itu memang sangat kental sayang. Kamu mengerti kan maksud mama?" ucap Ara sembari tersenyum.


Cika benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari mama mertuanya, air mata itupun akhirnya kembali berguguran membasahi kedua pipinya.


"Kak Mila... Hiks... Hiks... Hiks."


Cika akhirnya menangis sejadi-jadinya. Dengan perasaan yang tidak menentu, Cika berpindah ke samping Mila dan memeluk kakak sepupunya itu dengan sangat erat.


"Kenapa kehidupan ini begitu kejam kepadaku? Apa salahku, sehingga ujian ini selalu datang silih berganti?"


Cika tak kuasa menahan rasa harunya, tangisan itupun akhirnya pecah tanpa bisa dibendung lagi.


"Tenanglah sayang, ini bukan ujian! Ini merupakan jalan yang ditunjukkan Tuhan untuk kamu!" ucap Ara sembari mengusap punggung menantu bungsunya itu.

__ADS_1


"Cika, mulai sekarang jangan pernah merasa sendirian lagi ya! Ada kakak disini yang akan selalu menjaga kamu. Kakak tidak akan membiarkan kamu menderita lagi! Kakak sangat menyayangi kamu!" tegas Mila sembari mencium pipi adik sepupunya yang masih menangis di pelukannya itu.


Sesaat suasana di ruangan itu terasa sangat mengharukan. Tidak hanya Cika dan Mila, Ara pun ikut menangis karena bahagia melihat ikatan persaudaraan yang sangat erat diantara kedua menantunya itu.


__ADS_2