Hati Berdarah

Hati Berdarah
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Selesai menikmati makan siang, dua keluarga itu beranjak dari meja makan dan melangkah ke arah ruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan mereka di sana.


Cika, Sela dan Mila memilih untuk tetap berada di belakang karena masih ingin memberesi meja makan dan mencuci peralatan yang sudah mereka gunakan tadi.


Tidak berselang lama, mereka bertiga dikejutkan dengan suara tangisan Mikaila yang berasal dari dalam kamar.


Mila pun bergegas meninggalkan dapur dan melangkah ke dalam kamarnya untuk menenangkan putri kecilnya yang baru saja terbangun itu.


Sementara itu, Cika kembali melanjutkan kegiatannya mencuci piring yang sudah menumpuk di tempat cucian piring.


"Biar aku saja, kamu sudah terlalu lelah menyiapkan makanan untuk kami!" ucap Sela sembari berdiri di samping Cika.


"Tidak apa-apa Sela, aku masih kuat kok mengerjakan semua ini. Yang harus istirahat tuh kamu, kamu pasti sangat lelah karena kelamaan di dalam pesawat!" sahut Cika yang terus saja melanjutkan pekerjaannya.


"Lelah apanya, aku bahkan tertidur sangat lelap di dalam pesawat." ucap Sela sembari mengambil alih pekerjaan Cika.


"Cie, pasti kamu tidurnya di pelukan Hans. Makanya bisa tertidur lelap begitu, iya kan?" goda Cika sembari tersenyum.


Sela dibuat terdiam setelah mendengar ucapan Cika yang benar adanya itu. Namun dia tidak mau mengakuinya karena merasa malu terhadap sahabatnya itu.


Sela kemudian menarik sebuah kursi ke arah tempat cucian piring. Dia membantu Cika duduk manis di sana dan membiarkan dirinya saja yang melakukan semua pekerjaan itu.


"Duduklah di sini, kamu tidak boleh terlalu capek!" tegas Sela.


Cika yang saat itu memang sudah merasa sedikit lelah, akhirnya memilih untuk mengalah dan membiarkan Sela melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu di ruang keluarga sana, Lukman bersama Alvin dan Ara tengah asyik membahas tanggal pernikahan yang baik untuk Hans dan Sela.


"Jadi bagaimana Alvin, kapan kira-kira waktu yang tepat untuk melaksanakan pernikahan mereka?" tanya Lukman.


"Jangan lama-lama, niat baik itu tidak boleh ditunda-tunda. Lebih cepat lebih baik!" sahut Alvin.

__ADS_1


"Bagaimana menurut kamu Hans? Papa maunya kalian menikah bulan depan." tanya Lukman yang ingin mendengarkan pendapat putranya.


"Kelamaan Pa, Hans tidak membutuhkan pesta yang meriah. Sederhana saja yang penting niatnya kan?" sahut Hans.


Ucapan Hans itu seketika membuat Alvin dan Lukman saling menatap satu sama lain. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Hans ingin mempercepat pernikahan itu.


"Tante setuju dengan kamu Hans, untuk apa menunggu lama-lama jika niatnya sudah jelas begini? Dulu Cika dan Aldo juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melaksanakan pernikahan mereka." sambung Ara.


"Jadi menurut Mama bagaimana?" tanya Alvin sembari menatap ke arah istrinya.


"Seperti Aldo dan Cika saja Pa, Mama rasa waktu dua minggu sudah sangat cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya." sahut Ara.


"Dua minggu apa tidak terlalu terburu-buru?" tambah Lukman.


"Hans setuju dengan Tante Ara Pa." sambung Hans yang memang sudah tidak sabar mempersunting Sela secepatnya.


"Kamu tenang saja Lukman, serahkan semuanya kepada kami. Istriku sudah sangat berpengalaman mengurus hal seperti ini!" tambah Alvin yang juga setuju dengan pendapat istrinya.


Hans akhirnya bisa bernafas dengan lega sembari memperlihatkan senyuman yang tengah mengambang di wajahnya. Dia benar-benar bahagia karena tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menghalalkan wanita yang dicintainya itu.


Tidak berselang lama, Sela dan Cika pun muncul diantara mereka setelah selesai membereskan dapur mereka kembali.


"Sela, Cika, kebetulan sekali kalian datang. Duduklah di sini bersama kami. Ada yang ingin kami sampaikan kepada kalian!" ucap Ara yang melihat kedatangan mereka berdua.


Sela dan Cika berjalan ke arah sofa menghampiri Ara. Sela duduk tepat di samping Ara dan berhadapan langsung dengan Hans.


Sementara itu Cika memilih duduk di atas permadani seperti biasanya, dia merasa lebih nyaman duduk di lantai sembari meluruskan kedua kakinya yang sudah sering terasa pegal.


"Sayang, kami semua sudah membicarakan tentang pernikahan kalian. Kami memutuskan untuk melaksanakan pernikahan itu dua minggu lagi. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Ara meminta persetujuan Sela.


Sela tampak terkejut mendengar ucapan Ara, dia sama sekali tidak menyangka kalau pernikahannya akan dilaksanakan secepat itu.

__ADS_1


Sela menatap ke arah Hans dengan tatapan yang tak biasa, Hans malah membalasnya dengan senyuman yang membuat Sela justru menjadi salah tingkah.


Sela kemudian menoleh ke arah Cika, Cika pun membalasnya dengan senyuman yang sangat manis dan menganggukkan kepalanya karena sangat setuju dengan pendapat semua orang.


"Bagaimana sayang, apa pendapatmu?" tanya Alvin yang ingin memastikan kesiapan keponakannya itu.


"Terserah Om saja, Sela ikut keputusan kalian!" sahut Sela sembari menundukkan kepalanya.


Semua orang tampak sangat senang setelah mendengar jawaban dari Sela. Begitupun dengan Cika yang bahkan hampir saja meneteskan air mata saking terharunya mendengar keputusan Sela.


Ara kemudian memeluk keponakan suaminya itu dari arah samping dan mencium pipi Sela dengan penuh kasih sayang. Perasaannya mulai bercampur aduk antara sedih dan juga senang karena akan berpisah dengan gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri itu.


Alvin yang duduk di sebelah Ara pun ikut merangkul tubuh istri dan keponakannya itu. Alvin sangat mengerti dengan perasaan istrinya yang begitu menyayangi Sela.


"Sudah sayang, jangan ada air mata di sini. Kita semua tengah berbahagia saat ini!" ucap Alvin menenangkan istrinya.


Ara melepaskan pelukannya dari tubuh Sela, dia kemudian mengusap matanya untuk menghilangkan jejak air mata yang sempat turun dari mata indahnya itu.


"Tidak Pa, Mama tidak menangis. Mama hanya terharu karena gadis kecil Mama ini sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri." sahut Ara sembari mencubit pipi Sela dengan penuh kasih sayang.


Ucapan dan tindakan Ara itupun langsung mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan itu. Tidak terkecuali Cika yang juga ikut terbawa suasana.


Setelah semuanya jelas, Lukman dan Hans pun memilih untuk pulang ke kediaman mereka. Hari yang sudah semakin sore membuat Lukman tidak bisa berlama-lama karena dia belum sempat beristirahat setelah turun dari pesawat tadi.


Lukman yang memiliki riwayat penyakit jantung, harus benar-benar menjaga kondisi tubuhnya agar tidak drop dan membuat penyakitnya kambuh.


Hans mulai berpamitan kepada Ara dan Alvin, dia kemudian mencium tangan calon mertuanya itu secara bergantian. Dia bahkan tidak sungkan lagi dan mencium kening Sela di hadapan semua orang.


Keberanian Hans itupun membuat semua orang kaget dan tersenyum. Tidak terkecuali Sela yang merasa sangat terkejut dan malu dengan wajah yang tampak memerah seketika.


Lukman dan Hans masuk ke dalam mobil Alvin yang akan mengantarkan mereka pulang ke kediamannya. Tidak lama mobil itupun mulai melaju dan menghilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2