
Cika masih merasa kesulitan mengaitkan resleting gaunnya, tangannya tidak mampu menjangkau bagian punggungnya. Beberapa kali dia mencoba tapi masih saja tidak bisa melakukannya. Wajahnya sudah mulai terlihat bingung.
Cika berniat meminta bantuan kepada Ara. Tapi ketika mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba Aldo muncul di depannya. Matanya terbelalak saking kagetnya melihat kedatangan Aldo. Dia berusaha mundur ke arah dinding, untuk menutupi bagian belakang tubuhnya yang masih terbuka.
Aldo pun sesaat terdiam melihat sosok puteri cantik di depannya itu. Mata nya tak berkedip sedikit pun melihat aura cantik yang terpancar dari wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aldo yang bingung melihat raut wajah Cika.
"Gak ada apa-apa!" jawab Cika yang mulai terlihat panik dengan kedatangan Aldo.
Aldo merasa Cika sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Aldo perlahan menghampiri Cika dengan tatapan yang terlihat aneh. Cika kembali mundur sampai punggungnya mentok menyentuh dinding.
"Kamu kenapa balik lagi?" tanya Cika untuk mengalihkan perhatian Aldo.
"Hp ku ketinggalan," jawab Aldo sambil melangkah maju ke arah Cika.
"Jangan mendekat!" tegas Cika meninggikan suaranya.
"Kamu kenapa sih? Kok jadi aneh gini?" tanya Aldo dan segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja di samping Cika berdiri.
Cika pun merasa sedikit malu, karena sudah salah menduga. Namun, tanpa di sengaja Aldo sekilas melihat pemandangan yang sedang di tutupi Cika itu ketika mengambil ponsel miliknya.
Aldo hanya tersenyum melihat kepanikan Cika terhadap dirinya.
"Sini, aku bantuin!" ucap Aldo sambil merapat ke tubuh Cika.
"Kamu mau ngapain?" ucap Cika yang semakin terlihat panik.
"Bantuin kamu lah, ngapain lagi?" ucap Aldo sambil tersenyum.
"Jangan Aldo!" ucap Cika menahan Aldo agar tidak mendekatinya.
Aldo malah semakin mendekat dan dengan cepat membalikkan tubuh Cika. Cika yang terkejut, segera menutup matanya karena merasa sangat malu dengan Aldo. Namun, sesaat Aldo terdiam melihat kulit putih bersih dan mulus yang ternganga di depannya itu, jantung nya mulai berdetak tak tentu arah. Pikirannya sedikit berwisata kemana-mana, namun dengan cepat dia menepis pikiran kotor yang ada di otaknya itu.
"Sadar Aldo, sadar!" batin Aldo melawan keinginan di hatinya.
Dengan cepat Aldo menaikkan resleting gaun yang di kenakan Cika, agar mata nya tidak terlalu lama berkelana menyaksikan pemandangan indah itu.
__ADS_1
"Sudah," ucap Aldo sambil menarik nafas dan membuangnya pelan.
"Terimakasih! " ucap Cika dengan perasaan sedikit lega.
"Aku pergi dulu, ini sudah terlambat." ucap Aldo sambil kembali mencium kening Cika dan berlari meninggalkan kamar. Cika hanya tersenyum melihat tingkah laki-laki yang dicintainya itu.
Cika buru-buru untuk merapikan pakaiannya, dan bergegas turun ke bawah karena Ara sudah terlalu lama menunggu dirinya.
"Kamu cantik sekali sayang." puji Ara dan menatap Cika dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Terimakasih Tante!" ucap Cika tertunduk malu.
"Kita jalan sekarang ya?" ucap Ara sambil mengambil tas yang berada di atas sofa.
"Iya Tante!" balas Cika sambil berjalan mengikuti langkah kaki Ara.
Mereka berdua meninggalkan rumah dan menaiki mobil yang sudah menunggu di pintu gerbang. Mereka di antar oleh sopir pribadi keluarga Ara.
Di dalam perjalanan menuju butik, Ara tak henti-hentinya mengoceh. Dia mencari tau segala hal tentang Cika. Cika pun tanpa ragu menceritakan semua kisah hidupnya kepada Ara.
Ara yang mendengar semua itu, menjadi semakin kagum dengan kejujuran gadis cantik yang duduk di sebelahnya itu.
Ara tidak memiliki anak perempuan. Jadi, dia merasa begitu senang dengan kehadiran Cika di tengah-tengah keluarganya. Apalagi sejak mengetahui kalau putra bungsunya sangat mencintai gadis cantik itu. Ara berharap agar Aldo segera mempersunting gadis cantik itu, karena Ara juga sangat menyukainya.
Karena keasikan berbincang, Ara sampai tidak menyadari kalau mobilnya sudah berhenti di depan butik.
"Kita sudah sampai nyonya." ucap Bari sopir pribadi keluarga Ara.
"Iya Pak," balas Ara yang baru menyadari kalau mereka sudah berada di depan butik miliknya.
Ara dan Cika segera turun dari mobil, sementara Bari sopirnya sedang memarkirkan mobil di parkiran. Mereka pun melangkah masuk ke dalam butik.
"Ini butik Tante?" tanya Cika sambil memandangi sekelilingnya. Dia benar-benar takjub melihat butik mewah itu.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Ara.
"Butik tante bagus sekali." ucap Cika sampai terkagum-kagum, dia memandangi beberapa pakaian yang terpajang di patung.
__ADS_1
Ara hanya tersenyum melihat tingkah lucu gadis polos itu.
"Tante mau ke ruangan tante dulu, kamu mau tetap disini atau ikut kedalam?" tanya Ara mengagetkan Cika.
"Ikut Tante saja!" jawab Cika.
Ara masuk ke ruangannya dan disusul oleh Cika dari belakang. Cika masih tidak menyangka bisa masuk ke dalam butik semewah itu.
Pakaian yang terpajang di butik itu, semua nya barang-barang berkelas. Ada kebaya, gaun, baju pengantin, dan berbagai jenis pakaian wanita lainnya.
Cika semakin merasa minder berada di tengah-tengah keluarga kaya itu.
Di dalam ruangan, Ara sedang asyik memainkan komputer yang berada di meja kerjanya. Sementara Cika duduk di sofa yang ada di pojok ruangan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
Tok..Tok..Tok(suara ketukan pintu)
"Masuk!" jawab Ara dari dalam ruangan.
Seorang gadis masuk membawa beberapa berkas dan desain baju pengantin ke arah Ara.
"Selamat pagi Buk! Maaf mengganggu, ada sedikit masalah dengan customer kita." ucap seorang gadis yang bernama Putri kepada Ara. Putri adalah karyawan terbaik di butik Ara.
"Ada apa Put?" tanya Ara sambil mengambil berkas yang ada di tangan Putri.
"Begini Buk, customer kita sedikit berubah pikiran. Dia ingin merubah desain yang telah kita rancang untuknya. Rancangan sebelumnya menurut keluarganya terlalu biasa." ucap Putri sambil memperlihatkan desain baju pengantin yang ada di tangannya kepada Ara.
"Bukannya ini sudah sesuai dengan keinginan calon pengantin? Mengapa tiba-tiba dia berubah pikiran? Gak ada waktu lagi untuk merubah semua ini," ucap Ara sambil memegang kepalanya karena merasa sedikit bingung.
Putri hanya terdiam melihat bosnya yang tengah berpikir panjang mencari jalan keluar. Sementara Cika yang melihat semua itu, mencoba melangkah mendekati Ara di meja kerjanya.
"Tante, apa boleh Cika bantu?" ucap Cika menawarkan bantuan kepada Ara.
"Memang nya kamu bisa sayang?" tanya Ara yang sedikit merasa ragu.
"Biar Cika coba dulu ya, Tante!" jawab Cika menawarkan dirinya.
__ADS_1
"Tapi ini memakan waktu lama sayang, sementara besok sudah harus di kerjakan sama penjahit." ucap Ara yang sudah mulai kehabisan akal.
"Tante tenang dulu ya! Jangan panik seperti ini! Semua pasti ada jalan keluarnya." ucap Cika menenangkan Ara. Sementara Putri sudah melangkah meninggalkan ruangan.