Hati Berdarah

Hati Berdarah
Bab 23. Restu Orang Tua


__ADS_3

Mobil Sela sudah tidak terlihat lagi, Aldo dan kedua orang tuanya pun kembali masuk ke dalam rumah.


Aldo tertunduk lesu sambil melangkah masuk ke pintu utama. Ara dan Alvin hanya bisa saling menatap melihat raut wajah sedih di wajah putra bungsunya itu.


"Aldo, kamu kenapa sayang?" tanya Ara sedikit bingung melihat ekspresi Aldo yang berubah setelah kepergian Sela dan Cika.


"Gak apa-apa, Ma!" jawab Aldo singkat saja.


"Kenapa lesu begitu kalau gak ada apa-apa?" tanya Ara untuk memastikan keadaan putranya.


Aldo kemudian melangkah menuju ruang keluarga, dia duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu. Ara dan Alvin mengikuti dari belakang dan duduk di hadapan Aldo.


"Ma, Pa, Aldo ingin bicara!" ucap Aldo sambil menatap wajah kedua orang tuanya.


"Bicara apa sayang?" tanya Ara yang mulai sedikit penasaran.


"Mama sama papa tau kan kalau Aldo menyukai Cika?" ucap Aldo yang membuat orang tuanya saling menatap satu sama lain.


"Iya, memangnya kenapa?" tambah Alvin yang juga penasaran dengan perubahan sikap Aldo.


"Aldo ingin menikah!" ucap Aldo tanpa ragu sedikitpun kepada kedua orang tuanya.


"Apa? Kamu serius?" tanya Ara yang sedikit kaget dengan ucapan Aldo.


"Aldo serius Ma, Pa!" ucap Aldo penuh percaya diri.


"Coba kamu pikirkan lagi Nak, pernikahan itu bukan untuk main-main. Jangan buru-buru mengambil keputusan!" ucap Alvin dengan tampang khasnya.


"Aldo tidak main-main Pa, Aldo benar-benar ingin menikahi Cika. Aldo sangat mencintai Cika." ucap Aldo meyakinkan kedua orang tuanya.


"Kalau memang itu mau kamu, papa bisa apa?" ucap Alvin sambil melirik ke arah Ara.


"Mama merestui kamu sama Cika, Mama juga sudah terlanjur sayang sama gadis itu." ucap Ara sambil tersenyum karena senang dengan keputusan Aldo.


Raut wajah Aldo seketika berubah setelah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Aldo yang tadinya lesu kembali memancarkan senyuman di wajahnya.


Aldo berjalan mendekati mereka, dia memeluk kedua orang tuanya dengan wajah yang mulai berseri-seri.


"Papa senang dengan keputusan kamu, papa harap kamu bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab." ucap Alvin.


"Mama juga, mama cuma ingin mengingatkan kamu, kalau pernikahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pernikahan bukan hanya masalah cinta, tapi penyatuan dua hati yang berbeda. Akan banyak cobaan yang datang menghantam.


Kamu sebagai laki-laki harus bisa bertanggung jawab sepenuhnya untuk keluarga kamu kelak. Mama harap kamu bisa menjaga Cika dengan baik, seperti papa menjaga mama selama ini." ucap Ara sambil mengusap kepala Aldo.


"Iya Ma, Aldo janji akan membahagiakan Cika. Aldo akan menjaganya sepenuh hati Aldo, dan memenuhi semua tanggung jawab Aldo terhadap dirinya." ucap Aldo dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ya sudah, apapun keputusan kamu, kami sebagai orang tua akan tetap mendukung niat baikmu itu." ucap Alvin sambil mengusap punggung Aldo.


"Jadi, kapan rencana kamu mau menikah dengan Cika?" tanya Ara yang memang sudah sangat lama menanti momen yang membahagiakan itu.


"Secepatnya Ma, Aldo tidak ingin menunda lama-lama." jawab Aldo dengan sangat tegas.


Ara dan Alvin hanya tersenyum, mereka merasa senang karena sebentar lagi akan kedatangan anggota baru di keluarga mereka.


Aldo berjalan meninggalkan kedua orang tuanya. Dia kembali ke kamarnya untuk tidur karena sudah tidak sabar menunggu esok pagi, dan memberi tau Cika tentang keinginannya yang sudah di setujui oleh kedua orang tuanya itu.


Sementara itu, Sela dan Cika sudah sampai di apartemen. Mereka berdua merasa sangat lelah dan memutuskan untuk segera tidur.


Malam telah berlalu begitu cepat.


Hari sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.


Sela dan Cika sudah bangun, mereka segera mandi secara bergantian. Setelah itu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Cika, hari ini kamu jadi kan bekerja di butik tante Ara?" tanya Sela yang sedang sarapan di meja makan.


"Iya Sel." jawab Cika.


"Ya sudah, cepat habiskan makanannya! Aku akan mengantarmu dulu, setelah itu baru ke kantor." ucap Sela.


Sela masuk ke dalam mobil bersama Cika. Sela mulai melajukan mobil mewahnya menuju butik Ara yang tidak terlalu jauh dari kantornya.


Di dalam perjalanan menuju butik, Cika sedikit merasa gelisah. Dia teringat kembali ucapan Aldo tadi malam kepada dirinya. Hatinya mulai tidak tenang memikirkan semua itu.


"Sel," ucap Cika membuka pembicaraan.


"Iya, ada apa Cika?" tanya Sela.


"Aku lagi bingung Sel," ucap Cika sambil menatap lurus ke jalan yang mereka lewati.


"Bingung kenapa?" tanya Sela sedikit heran.


"Aku takut," ucap Cika.


"Takut kenapa? Coba bicara yang jelas, aku tidak mengerti maksud kamu." ucap Sela yang semakin penasaran.


"Aldo Sel,"


"Kenapa dengan Aldo?" tanya Sela semakin bingung.


"Aldo, dia,,,"

__ADS_1


"Dia kenapa?" ucap Sela yang mulai tidak sabar mendengar ucapan Cika yang terbata-bata.


Cika bahkan merasa bingung untuk menjelaskan semuanya kepada Sela. Tapi suka tidak suka, Sela memang harus tau apa yang terjadi antara Cika dan sepupunya itu.


"Aldo memintaku untuk menikah dengannya." ucap Cika sedikit gugup.


"Apa? Secepat ini?" ucap Sela sambil melongo ke arah Cika.


"Iya, aku bingung." ucap Cika.


"Kamu gak mau menikah dengan Aldo?" tanya Sela.


"Aku,,,"


"Apa kamu tidak mencintai Aldo?" tanya Sela untuk memastikan.


"Bukan itu masalah nya Sel, tapi aku merasa tidak pantas saja untuk Aldo. Aldo adalah laki-laki baik, tampan, dan juga kaya. Pasti banyak sekali wanita cantik yang menginginkan nya. Sementara aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya wanita kampung yang tidak punya apa-apa." jawab Cika sambil berkaca-kaca.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Kalau Aldo memilih kamu, berarti dia serius sama kamu. Aldo itu bukanlah tipe laki-laki yang suka sama sembarangan wanita. Selama ini dia selalu menutup diri, dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain aku." ucap Sela menjelaskan.


Cika hanya terdiam, dia tau kalau Aldo adalah laki-laki yang baik. Tapi dia juga merasa tidak sepadan dengan Aldo. Dia tau diri dengan keadaannya dan dari mana dia berasal.


Tak terasa mobil yang di kemudikan oleh Sela sudah berada di depan butik. Sela ikut turun dan masuk ke butik untuk mengantarkan Cika.


"Selamat pagi, Put! Apa Tante Ara sudah datang?" tanya Sela kepada Putri karyawan di butik itu.


"Selamat pagi, Sela! Ibu belum datang. Mungkin sebentar lagi." jawab Putri dengan ramah dan di hiasi senyum di wajahnya.


"Baiklah, terimakasih!" ucap Sela.


Semua karyawan yang ada di butik pun ikut menyapa Sela dengan sopan.


Sela tidak bisa berlama-lama berada di butik. Dia harus segera ke kantor karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.


"Cika, aku tinggal gak apa-apa kan? Aku harus segera sampai di kantor." ucap Sela sambil melihat jam di tangannya.


"Iya Sel, gak apa-apa! Kamu pergi saja!" ucap Cika.


Sela berlalu meninggalkan butik dan melaju menuju kantor.


Sementara Cika duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Ara.


"Mbak Cika! Apa mbak mau minum? Biar saya buatkan." ucap Putri yang berada tidak jauh dari tempat duduk Cika.


"Gak usah Mbak, terimakasih!" ucap Cika sambil tersenyum ke arah Putri.

__ADS_1


__ADS_2